Bukit Baginde, Batu Granit Raksasa di Belitung Sejak Zaman Purba –

Pulau Belitung beberapa tahun terakhir semakin terkenal sejak film Laskar Pelangi melejit di Indonesia.

Bukan hanya menampilkan keindahan pantai yang eksotis, tapi juga bebatuan dan air jernih di sekelilingnya.

Selain keindahan di pesisirnya, ternyata Pulau Belitung masih memiliki destinasi lain yang indah dan sayang dilewatkan seperti Bukit Baginde.

Batu Baginde adalah bukit batu granit yang tingginya sekitar 250 m dari tanah.

Lokasinya adalah di Membalong, Kecamatan Padang Kandis, Kabupaten Belitung atau sekitar 70 km dari Tanjungpandan.

Uniknya, batu-batunya dianggap berjenis kelamin dan tentunya dikaitkan dengan kisah legenda di zaman dahulu.

Baca juga: Riley Day Syndrome, Penyakit Langka Bisa Bikin Kebal Rasa Sakit

Masyarakat menganggapnya berjenis kelamin dan punya kekuatan ajaib

(foto: pinterest)

Batu Baginde termasuk batuan raksasa yang tampak menjulang tinggi di wilayah selatan Belitung.

Baginde terdiri atas dua batu berukuran besar yang disebut-sebut menjadi lambang pasangan laki-laki dan perempuan.

Itulah salah satu hal yang menjadikannya unik karena batu dianggap memiliki jenis kelamin.

Batu pertama memiliki ukuran tinggi kurang lebih 150 m dan batu yang kedua memiliki ukuran yang lebih kecil dan tingginya kurang lebih 50 m.

Masyarakat sekitar meyakini bahwa dua batu tersebut, selain berjenis kelamin, juga berkekuatan magis atau ajaib.

Nama Baginde asalnya dari kata Baginda. Sebagai batu yang memang terbesar di Belitung, masyarakat pun menamainya seperti seorang raja.

Juga memiliki kisah legenda asal usul yang cukup mengakar di masyarakat

Bukit Baginde, Batu Granit Raksasa di Belitung sejak Zaman Purba

(foto: indonesiakaya)

Diperkirakan bahwa Batu Baginde sudah terbentuk sejak zaman purba, yaitu sekitar 350 jutaan tahun lalu.

Bukan hanya bagian dari alam, tapi batu tersebut juga punya kisah legenda atau asal-usul terkait bagaimana awalnya batu yang sebesar itu berada di atas gunung.

Konon dikisahkan bahwa dahulu ada sosok raksasa yang membawa kapalnya berlabuh di daerah Belitung.

Supaya kapal tidak terhanyut, raksasa pun mengaitkan kapal di gunung dengan batu-batu besar.

Karena nuansa magis itulah, konon lokasi di sekitarnya pernah dijadikan untuk tempat mencari pesugihan.

Memang sebagian masyarakat tidak percaya dengan kekuatan dari pesugihan, tapi praktik seperti itu sudah ada sejak ratusan tahun.

Baca juga: Perbedaan Motif Tie Dye dan Shibori, Serupa Tapi Tak Sama

Punya banyak kandungan batu adamelit dan bisa terlihat pemandangan Belitung selatanĀ 

Bukit Baginde, Batu Granit Raksasa di Belitung sejak Zaman Purba

(foto: belitonggeopark)

Dari daerah sekitar bukit bisa terlihat pemandangan Belitung dari sudut berbeda.

Tidak seperti daerah Belitung utara yang memang didominasi batuan granit, misalnya Pantai Tanjung Tinggi dan Pantai Tanjung Kelayang.

Belitung selatan batuan yang dominan adalah batuan adamelit, khususnya adamelit Baginda.

Perbedaan antara batu granit dan adamelit yaitu kandungan mineral kuarsa yang cenderung lebih banyak dari batu granit.

Uniknya, di sekitar Batu Baginde masih ada batu adamelit yang posisinya miring padahal tidak ditahan oleh apapun.

Menurut logika biasanya, batu dengan posisi miring di atas gunung semestisnya mudah jatuh, tapi kenyataannya tetap bertahan di tempatnya.

Jelas bahwa hal tersebut dari tahun ke tahun menjadi magnet tersendiri untuk wisatawan yang datang.

Bukit Baginde juga cocok untuk tempat panjat tebing. Tempat seperti ini tampaknya memang cocok untuk turis yang suka petualangan dan tertarik dengan tantangan.

Perjalanan menuju puncaknya tidak mudah, tapi akan memberi kesan istimewa

Bukit Baginde, Batu Granit Raksasa di Belitung sejak Zaman Purba

(foto: triptrus)

Dari kota Tanjungpandan, wisatawan bisa mengikuti jalan arah selatan untuk sampai di Bukit Baginde.

Perjalanan ke puncak biasanya dilalui dengan hiking yang ringan dan dilanjutkan memanjat batu besar.

Agar bisa sampai di puncak, para pengunjung perlu sedikit perjuangan naik batu-batuan ademelit yang tinggi.

Dengan medan yang berat, pastikan pendatang didampingi tour guide yang sudah berpengalaman. Di jalur tanjakan bukit telah tersedia tangga dan juga tali untuk dipakai pegangan.

Tapi karena bentuk batu yang besar sekaligus curam, maka tempat wisata tersebut cukup berisiko dan berat dilalui oleh anak-anak.

Orang dewasa pun butuh stamina yang kuat untuk sampai di puncak.

Perjalanan berat akan terbayar ketika sudah berhasil mencapai puncaknya.

Bahkan sebagian orang akan merasakan suatu pengalaman spiritual ketika telah berhasil sampai di puncak sambil melihat Belitung dari ketinggian.