Cerita Rakyat Malin Kundang, Kutukan untuk Anak Durhaka

Saat masih kecil, mungkin kamu sudah pernah tahu cerita rakyat Malin Kundang. Sampai sekarang, tidak jarang bahwa cerita ini masih sering dibawa-bawa dalam obrolan sehari-hari yang berkonotasi sebagai anak durhaka.

Dongeng ini adalah cerita rakyat dari Sumatra Barat yang menceritakan seorang anak durhaka dan kemudian terkutuk jadi batu.

Meskipun hanyalah kisah fiktif yang menyebar melalui tradisi lisan, ceritanya masih tetap relevan untuk diceritakan.

Cerita-cerita seperti ini sangat dibutuhkan untuk mengasah imajinasi anak dan juga memberi gambaran tentang sikap baik dan buruk.

Baca juga: Sifat Jaiz dan Mustahil Rasul, Umat Islam Wajib Tahu

Pada awalnya Malin Kundang adalah anak yang menurut pada ibunya

(foto: permainan-bocah)

Malin Kundang tinggal dengan ibunya yang bernama Mande Rubayah, di daerah kampung nelayan Pantai Air Manis, Sumatera Barat.

Sejak kecil ia sangat disayangi dan dimanjakan oleh ibunya. Ia adalah anak yang baik dan penurut.

Saat sudah tua, ibunya bekerja menjual kue agar bisa mencukupi kebutuhan hidup. Malin Kundang sempat sakit parah, tapi pada akhirnya bisa diselamatkan, karena ibunya bekerja keras.

Begitu sembuh, sang ibu semakin memanjakannya. Hari demi hari pun terlewati dan Malin Kundang pun menjadi semakin dewasa dan sudah berniat untuk merantau.

Malin Kundang beranjak dewasa dan ingin merantau untuk mengubah nasib

Cerita Rakyat Malin Kundang, Kutukan untuk Anak Durhaka

(foto: permainan-bocah)

Ketika beranjak dewasa, ia minta izin pada sang ibu untuk merantau jauh ke kota dengan menumpang kapal besar di Pantai Air Manis.

Ibunya melarang karena takut akan terjadi suatu hal yang tidak diinginkan di tanah rantau.

Ibunya meminta untuk menetap di kampung halaman karena usia sang ibu makin tua. Melihat ibunya sedih, ia berusaha menenangkan dan percaya bahwa tidak ada yang harus dikhawatirkan.

Sambil menggenggam tangan sang ibu, ia mengatakan bahwa kepergiannya akan bisa mengubah nasib. Dengan berat hati ibunya mengizinkannya untuk pergi merantau sambil membawakan bekal nasi.

Akhirnya sang ibu mengizinkan dan menyuruhnya cepat kembali. Meskipun dengan hati yang berat akhirnya ibunya melepas kepergiannya dengan air mata.

Baca juga: Misteri Megalodon, Spesies Hiu Terbesar yang Pernah Ada di Bumi

Ibunya terus berharap agar Malin Kundang memberi kabar dari perantauan

Cerita Rakyat Malin Kundang, Kutukan untuk Anak Durhaka

(foto: permainan-bocah)

Setelah Malin Kundang pergi, ibunya merasa bahwa hari-harinya terasa sangat lambat. Setiap hari, khususnya pagi dan sore sang ibu memandangi laut dan mendoakan agar anaknya selamat dan juga cepat kembali.

Ketika ada kapal datang dan merapat, yang ditanyakan adalah kabar tentang anaknya.

Setiap pertanyaan ke nahkoda atau awak kapal tidak mendapat jawaban karena Malin Kundang tidak menitipkan pesan atau apapun pada ibunya.

Malin Kundang tampaknya memang terlena dengan kehidupan yang dijalaninya sampai tidak ingat dengan ibunya yang semakin tua renta dan jalannya mulai bungkuk.

Suatu hari ada kabar melalui nakhoda yang menyampaikan kepada ibunya bahwa Malin Kundang sudah menikahi gadis cantik dan juga putri bangsawan kaya raya.

Antara senang dan sedih, ibunya tetap berharap anaknya pulang.

Malin Kundang kembali ke kampung halaman, tapi tidak mengakui ibunya

Cerita Rakyat Malin Kundang, Kutukan untuk Anak Durhaka

(foto: permainan-bocah)

Tidak lama berselang, ada kapal besar dan mewah berlayar ke pantai.

Penduduk kampung menyambutnya, dan di sana tampak pasangan muda yang berdiri di anjungan. Penduduk yang berkumpul mengira bahwa kapal yang datang milik sultan atau pangeran dari seberang.

Mande Rubayah ikut gembira dengah hal itu. Kapal semakin dekat ke pantai dan terlihalah orang yang pakaiannya berkilauan karena cahaya matahari.

Sebagai seorang ibu, Mande Rubayah cukup peka dengan anaknya. Meski telah banyak berubah, sang ibu yakin bahwa yang datang adalah anaknya.

Sambil menahan isakan tangis gembira, sang ibu menanyakan mengapa lama tidak mengirim kabar.

Ternyata anaknya tidak mau mengakui ibunya dan justru menendang sampai tersungkur di pasir. Istrinya pun kaget dan tidak percaya melihat sifat suami yang sebenarnya.

Karena disakiti anak sendiri, sang ibu memohon agar Tuhan memberi keadilan. Beberapa saat kemudian, langit gelap dan turun hujan badai sampai menghancurkan kapal berkeping-keping.

Keesokan harinya, ditemukan bahwa Malin Kundang sudah terkutuk menjadi batu.