Dianggap Pemanggil Setan, Lagu Lingsir Wengi Punya Makna Mendalam

Pernahkah kamu mendengar lagu Lingsir Wengi? Lagu berbahasa Jawa yang satu ini memang legendaris. Banyak yang menganggapnya menakutkan.

Apalagi kalau diputar saat tengah malam dan di tempat sepi. Konon setiap alunan nadanya terasa seperti untuk memanggil makhluk halus.

Walaupun tidak memahami maknanya, banyak orang yang langsung merinding mendengarnya.

Baca juga: Mengenal Istilah Thrift, Thrifting, dan Thrift Shop Serta Perbedaannya

Lirik lagu Lingsir Wengi yang paling populer berisi tentang perasaan cinta

(foto: pexels)

Sebenarnya ada beberapa versi dari lirik lagunya, tapi inilah yang paling populer dan mungkin membuatmu berpikir ulang kalau Lingsir Wengi menakutkan.

Lingsir wengi. Sepi durung biso nendro. Kagodho mring wewayang. Kang ngreridhu ati.

Kawitane. Mung sembrono njur kulino. Ra ngiro yen bakal nuwuhke tresno.

Nanging duh tibane aku dewe kang nemahi. Nandang bronto. Kadung loro. Sambat-sambat sopo.

Rino wengi. Sing tak puji ojo lali. Janjine mugo biso tak ugemi.”

Jika liriknya diterjemahkan ke bahasa Indonesia, jadinya seperti ini.

Menjelang tengah malam. Sepi tidak bisa tidur. Tergoda bayanganmu. Yang ada di hatiku.

Awalnya. Hanya bercanda kemudian terbiasa. Tidak mengira akan tumbuh cinta.

Tapi kalau sudah saatnya diriku sendiri yang menghadapi.

Menderita sakit. Terlanjur cinta harus mengeluh pada siapa.

Siang malam. Yang aku cintai jangan lupa. Janjinya semoga bisa kupegang.”

Awalnya diciptakan Sunan Kalijaga untuk berdakwah di tengah masyarakat Jawa

Dianggap Pemanggil Setan, Lagu Lingsir Wengi Punya Makna Mendalam

(foto: pixabay)

Dalam bahasa Jawa, lingsir artinya berganti, sedangkan wengi artinya malam. Jadi, makna lingsir wengi adalah proses bergantinya sore menjadi malam.

Setelah melihat artinya di atas, benarkah lagu Lingsir Wengi memang horor dan dibuat untuk memanggil setan?

Ada baiknya kita temukan sejarahnya terlebih dahulu. Lingsir Wengi pada awalnya diciptakan untuk media dakwah oleh Sunan Kalijaga, salah satu Wali Songo yang tidak asing lagi bagi umat Islam di Indonesia, khususnya di Jawa.

Sunan Kalijaga, sebagaimana tokoh Wali Songo lain, memanfaatkan seni untuk berdakwah. Selain tembang Jawa, tampaknya gamelan dan wayang cukup berhasil menjadi media dakwah Sunan Kalijaga pada abad ke-15.

Banyak masyarakat yang menerima dakwahnya, karena dirasa akrab dengan budaya lokal yang belum mengenal bahasa Arab.

Lagu Lingsir Wengi merupakan sebuah bentuk doa penolak bala yang dilantunkan oleh Sunan Kalijaga sesudah salat malam.

Baca juga: Sejarah Sandal Jepit, Dipakai Bangsa Mesir Kuno Sejak Ribuan Tahun

Judul aslinya Rumeksa Ing Wengi yang bertujuan untuk perlindungan di malam hari

Dianggap Pemanggil Setan, Lagu Lingsir Wengi Punya Makna Mendalam

(foto: wallpaperup)

Tidak sama seperti lirik yang populer di masyarakat, lagu ayang diciptakan Sunan Kalijaga memiliki judul asli Rumeksa Ing Wengi atau perlindungan di malam hari dan lebih dikenal sebagai kidung.

Masyarakat ternyata justru lebih mengenalnya dengan Lingsir Wengi. Selain doa penolak bala, Lingsir Wengi ciptaan Sunan Kalijaga juga dikenal dengan Mantra Wedha atau doa untuk penyembuhan yang dilantunkan di malam hari.

Malam hari sebagai waktu tidur dipercaya sebagai momen yang tepat untuk beristirahat, refleksi diri, dan mendapatkan kekuatan kembali.

Berbeda dengan lirik Lingsir Wengi yang terkenal, kidung ciptaan Sunan Kalijaga lebih panjang dan disusun dengan ritme tembang Jawa Macapat Dhandanggula.

Setelah memahami arti sebenarnya, semoga tidak takut lagi saat mendengarnya

Dianggap Pemanggil Setan, Lagu Lingsir Wengi Punya Makna Mendalam

(foto: pixabay)

Berdasarkan buku Sunan Kalijaga: Mistik dan Makrifat yang ditulis Achmad Chodjim, inilah penggalan awal bait kidung Rumeksa Ing Wengi karya Sunan Kalijaga yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Ada kidung rumeksa ing wengi. Yang menjadikan kuat selamat dan bebas dari segala penyakit. Bebas dari semua petaka. Setan dan jin pun tak mau. Segala macam sihir tak berani. Apalagi tindakan kejahatan. Guna-guna menyingkir. Api jadi air. Pencuri jauh dariku. Semua bahaya pun akan lenyap…”

Pada bait awal terlihat jelas inti dari doa yang diharapkan, terutama tentang perlindungan serta penyembuhan seperti Ayat Kursi dalam Alquran yang diyakini bisa melindungi dari malapetaka.

Tapi, Sunan Kalijaga mengajarkannya kepada masyarakat dalam bahasa Jawa untuk dilantunkan saat malam hari.

Mungkin sampai sekarang banyak yang baru tahu tentang makna lagu Lingsir Wengi yang sebenarnya punya makna mendalam. Semoga setelah ini tidak takut lagi saat mendengar lagunya.