Al Khawarizmi, Ilmuwan Muslim Penemu Angka Nol

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering bertemu dengan angka-angka, termasuk angka nol. Bukan hanya untuk menunjukkan kekosongan, tapi angka nol begitu penting dalam berbagai perhitungan.

Ternyata angka nol tidak muncul begitu saja, tapi melalui proses ribuan tahun baru disepakati penggunaannya oleh seluruh dunia.

Penggunaan angka nol di berbagai bidang ilmu tidak lepas dari jasa seorang cendekiawan Muslim bernama Al Khawarizmi pada abad ke-9.

Al Khawarizmi, sosok ilmuwan besar yang hidup pada masa Dinasti Abbasiyah telah menorehkan sejarah tentang penemuan angka nol dan perkembangan teori aljabar.

Baca juga : Mengenal Ishaq Al Mausili, Musisi dari Baghdad Penemu Tangga Nada

Al Khawarizmi menghasilkan karya besar setelah migrasi ke Baghdad

(foto: worldhistoryvolume)

Terlahir di Uzbekistan tahun 780 Masehi, ia memiliki nama lengkap Abu Ja’far Muhammad bin Musa Al Khawarizmi. Ia bersama leluhurnya migrasi ke daerah Qutrubulli, suatu distrik di barat Baghdad, Irak.

Ketika Baghdad jadi pusat ilmu pengetahuan pada abad 8-9 Masehi, banyak ilmuwan yang datang ke sana.

Waktu itu, Abdullah Al Makmun bin Harun Ar Rasyid atau Khalifah Al Makmun (813-833 M) dari dinasti Abbasiyah masih memimpin.

Di zaman itulah perkembangan ilmu pengetahuan di Irak sangat pesat. Bahkan karya-karya besar Al Khawarizmi juga dihasilkan di periode kepemimpinan Khalifah Al Makmun.

Mempelajari banyak ilmu di Bayt Al Hikmah

Al Khawarizmi, Ilmuwan Muslim Penemu Angka Nol yang Jadi Rujukan Ahli Matematika Dunia

(foto: iafor)

Pada masa itu berlangsung pengembangan Bayt Al Hikmah, sebuah lembaga keilmuan dan terjemahan yang didirikan pada masa khalifah Harun Ar Rasyid. Bayt Al Hikmah juga menjadi perpustakaan dan perguruan tinggi.

Kecerdasan dan dedikasi Al Khawarizmi pada ilmu pengetahuan membuka jalan bagi dirinya untuk berperan di lembaga Bayt Al Hikmah.

Di sanalah ia belajar banyak ilmu, khususnya matematika, astronomi, dan geografi. Bahkan ia sempat jadi pimpinan di perpustakaan kekhalifahan. Saat itu pihak khalifah sangat mengapresiasi karyanya.

Karyanya jadi rujukan ahli Matematika sepanjang zaman 

Al Khawarizmi, Ilmuwan Muslim Penemu Angka Nol yang Jadi Rujukan Ahli Matematika Dunia

(foto: themuslimtimes)

Dalam karyanya yang fenomenal, Al- Mukhtasar fi Hisab al-Jabr wa al- Muqabalah, ia menjelaskan tentang persamaan linear dan kuadrat yang menjadi dasar dari matematika modern, misalnya notasi kuadrat dan persamaan linear.

Karya tersebut juga dikenal dalam bahasa Inggris sebagai  The Compendious Book on Calculation by Completion and Balancing.

Di sanalah ia mengenalkan angka nol yang disebut shifr dalam bahasa Arab. Sejarawan George Sarton menyatakan Al Khawarizmi merupakan salah satu ilmuwan Muslim terbaik pada masanya.

Bukunya tentang Aljabar diterjemahkan di Inggris dengan judul The Algebra of Mohammed Ben Musa oleh Fredrick Rosen, matematikawan dari Inggris.

Sementara itu, untuk versi lainnya, ditulis oleh Gerard da Cremona dari Italia dengan judul De Jebra et Almucabola.

Baca juga : Ziryab si Burung Hitam, Seniman Muslim Multitalenta yang Menginspirasi Eropa

Bangsa Eropa awalnya tidak mengakui, malah menganggapnya angka setan

 Ilmuwan Muslim Penemu Angka Nol yang Jadi Rujukan Ahli Matematika Dunia

(foto: smithsonianmagazine)

Ribuan tahun yang lalu, peradaban Mesopotamia sebenarnya sudah menggunakan tanda spasi untuk menunjukkan angka yang tidak bernilai.

Kemudian Al Khawarizmi dengan karyanya memperkenalkan penggunaan simbol lingkaran kecil untuk mengisi kekosongan bilangan pada posisi puluhan.

Karyanya tentang aljabar mulai dikenal sampai Eropa. Namun sayangnya, masih ada anggapan bahwa nol adalah semacam kode atau angka setan.

Angka nol di daratan Eropa baru bisa diakui dan diterima luas tahun 1600-an.

Al Khawarizmi juga berkontribusi dalam ilmu Astronomi dan Geografi

 Ilmuwan Muslim Penemu Angka Nol yang Jadi Rujukan Ahli Matematika Dunia

(foto: muslimincalgary)

Selain terkenal karena penemuannya di bidang matematika, ia juga ikut berperan saat Khalifah Al Makmun ingin mengetahui lingkaran bumi.

Karyanya yang lain, Shuratul al-Ardh memperkuat argumen Ptolemaeus dan juga menuliskan peta yang lebih detil dari karya Ptolemaeus.

Dikisahkan bahwa ia menekuni semua karyanya sepanjang tahun 813 hingga 833. Ia wafat tahun 840 Masehi dan meninggalkan warisan kekayaan ilmu pengetahuan.

Hasil pemikirannya banyak bermanfaat untuk peradaban dunia sampai hari ini.