Jembatan Stari Most, Saksi Bisu Perang Antar Etnis di Bosnia-Herzegovina

Kesultanan Ottoman sempat menguasai Eropa lebih dari enam abad yaitu antara tahun 1299 sampai 1923. Meskipun masa kejayaan sudah berlalu, tapi jejak yang ditinggalkan tetap abadi.

Salah satu bukti peninggalan Kesultanan Ottoman adalah jembatan Stari Most di kota Mostar, Bosnia.

Sebagai landmark kota yang terkenal, lokasinya menjadi favorit turis internasional. Di balik bangunannya yang ikonik, ternyata ada sejarah kelam yang menyertai.

Baca juga: Illuminati, Kelompok Rahasia yang Dikaitkan dengan Konspirasi di Dunia

Dibangun untuk menghubungkan dua kota yang dihuni oleh etnis berbeda

(foto: pinterest)

Mostar pada abad ke-15 adalah sebuah kota kecil yang dialiri Sungai Neretva dan terhubung oleh jembatan kayu.

Sultan Sulaiman dari Ottoman pada tahun 1556 memerintah untuk membangun sebuah jembatan baru yang lebih kuat.

Rancangan jembatan terdiri atas satu bentuk lengkungan. Lengkungannya terbuat dari bahan batu kapur yang disebut tenelija.

Ukuran lebarnya 30 m, tingginya 24 m, dan panjangnya 29 m. Pada bagian barat dan bagian timur ada dua bangunan berupa benteng sebagai gerbang untuk masuk dan keluar jembatan.

Jembatan ini menghubungkan kota bagian barat yang kebanyakan didiami etnis Kroasia dan kota bagian timur yang menjadi tempat tinggal etnis Bosnia.

Konstruksinya sangat kuat, sehingga masih berdiri selama ratusan tahun

Jembatan Stari Most, Saksi Bisu Perang Antar Etnis di Bosnia-Herzegovina

(foto: bohemian-socialite)

Jembatan ini diberi nama sesuai karakteristiknya yang memang merupakan jembatan tua. Stari berarti tua dan Most berarti jembatan. Kadang juga disebut Jembatan Mostar lantaran posisinya berada di Kota Mostar.

Jembatan yang dibangun oleh arsitek Mimar Hayrudin, butuh waktu 9 tahun untuk bisa selesai.

Dengan jembatan baru, para penduduk yang menyeberangi sungai untuk pergi berdagang pun lebih aman. Perekonomian juga akan menjadi lebih baik.

Mimar Hayruddin sempat diancam akan dieksekusi kalau sampai jembatannya runtuh setelah kayu penopangnya diambil.

Konon Hayruddin sempat pesimis dan merasa bahwa hidupnya akan segera berakhir, maka ia gali sendiri tanah kuburannya.

Walau ternyata ketika kayu penyangga dibuang, jembatan masih berdiri sampai 425 tahun kemudian. Jelas bahwa konstruksi jembatan ini sangat kuat.

Baca juga: Casapueblo, Hotel Unik yang Dibangun dengan Tangan Selama 36 Tahun

Sudah berdiri kokoh, tapi sempat dihancurkan ketika ada perang antar etnis

Jembatan Stari Most, Saksi Bisu Perang Antar Etnis di Bosnia-Herzegovina

(foto: viator)

Keberadaannya  adalah simbol negara Bosnia sejak ada konflik yang berlangsung di awal tahun 1990-an.

Meskipun sudah dibangun sangat kuat, ternyata Jembatan ini bernasib malang saat terjadi perang etnis di Bosnia dan Herzegovina tahun 1992-1995.

Tanggal 9 November 1993, pihak Kroasia menghancurkan bangunan jembatan sampai jatuh ke dalam sungai Naretva. Padahal sungai merupakan sebuah simbol multikultural yang terus bertahan sekian lama.

Karena sangat tragis, masyarakat internasional pun memberi perhatian besar insiden hancurnya jembatan yang bernilai historis ini.

Setelah hancur, jembatan dibangun lagi dengan bentuk yang sama

Jembatan Stari Most, Saksi Bisu Perang Antar Etnis di Bosnia-Herzegovina

(foto: yorumlarim)

Berbagai negara di dunia juga ikut mendorong upaya pembangunan jembatan yang baru. Batu kapur putih tenelija yang sudah runtuh ke dalam sungai juga diselamatkan.

Batu-batuan yang baru pun mulai digali dari pertambangan yang paling dekat. Tujuan utamanya adalah untuk membangun jembatan baru yang sama dengan jembatan lama yang sudah hancur.

Pada tanggal 23 Juli 2004, selesailah sudah proses pembangunan jembatan Stari Most di lokasi yang sama.

Untuk pengingat bagi semua orang yang berkunjung atau melewatinya, di atas jembatan diletakkan batu bertuliskan ‘Don’t Forget 93’.

Dengan demikian, orang-orang selalu ingat peristiwa hancurnya jembatan karena perang antar etnis yang terjadi tahun 1993.