Kisah Hidup Ibu Sud, Sang Maestro Lagu Anak Indonesia

Lagu apa yang paling sering kamu nyanyikan di masa kecil? Memang banyak sekali lagu-lagu anak Indonesia yang biasa diajarkan di TK atau SD.

Lirik dan nadanya memberi suasana menyenangkan dan nilai-nilai positif agar lebih mencintai tanah air.

Mungkin lagu-lagu seperti Naik Becak, Lihat Kebunku, dan Pelangi-Pelangi tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Bukan hanya anak-anak, tapi juga orang dewasa.

Pencipta lagunya adalah Ibu Sud yang memang terkenal dengan karyanya yang sangat mendidik dan memberi kesan tersendiri bagi anak-anak.

Komposisi lagunya dinilai terbaik untuk mengedukasi anak-anak karena memang lirik lagunya sederhana dan mudah diingat.

Sebagai pekerja seni sekaligus pendidik, jalan hidup Ibu Sud tidak seindah lagu-lagunya. Inilah kisah hidup Ibu Sud.

Baca juga: Bola Voli: Sejarah, Luas Lapangan, Aturan Main, dan Istilah Penting

Kemampuannya dalam bermusik makin terasah setelah belajar dengan ayah angkatnya

(foto: pinterest)

Ibu Sud yang bernama asli Saridjah Niung lahir di Sukabumi jauh sebelum Indonesia merdeka, tepatnya tanggal 26 Maret 1908. Saudara kandungnya ada dua belas dan ia terlahir sebagai anak terakhir.

Ayah kandungnya, Muhammad Niung merupakan pelaut asli suku Bugis yang tinggal di Sukabumi. Selama hidup, namanya dikenal sebagai pencipta lagu anak-anak, guru musik, dan penyiar radio.

Keahliannya bermusik, khususnya bermain biola didapat dari belajar langsung dari ayah angkatnya, Prof. Mr. J.F. Kramer.

Ayah angkatnya merupakan pensiunan Wakil Ketua Hoorgerechtshof atau Kejaksaan Tinggi di Jakarta pada masanya.

Ia diangkat sebagai anak dan kemudian menetap di Sukabumi. Ia mendapat pendidikan dan jiwa nasionalisme yang kuat, sehingga bisa mencintai bangsanya.

Karena kecintaan pada bangsa itulah ia dedikasikan hampir seluruh hidupnya untuk pendidikan anak-anak Indonesia, khususnya melalui lagu-lagu yang melegenda.

Setelah lulus langsung mengajar di sekolah dan mulai menciptakan banyak lagu

Kisah Hidup Ibu Sud, Sang Maestro Lagu Anak Indonesia

(foto: pinterest)

Ia lanjutkan pendidikan ke Hoogere Kweek School Bandung agar bisa memperdalam ilmu di bidang tarik suara dan musik.

Kariernya dalam bermusik termasuk lancar karena setelah selesai pendidikan, ia mengajar di Hollandsch Inlandsche School.

Saat mengajar itulah ia mulai membuat lagu-lagu. Ia merupakan orang Indonesia pertama yang membuat lagu khusus untuk anak-anak dengan bahasa Indonesia.

Tahun 1927 ia sudah menciptakan lagu pertama. Tapi tidak langsung mendapat respon yang baik dari masyarakat. Pada tahun berikutnya, 1928 lagunya sudah bisa mengudara di radio milik pemerintah Hindia Belanda.

Pada tahun 1928 ia juga sempat memainkan Biola untuk mengiringi W.R Supratman yang mengumandangkan Indonesia Raya dalam Peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.

Menciptakan lagu berdasarkan kejadian nyata dan sesuai dengan psikologis anak-anak

Kisah Hidup Ibu Sud, Sang Maestro Lagu Anak Indonesia

(foto: shutterstock)

Semasa hidupnya tidak kurang dari 200 lagu anak-anak yang pernah diciptakannya. Setiap lagunya diciptakan berdasarkan suatu kejadian nyata yang dilihat atau dialami.

Contohnya adalah lagu Burung Kutilang ia ciptakan yang diciptakan tahun 1936 karena terinspirasi dari seekor ketilang di kebun yang melompat-lompat di pohon cempaka.

Lagu lainnya adalah Tik-Tik Bunyi Hujan ia ciptakan tahun 1936 karena terinspirasi dari kejadian atap rumahnya yang bocor karena diterpa hujan.

Ia tidak sembarangan dalam menciptakan sebuah lagu karena harus menyesuaikan kondisi psikologis anak. Panjang pendeknya lirik lagu juga dipertimbangkan untuk menjaga semangat anak-anak.

Kalau lagunya terlalu panjang atau nadanya terlalu tinggi, anak-anak tidak semangat lagi. Kalau nadanya terlalu rendah anak-anak juga kurang semangat.

Baca juga: Hewan Semut Panda, Lebah Tanpa Sayap yang Sangat Beracun

Ternyata kehidupan pribadinya tidak selalu bahagia seperti lirik lagu-lagunya

Kisah Hidup Sang Maestro Lagu Anak Indonesia

(foto: pinterest)

Di balik lagu-lagunya yang gembira, ada bagian gelap dalam perjalanan hidupnya yang tentu saja tidak pantas diceritakan ke anak-anak.

Tahun 1927 ia menikah dengan laki-laki bernama Raden Bintang Sudibjo. Nama Sudibjo atau Sud itulah yang kemudian menjadikannya lebih sering disapa Ibu Sud.

Begitu pernikahannya memasuki usia 18 tahun, suaminya ternyata memilih menikah lagi dengan perempuan lain. Konon memang poligami dianggap hal yang biasa pada masanya.

Ia tidak berlarut dalam perasaan sedih karena kehidupan rumah tangganya. Itulah salah satu hal yang membuatnya terdorong untuk terus mengabdikan diri pada anak-anak Indonesia melalui lagu-lagunya.

Kehidupannya sebagai pekeja seni membawanya masuk ke lingkungan Presiden Sukarno, walau tidak sebagai maestro lagu anak, tapi sebagai seniman batik.

Kepiawaiannya dalam hal seni membatik juga diapresiasi oleh Bung Karno

Kisah Hidup Sang Maestro Lagu Anak Indonesia

(foto: historia)

Ruang lingkup aktivitasnya cukup luas yakni sebagai pencipta lagu, guru musik, penyiar radio, seniman batik, sampai aktivis sosial dan pergerakan nasional.

Karena  aktif dalam pergerakan nasional, rumahnya di Jalan Maluku No. 36 Jakarta pernah jadi target penggeledahan pasukan Belanda pada tahun 1945.

Memang banyak tantangan dalam kehidupannya, mulai dari masalah keluarga sampai kepentingan bangsa, tapi sepanjang hidup ia terus berkarya.

Bukan hanya fokus pada musik, tapi kepiawaiannya dalam seni membatik juga tidak diragukan lagi.

Bung Karno dan orang-orang penting di sekelilingnya sangat mengapresiasi karyanya. Hasil batiknya dipakai dalam banyak acara sakral.

Atas karya dan juga pengabdiannya selama hidup, nama Ibu Sud pernah terdaftar dalam penghargaan Satya Lencana Kebudayaan dari pemerintah dan Museum Rekor Indonesia.