Al Idrisi, Ilmuwan Muslim yang Membuat Peta Dunia Paling Akurat

Saat belajar Geografi di sekolah, kamu pasti pernah melihat peta dan bola dunia atau globe. Dari sanalah kamu mengenal negara-negara di dunia beserta ciri khasnya masing-masing.

Sebuah peta atau bola dunia yang kamu lihat sekarang ternyata harus melewati serangkaian proses yang panjang. Bahkan dahulu, bola dunia pertama ukurannya sangat besar, terbuat dari perak dan beratnya sampai 400 kilogram.

Tidak tercipta begitu saja, peta dunia adalah hasil dari eksperimen, penjelajahan, dan pemikiran seorang ilmuwan Muslim yang bernama Al Idrisi yang hidup di abad ke-12.

Saat itu para ahli geografi Muslim sudah dikenal mampu untuk mengukur permukaan bumi dengan akurat. Peta yang mencatat informasi tempat-tempat dunia pun sudah disusun dengan lengkap.

Baca juga: Menguak Rahasia Freemason, Organisasi Misterius yang Dianggap Ingin Menguasai Dunia

Al Idrisi banyak melakukan perjalanan ke berbagai belahan dunia

(foto: bidoun)

Nama lengkapnya adalah Abu Abdallah Muhammad Al Idrisi Al-Qurtubi Al-Hasani Al-Sabti. Al Idrisi yang lahir di Spanyol pada tahun 1100 lebih dikenal dengan nama Dresses oleh bangsa Eropa.

Dalam Cartography of al-Sharif al-Idrisi, S. Maqbul Ahmad menyebutkan Al Idrisi menimba ilmu di Cordoba.

Ia sempat melakukan ekspediai ke sepanjang pantai Perancis selatan, berkunjung ke Inggris, dan melanjutkan perjalanan panjang ke Spanyol dan Moroko.

Petualangannya yang jauh melampaui batas benua menjadikan namanya semakin populer. Navigator laut dan militer Eropa mulai kenal dengan namanya.

Itulah yang membuat Raja Roger II dari Sicilia mengundangnya. Raja juga menyampaikan permintaan pada Al Idrisi untuk membuat peta dunia.

Diminta oleh Raja Roger II untuk membuat peta dunia yang lengkap

Al Idrisi, Ilmuwan Muslim yang Membuat Peta Dunia Paling Akurat

(foto: wikimedia)

Dalam suasana yang akrab, Raja Roger II menyambut Al Idrisi sebagai tamu Muslim kehormatan. Sejak pertemuan di Palermo, Sicilia tahun 1138 M, Al Idrisi menyetujuinya.

Bukan peta biasa, Raja Roger II meminta sebuah peta dunia yang lengkap dengan informasi lain seperti jalur perdagangan dan kondisi bentang alam.

Al Idrisi bersama ahli geografi lain yang jadi rekannya diizinkan membuat peta di kota Palermo.

Bukan tanpa sebab, Palermo menjadi tempat bertemunya para navigator dari Atlantik, Mediterania, dan perairan utara. Dari setiap navigator yang singgah dan istirahat di Palermo, ia jeli menggali informasi.

Dalam perjalanannya, ia mencari data geografis dunia dengan banyak cara. Untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan, ia juga bertanya ke pedagang dan wisatawan.

Baca juga: Misteri Point Nemo, Wilayah di Muka Bumi yang Paling Sulit Dikunjungi

Peta dunia karyanya dinilai paling akurat selama 300 tahun

Al Idrisi, Ilmuwan Muslim yang Membuat Peta Dunia Paling Akurat

(foto: funci)

Membuat bola dunia saat itu bukanlah hal yang mudah. Butuh pengumpulan data selama 15 tahun hingga tercipta sebuah peta globe lengkap. Berdasarkan data temuannya, Al Idrisi mengkritisi ahli geografi generasi sebelumnya.

Dari 70 lembar peta berbentuk datar yang dibuatnya, kemudian disambung ke dalam simpul yang melingkari koordinat yang dicatat di bola perak yang diameternya sekitar 80 inci serta beratnya sekitar 400 kilogram

Selain menampilkan tujuh benua, petanya juga melengkapi dengan informasi rute perdagangan, sungai,  danau, dan pegunungan.

Peta dunia karyanya kemudian menjadi bagian kemajuan sains paling tua sebelum era modern. Bahkan, peta dan bola dunianya dinilai paling akurat selama 300 tahun.

Ia juga menuliskan Tabula Rogeriana sebagai persembahan kepada Raja Roger II

Al-Idrisi, Ilmuwan Muslim yang Pertama Kali Membuat Peta Dunia

(foto: pinterest)

Tidak hanya menyelesaikan peta bumi bulat, ia juga menuis karya fenomenal Nuzhat Al Mushtaq Fikhtiraq Al Afaq yang artinya Buku Perjalanan yang Menyenangkan ke Negeri-negeri yang Jauh.

Di dalamnya berisi ensiklopedia yang memuat informasi penjelasan peta dengan lengkap dan detil.

Karyanya itu lebih banyak dikenal dengan The Book of Roger atau Tabula Rogeriana sebagai persembahannya kepada Raja Roger II.

Beberapa abad kemudian, sejumlah ahli geografi masih menjadikan karya-karya Al Idrisi sebagai acuan, meski sosoknya sudah meninggal pada tahun 1165.