Hongcun, Desa Kuno di China yang Berusia 900 Tahun

Desa yang terlihat seperti sebuah negeri dongeng ini namanya Desa Hongcun. Hong berarti hebat, besar, atau megah. Cun berarti desa.

Secara geografis, posisinya ada di sebelah kaki Gunung Huangshan, Provinsi Anhui, China.

Kehidupan di desa unik ini usianya sudah sekitar 900 tahun, bahkan lebih. Terkenal karena pemandangannya yang menakjubkan, Hongcun menjadi salah satu tujuan wisata favorit di Negeri Tirai Bambu.

Sebagai desa kuno yang menyimpan warisan nenek moyang, ciri khas bangunannya tidak banyak berubah. Gaya arsitekturnya dari luar memang terlihat kuno tapi interiornya sudah dipercantik dan dijaga kebersihannya.

Baca juga: Mengenal Pohon Nothofagus di Papua, Jadi Sorotan UNESCO

Menjadi warisan budaya yang diakui UNESCO

(foto: chinadaily)

Selain arsitekturnya tetap menjaga kearifan lokal, bahan material bangunannya pun masih orisinal. Masyarakat di desa kuno ini dahulu pernah jadi saksi kepemimpinan Dinasti Qing dan Dinasti Ming.

Tidak hanya fokus pada keindahannya saja, tapi desa ini juga memperhatikan lingkungan. Ada saluran air yang masih bekerja secara tradisional.

Salurannya kecil-kecil tapi mengalir dengan muara ke kolam besar. Tata letak bangunan desa memang sengaja disusun agar selaras dengan alam.

Karena masih memelihara kearifan lokal hingga ratusan tahun, desa ini menjadi warisan salah satu warisan dunia dan Tercatat pada The World Cultural Heritage Site UNESCO, tahun 2000.

Memiliki kolam besar dan danau yang seperti cermin

Seperti di Negeri Dongeng, Desan Hongcun China Ini Sudah Berusia 900 Tahun

(foto: medmeeting)

Setiap sudut desa tertata seperti labirin yang rapi dan ada gang-gang kecil di antara setiap bangunannya.

Di tengah suasana indah desa Hongcun, ada sebuah kolam besar yang oleh masyarakat setempat disebut Kolam Bulan (Moon Pond) di pusat desa.

Saat malam tiba, lampion-lampion merah menyala. Selain jadi sumber cahaya di sepanjang jalan, juga menambah suasana romantis.

Lain lagi kalau pagi. Pemandangan pagi hari pun menentramkan karena ada air danau yang tak bergelombang.

Air danau seolah jadi cermin raksasa yang memantulkan pesona bangunan bersejarah, rumah tua eksotis, dan pohon-pohon hijau.

Tentu saja ini sangat menarik untuk diabadikan ke dalam sebuah foto. Tidak hanya menarik difoto, tapi pesona Hongcun bersama dengan kaki gunung Huangshan (Yellow Mountain) juga sering menjadi objek favorit pelukis China.

Baca juga: Parade Kuda Kosong, Kesenian Cianjur yang Bernilai Sejarah

Untuk masuk ke sini kamu akan dikenakan biaya 

Seperti di Negeri Do ngeng, Desan Hongcun China Ini Sudah Berusia 900 Tahun

(foto: xinhuanet)

Terletak di Huizhou, kurang lebih 480 km barat daya Shanghai, Desa Hongcun bisa ditempuh melalui perjalanan darat dari Stasiun Huangshan.

Jika ada budget lebih, juga ada pilihan transportasi mobil sewaan. Yang pasti, untuk menikmati suasana Desa Hongcun, ada tiket masuknya.

Untuk kunjungan wisata, pengelola desa memungut biaya sekitar Rp 210.000. Tiket tersebut berlaku sampai maksimal tiga hari.

Karena keindahan dan nuansa kunonya, desa ini sering menjadi tempat syuting film 

Seperti di Negeri Do ngeng,

(foto: hollywoodreporter)

Pemandangan dan warisan budaya desa ini memang membuat takjub, tapi ternyata ada sesuatu yang menjadikan tempat ini makin terkenal.

Desa Hongcun juga sempat jadi tempat syuting film terkenal Crouching Tiger, Hidden Dragon (2000).

Film yang disutradarai Lee Ang ini memenangkan penghargaan Academy Awards, sebagai Best Foreign Film, Best Cinematography, Best Original Score, dan Best Art/Set Direction. Berkat prestasi film ini, Desa Hongcun menjadi lebih populer di mata dunia.

Desa Hongcun masih akan terus merawat keunikannya. Penduduk Hongcun yang rata-rata bedagang masih mempertahankan tradisi leluhur.

Meski sejumlah keluarga tetap tinggal di lingkungan Hongcun, mereka tidak menutup diri dari dunia luar. Hanya saja, beberapa warganya tidak ingin melepaskan cara hidup mereka yang lama.

Memang ada banyak desa wisata di setiap daerah di dunia, tapi tidak banyak yang warga lokalnya masih mempertahankan cara hidup seperti nenek moyangnya.