Jarang Diketahui, Selawat Badar Diciptakan untuk Menghadapi PKI

Umat Islam di Indonesia pastinya tidak asing lagi dengan beragam bacaan selawat nabi. Salah satu yang paling terkenal adalah selawat badar.

Selawat yang berisi tentang pujian pada Nabi Muhammad SAW ini sering dilantunkan di acara-acara pengajian atau majelis taklim.

Ada banyak hikmah dan nilai-nilai kebaikan yang disampaikan di dalamnya, misalnya sebagai sumber perantara saat meminta pertolongan pada Allah dan washilah pada Rasulullah SAW.

Yang menjadikannya istimewa bukan hanya syair atau maknanya yang begitu sakral, tapi juga tentang awal mula penciptaannya oleh seorang ulama yaitu Kiai Ali Mansur. Begini kisah selengkapnya.

Baca juga: Mengenal Basa Arekan, Dialek Jawa Suroboyoan yang Terkesan Lebih Tegas

Berawal dari kegelisahan Kiai Ali Mansur karena kekejaman PKI

(foto: pinterest)

Mungkin sebelumnya banyak yang mengira kalau selawat badar adalah ciptaan dari ulama Timur Tengah. Jarang diketahui bahwa selawat yang satu ini adalah karya orang Indonesia.

Syairnya pertama kali disusun tahun 1962 oleh seorang ulama asal Banyuwangi, yakni Kiai Ali Mansur.

Kiai Ali Mansur merupakan cucu dari Kiai Muhammad Shiddiq Jember dan juga keponakan dari Kiai Ahmad Qusyairi seorang ulama besar yang menulis kitab Tanwir Al Hijja.

Pada saat Selawat Badar diciptakan, Indonesia masih dalam suasana yang mencekam lantaran tindakan kejam PKI (Partai Komunis Indonesia).

Kiai Ali Mansur yang masih jadi pengurus di organisasi NU dan juga Kepala Kantor Departemen Agama di Banyuwangi mengalami keresahan pada masyarakat.

Apalagi kekejaman dan fitnah PKI semakin menjadi-jadi ketika banyak kiai yang ikut menjadi korban kejamnya PKI.

Mendapat petunjuk melalui mimpi bertemu sosok berjubah putih

Jarang Diketahui, Selawat Badar Diciptakan untuk Menghadapi PKI

(foto: pinterest)

Kondisi negeri yang mencekam membuat Kiai Ali Mansur ingin melakukan sesuatu melalui keahliannya dalam hal menulis syair dan bait selawat nabi.

Tujuannya adalah sebagai sarana untuk munajat dan memohon pertolongan dari Allah.

Konon, suatu malam saat sedang menuliskan syair, Kiai Ali Mansur sampai tertidur dan mimpi didatangi oleh sosok yang memakai jubah putih dan hijau. Istrinya pun mimpi bertemu dengan Nabi Muhammad SAW.

Kiai Ali Mansur lalu menanyakan tentang mimpinya kepada Habib Hadi Al Haddar di Banyuwangi. Habib pun menjelaskan bahwa orang berjubah dalam mimpi adalah para pejuang di perang Badar.

Kiai Ali Mansur lebih bersemangat untuk menuliskan syair yang berkaitan dengan pejuang perang Badar.

Setelah liriknya selesai ditulis, banyak tetangga yang datang ke rumah

Jarang Diketahui, Selawat Badar Diciptakan untuk Menghadapi PKI

(foto: republika)

Tidak butuh waktu lama, di malam hari berikutnya syair telah selesai ditulis. Syairnya kemudian diberi nama Sholawat al Badriyyah atau lebih dikenal dengan Sholawat Badar dengan lirik seperti ini.

Sholaatullaah salaamullaah. Alaa Thooha rosuulillaah

Sholaatullaah salaamullaah. Alaa Yaasin habiibillaah

Tawassalna bi Bismillaah. Wabil Haaadi Rosulillaah

Wakulli mujaahidin lillaah. Bi ahlil badri yaa Allaah

 Ilaahi sallimi ummah. Minal aafaati wannigmah

Wa min hammin wa min ghummah. Bi ahlil badri yaa Allaah

 Ilaahi-ghfir wa akrimna binaili mathoolibin minna

Wadafi masaa-ati ‘anna. Bi ahlil badri yaa Allaah

Peristiwa ajaib tidak hanya tentang mimpi di malam hari sebelumnya, karena di esok harinya para tetangga mendatangi rumahnya dengan membawa banyak bahan makanan selayaknya orang yang akan punya hajat.

Baca juga: Kisah Nabi Hud, Kaumnya Dibinasakan dengan Angin Kencang

Tiba-tiba ada rombongan para habib dari Jakarta ke rumah Kiai Ali Mansur

Jarang Diketahui, Selawat Badar Diciptakan untuk Menghadapi PKI

(foto: pinterest)

Para tetangga yang datang membawa makanan pun bercerita bahwa pada waktu pagi buta, mereka didatangi oleh orang yang memakai jubah putih dan memberitahu bahwa di kediaman Kiai Ali Mansur akan digelar acara besar dan masyarakat diminta untuk membantu.

Mereka kemudian membantu menurut kemampuan masing-masing.

Kiai Ali Mansur masih saja bingung tentang siapa sebenarnya sosok berjubah putih yang mendatangi rumah penduduk.

Seperti yang tertulis dalam buku Antologi NU, pada malam harinya banyak yang bekerja di dapur dan menyambut kehadiran tamu.

Kejutan masih belum selesai karena pagi hari keesonak harinya ada rombongan habib yang dipimpin oleh Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi dari Kwitang, Jakarta.

Para habib yang datang ke rumah Kiai Ali Mansur memakai jubah putih dan hijau.

Dibacakan dan dilantunkan pertama kali di depan para ulama besar

Jarang Diketahui, Selawat Badar Diciptakan untuk Menghadapi PKI

(foto: umma)

Pada kunjungan tersebut, terjadilah sebuah perbincangan dan juga ceramah agama.

Selesai ceramah dan sapaan untuk berbasa-basi, Habib Ali Kwitang tiba-tiba menanyakan sesuatu yang mengejutkan, yaitu tentang syair yang dibuat kemarin.

“Tolong bacakan dan lagukan di hadapan kami-kami ini,” demikian kata Habib Ali Kwitang kepada Kiai Ali Mansur.

Kiai Ali Mansur bingung karena belum ada seorang pun yang tahu tentang syair selawat yang dibuat tempo hari.

Tapi kemudian memaklumi karena mungkin saja hal tersebut adalah karamah dari Allah kepada Habib Ali Kwitang yang merupakan ulama besar yang sangat dihormati sebagai waliyullah. 

Selawat Badar yang dilantunkan Kiai Ali Mansur membuat para habib pun terharu kemudian menyampaikan satu hal.

Bahwa selawat Badar bisa menjadi kekuatan untuk melawan PKI yang punya lagu khusus untuk propaganda, yaitu Genjer-genjer. Sampai sekarang selawat Badar masih berkumandang di seluruh negeri.