Kisah Junko Furuta, Gadis Cantik yang Disiksa 44 Hari & Jasadnya Dibeton

Nama Junko Furuta memang terdengar asing di telinga masyarakat Indonesia. Tapi tidak bagi orang Jepang.

Kisah tragis seorang gadis berusia 17 tahun di akhir tahun 1980-an akan selalu dikenang banyak orang dan menjadi pelajaran.

Banyak orang mengatakan bahwa ketika Anda memiliki wajah yang cantik dan tampan, hidup Anda akan lebih mudah. Berbeda dengan Junko Furuta.

Perawan cantik asal Misato, Prefektur Saitama ini, ternyata berakhir tragis. Furuta sangat populer di sekolahnya, SMA Yashio Minami. Popularitas ini ternyata membuat iri beberapa temannya di sekolah.

Tatapan iri beberapa teman Furuta ternyata tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan perlakuan yang dialaminya hingga berakhir dengan kematian. Furuta menjadi korban penculikan, pemerkosaan, dan pembunuhan oleh beberapa remaja laki-laki.

Para pelaku dikatakan memiliki hubungan dengan Yakuza, geng ‘preman’ terkenal dari Jepang. Bagaimana kasus yang menggemparkan Jepang bahkan dunia ini terjadi?

Baca juga: Meski Penuh Kekayaan, Chaebol Korea Selatan Punya Aturan Tegas yang Harus Dipatuhi

Sebuah insiden tragis dimulai dengan kisah cinta yang tak berbalas

(foto: misterirunsolved)

Peristiwa naas ini terjadi pada akhir tahun 1980-an dan dikenal sebagai kasus pembunuhan seorang siswa SMA yang dibungkus beton. Lahir pada 22 November 1971. Furuta tinggal bersama orang tua, kakak laki-laki dan adik laki-lakinya.

Kehidupan Furuta juga berjalan normal seperti remaja seusianya. Dia bekerja paruh waktu sepulang sekolah.

Bencana datang ketika Hiroshi Miyano, seorang pria yang dikenal sebagai pengganggu dan dikatakan memiliki hubungan dengan Yakuza, terpikat oleh kecantikannya.

Reputasi buruk Miyano diperparah dengan hobinya minum, merokok, menggunakan narkoba dan bermain dengan wanita. Anak-anak baik seperti Furuta biasanya menjadi korban penindasan Miyano dan perusahaan.

Melihat wajah cantik Furuta, Miyano langsung jatuh cinta dan langsung menyatakan cintanya. Furuta menolak dengan alasan dia tidak ingin berkencan. Kehendaknya yang selalu dipatuhi, penolakan ini membuat Miyano marah dan neraka bagi Furuta pun dimulai.

Sakit hati Miyano memuncak pada siksaan yang ditimpakan pada Furuta

Kisah Junko Furuta, gadis cantik yang disiksa selama 44 hari hingga tubuhnya dibuat menjadi beton

(foto: quora)

Pukul 20.30 tanggal 25 November 1988, Furuta, yang baru saja menyelesaikan pekerjaan paruh waktunya, pulang ke rumah dengan sepedanya.

Saat itu, Miyano, Nobuharo Minato dan teman-temannya sedang merampok dan melecehkan seorang gadis. Melihat Furuta, Miyano memerintahkan Minato untuk menendang sepeda gadis itu hingga terjatuh.

Miyano datang dan menawarkan untuk membawa pulang Furuta yang langsung ditolaknya. Miyano ternyata membawa Furuta ke gudang bekas tak jauh dari sana. Di gudang, Miyano mengancam Furuta untuk memamerkan hubungannya dengan Yakuza.

Tak berhenti sampai di situ, Furuta bahkan dibawa ke hotel bersama dua sahabat Miyano, Jo Ogura dan Yasushi Watanabe. Minato segera mengikuti dan mereka berempat membawa Furuta ke rumah orang tua Minato di distrik Ayase Adachi.

Keempat anak laki-laki itu mengancam akan membunuh orang tua Furuta jika gadis itu melarikan diri

Kisah Junko Furuta, gadis cantik yang disiksa selama 44 hari hingga tubuhnya dibuat menjadi beton

(foto: semua itu menarik)

Melalui buku harian Furuta di tasnya, keempat pemuda itu mengetahui di mana gadis itu tinggal. Mereka bahkan mengancam bahwa Yakuza akan membunuh keluarganya jika dia kabur. Khawatir tidak akan ada kabar dari putri mereka, orang tua Furuta mengajukan pengaduan ke polisi pada 27 November.

Tak lama, orang tua Furuta mendapat telepon dari putri mereka. Rupanya ini adalah trik para pelaku untuk menghindari penggeledahan polisi.

Furuta terpaksa berbohong untuk mengakui bahwa dia menginap di rumah temannya. Furuta juga dipaksa mengaku sebagai pacar salah satu penculik orang tua Minato. Ternyata Minato juga dikenal sebagai remaja yang sering bersikap kasar kepada orang tuanya.

Baca juga: Mengenal Pohon Sahabi, ‘Sahabat’ Nabi Muhammad yang Masih Hidup Hingga Saat Ini

40 hari terasa seperti neraka yang dialami Furuta

Kisah Junko Furuta, gadis cantik yang disiksa selama 44 hari hingga tubuhnya dibuat menjadi beton

(foto: yumig.wordpress)

Selama 40 hari berikutnya, Furuta disiksa dengan kejam. Tidak hanya oleh 4 pelaku, tapi juga teman-teman Yakuza yang diajak ikut menyiksa Furuta,

Dilaporkan dari Esensi, Furuta diperkosa lebih dari 400 kali secara bergiliran oleh pelakunya. Dia juga menjadi sering dipukuli.

Tubuhnya digantung di langit-langit dan diperlakukan seperti karung tinju. Tak jarang perutnya juga terkena barbel. Furuta juga kelaparan, dia terpaksa makan kecoa hidup dan minum air kencingnya sendiri.

Beberapa bagian tubuhnya juga diplester dengan lilin panas, dibakar dengan rokok dan korek api hingga dimutilasi atau ditusuk dengan jarum jahit.

Dalam kondisi mengenaskan, Furuta juga terpaksa melakukan masturbasi dengan pelaku. Alat kelamin dan anus dimasukkan dengan benda asing sehingga menyebabkan pendarahan.

16 hari kurungan, seorang pria yang diintimidasi oleh pelaku untuk memperkosa Furuta melaporkan kepada saudaranya untuk menelepon polisi dan meminta untuk memeriksa rumah Minato.

Tapi Furuta tidak bisa ditemukan. Furuta juga sempat memanggil polisi namun ditangkap Miyano. Ia divonis mengalami pendarahan dan kejang-kejang.

Furuta sempat memohon untuk dibunuh, namun pelaku menolak. Penyiksaan ini menyebabkan kondisi fisik Furuta berubah menjadi oranye,

Para pelaku kehilangan nafsu makan yang rusak. 4 Januari 1989, Furuta mengalami siksaan ekstrim selama 2 jam. Tidak tahan lagi, dia mati.

Pelaku yang panik membungkus tubuh Furuta, memasukkannya ke dalam drum 208 liter dan mengisinya dengan semen basah. Mereka membawa drum ke daerah Koto Tokyo dan membuangnya ke truk semen.

Tangkap sampai hukuman diterima pelaku

Kisah Junko Furuta, gadis cantik yang disiksa selama 44 hari hingga tubuhnya dibuat menjadi beton

(foto: quora)

Pada akhir Januari 1989, para pelaku ditangkap karena memperkosa gadis lain, tetapi mereka akhirnya mengakui kejahatan Furuta dan menangkap pelaku lainnya. Drum berisi jasad Furuta ditemukan pada 30 Maret 1989.

Putusan yang diterima pelaku dinilai tidak adil oleh masyarakat. Pidana paling ringan 7 tahun dan terberat 20 tahun. Pelaku masih di bawah umur, yang menjadi alasan yang meringankan.

Jenazah Junko Furuta dimakamkan pada 2 April 1989 di hadapan keluarga dan teman-temannya. Kisah tragis tersebut dibuat dalam bentuk novel, film dan lagu.