Agama Zoroaster, Kepercayaan Monoteis Pertama di Dunia yang Masih Eksis

Ada banyak agama yang dianut manusia di muka bumi ini. Di antara banyak agama, ada golongan agama langit (samawi) seperti Islam, Kristen, dan Yahudi yang meyakini adanya wahyu yang turun langsung dari Tuhan.

Jauh sebelumnya,  ternyata sudah ada ajaran agama yang membawa gagasan tentang turunnya wahyu dari Tuhan yang Maha Esa, yakni agama Zoroaster.

Ajaran agama ini juga punya kemiripan dengan Islam, karena adanya konsep surga dan neraka. Uniknya, meskipun pada awalnya muncul di Timur Tengah, tapi justru lebih berpengaruh di negara barat.

Baca juga: Sejarah Geisha, Wanita Penghibur dengan Pakaian Tradisional dan Riasan Unik

Berasal dari sosok Zarathustra dari bangsa Iran kuno yang dianggap seperti nabi

(foto: bbc)

Seperti dimuat pada A History of Zoroastrianisme oleh Mary Boyce, tidak banyak ditemukan catatan mengenai penyebarannya.

Tapi, nama Zoroaster sudah ada pada catatan dari Yunani kuno sebelum masa hidup Plato dan Alexander Agung dari Makedonia.

Agama ini berasal dari sosok Zarathustra (1.500-1.000 SM) dari Iran kuno yang dianggap seperti nabi, Zarathustra juga dikenal sebagai Zartosht di Persia atau Zoroaster di Yunani.

Selanjutnya, namanya yang  versi Yunani diabadikan menjadi keyakinan agama yang diajarkannya yaitu agama Zoroaster. Oleh bangsa Eropa Kristen, Zarathustra dipandang sebagai sosok yang ajaib, astrolog, dan filsuf setelah Renaissance.

Pada masa kejayaannya, pernah menyebar sampai ke Rusia dan sekitarnya

Agama Zoroaster, Kepercayaan Monoteis Pertama di Dunia yang Masih Eksis

(foto: soas)

Zarathustra mengaku pernah bertemu dengan Zat yang jauh lebih besar dan lebih kuat dari alam semesta seisinya, termasuk manusia.

Zat yang dimaksud adalah Ahura Mazda yang memberi wahyu dan kemudian dipuja oleh pengikutnya.

Konon pertemuan dengan Ahura Mazda membawanya pada pengalaman spiritual berbeda dari segala hal yang sudah dilihat atau dialami sebelumnya.

Setelah memiliki banyak umat, ajarannya kemudian dinamakan Zoroastrianisme atau lebih sering disebut Zoroaster saja. Para pemeluk yang meyakininya disebut Zoroastrianian.

Pada masa kejayaannya, agama ini menyebar ke beberapa Negara. Mulai dari Iran, Persia, Rusia bagian barat dan negara-negara sekitarnya seperti Uzbekistan, Kirgizstan, Kazakstan, Tajikistan, dan Turkmenistan.

Baca juga: Kisah Bus 375, Legenda Urban Paling Horor dari Jalanan Kota Beijing

Menjadi agama yang pertama kali memperkenalkan keyakinan monoteis

Agama Zoroaster, Kepercayaan Monoteis Pertama di Dunia yang Masih Eksis

(foto: tripyar)

Sebelum munculnya kepercayaan ini, orang Persia memuja para dewa dengan keyakinan Iran-Arya lama. Di periode yang sama berkembang juga keyakinan Indo-Arya baru, kemudian dikenal sebagai agama Hindu.

Ada sejumlah pertentangan antara agama baru dan praktik yang sudah biasa dilakukan masyarakat.

Agama ini membawa keyakninan bahwa hanya ada satu Tuhan saja, yakni Tuhan Kebijaksanaan yang harus disembah dan dipuja.

Beberapa ajarannya sekaligus memperkenalkan keyakinan monoteis pertama kalinya. Pada awalnya agama ini muncul di negara Iran kemudian sempat dipraktikkan di wilayah timur tengah, tapi sekarang termasuk minoritas.

Justru ada penganutnya yang menetap di kota besar misalnya New York dan London. Hingga saat ini, pengikutnya di berbagai negara di seluruh dunia adalah dua jutaan orang.

Di zaman modern, warisan agama ini justru merambah ke dunia seni dan sastra Barat. Tokoh terkenal yang menganutnya adalah penulis Voltaire dan musisi Freddie Mercury.

Bahkan beberapa nilai-nilai dalam agama ini juga terlihat pada industri otomotif seperti merk mobil Mazda dan industri hiburan berjudul Game of Thrones.

Memiliki beberapa kesamaan prinsip dengan agama samawi lainnya

Agama Zoroaster, Kepercayaan Monoteis Pertama di Dunia yang Masih Eksis

(foto: zoroaster)

Dalam agama Zoroaster, dunia adalah berumur 12 ribu tahun dan dibagi ke dalam empat periode yang berarti masing-masing tiga tahun. Periode pertama yaitu masa penciptaan alam semesta.

Periode kedua adalah masa penciptaan siang dan malam. Periode ketiga adalah momen kelahiran sosok Zarathustra yang kemudian mendapatkan wahyu.

Pada periode terakhir, muncul seorang Saoshayant yang berperan untuk menyelamatkan manusia.

Dalam konsep agama samawi, di kehidupan ini ada dua sisi yang mungkin terus berlawanan, yaitu sisi kebaikan dan keburukan, pahala dan dosa, setan dan malaikat, surga dan neraka, dan dua sisi berlawanan lainnya.

Begitu juga dalam agama ini yang cenderung hitam dan putih. Ada juga prinsip keyakinan tentang kehidupan sesudah kematian di dunia.

Untuk menuju ke tempat tertinggi atau bertemu Tuhan yang menciptakan dunia, agama ini memiliki keyakinan tentang Jembatan Cinvat. Jembatan Cinvat ini cukup mirip dengan Shiratal Mustaqim dalam Islam.