Fenomena Pulung Gantung, Bola Langit dan Mitosnya yang Terkait Kematian

Di balik sebuah peristiwa alam, masyarakat sering menghubungkannya dengan fenomena tertentu. Contohnya adalah pulung gantung di Pulau Jawa yang dikaitkan dengan kematian.

Pulung gantung terlihat seperti bintang jatuh atau bola api bercahaya dan punya ekor. Warnanya cenderung kemerah-merahan.

Bukan benda langit biasa, tapi pulung gantung dianggap sebagai jelmaan makhluk jahat yang turun ke bumi. Konon orang yang rumahnya kejatuhan pulung gantung, tak lama lagi akan ditemukan tewas gantung diri.

Baca juga: Medusa, Makhluk Mitologi Berambut Ular yang Terkena Kutukan Dewi Athena

Mitos pulung gantung sudah melekat begitu lama di masyarakat Gunungkidul

(foto: dailynews)

Misteri ini memang masih menjadi hal yang belum sepenuhnya terungkap. Khususnya tentang fakta bahwa konon orang yang melihatnya akan terdorong untuk mengakhiri hidup. Mitosnya banyak beredar di daerah Gunungkidul Yogyakarta.

Menurut sejumlah saksi, fenomena ini terlihat seperti bola api atau banaspati. Bukan benda langit seperti meteor dan komet, melainkan benda kiriman pada praktik perdukunan.

Belum sepenuhnya terjawab apakah benar orang yang bunuh diri setelah melihat pulung gantung karena jadi korban ilmu hitam.

Yang pasti keberadaan mitosnya di masyarakat Gunungkidul sudah melekat begitu lama. Masyarakat Gunungkidul juga menjalani sejumlah tradisi dan ritual agar terhindar dari hal yang tidak diinginkan.

Penduduk berkumpul memukul kentongan untuk mengusir pulung gantung

Fenomena Pulung Gantung, Bola Langit dan Mitosnya yang Terkait Kematian

(foto: leclife)

Pernah ada penduduk desa yang melihat pulung gantung kemerahan jatuh di atas rumah tetangga. Konon bentuknya agak mirip gayung, berwarna mencolok bagaikan cahaya lampu neon, dan turunnya sekitar pukul sembilan malam.

Kemudian penghuninya ada yang gantung diri beberapa hari kemudian. Setiap ada yang melihat fenomena seperti itu, penduduk segera memukul kentongan.

Setelah itu pulung gantung menghilang. Seperti dilansir BBC Indonesia, penduduk Gunungkidul di pedesaan memiliki sebuah tradisi untuk menangkal kejadian ini.

Para penduduk berkumpul untuk menabuh kentongan dan lesung atau lumbung padi beberapa hari agar roh jahat dalam pulung gantung pergi.

Selama tiga hari penduduk membunyikan kentongan dan lesung. Setelah itu pulung gantung dianggap sudah lenyap dari desa, sehingga peristiwa bunuh diri bisa dicegah.

Baca juga: Al Naslaa, Batu Besar yang Tampak Terbelah Lurus Jadi Dua

Tidak ada jejak asap seperti pada fenomena benda langit meteor dan komet

Fenomena Pulung Gantung, Bola Langit dan Mitosnya yang Terkait Kematian

(foto: wjay)

Jadi sebenarnya pulung gantung itu sejenis benda apa? Sebagai informasi, pulung sebenarnya ada juga yang membawa kebaikan. Pada umumnya berwarna biru.

Selain menyangkut mitos bunuh diri, pulung juga dipercaya beberapa masyarakat tradisional yang akan menyelenggarakan pemilihan kepala desa.

Konon rumah yang terlihat dilewati oleh pulung warna biru, akan memenangkan pemilihan.

Menurut pihak Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) bola api pulung gantung yang dikaitkan dengan kemungkinan ilmu hitam sebenarnya bukanlah fenomena alam seperti meteor.

Yang pernah terjadi di Indonesia adalah berasal dari tembakan suar (flare gun). Saat diamati, bola api jatuhnya dengan kecepatan rendah dan tidak ada jejak asap.

Berbeda sekali dengan benda langit yang cenderung memiliki kecepatan tinggi ketika jatuh ke bumi.

Bukan hanya fenomena alam, tapi juga terkait dengan tradisi di lingkungan masyarakat

Fenomena Pulung Gantung, Bola Langit dan Mitosnya yang Terkait Kematian

(foto: theconversation)

Sejumlah akademisi di Indonesia pun meneliti kebenaran tentang pulung gantung.  Tidak ada bukti bahwa munculnya fenomena benda langit bisa memicu kematian penduduk.

Khususnya peristiwa gantung diri sebenarnya fenomena sosial yang perlu mendapat perhatian khusus.

Ada sebab lain yang jadi pendorong seseorang mengakhiri hidup, yaitu pengaruh lingkungan masyarakatnya dan kondisi mental individu.

Merebaknya fenomena ini kemudian secara bertahap menjadikan pemerintah setempat untuk mengedukasi masyarakat.

Tujuannya agar tradisi dan kearifan lokal berjalan seimbang dengan pemahaman tentang alam maupun diri sendiri.