Kisah Kaum Ad, Umat Nabi Hud yang Binasa Karena Azab

Kisah kaum Ad adalah salah satu kisah di zaman nabi yang banyak memberi pelajaran. Kaum Ad yang durhaka adalah kaum Nabi Hud AS yang terkena azab karena tidak memenuhi seruan untuk beriman.

Kaum Ad dan Nabi Hud AS sebenarnya berasal dari nenek moyang yang sama, yaitu keturunan Sam bin Nuh AS dari suku Ad.

Kehidupan mereka bertempat di daerah jazirah Arab, yakni di sebuah tempat yang disebut Al-Ahqaf di sebelah utara Hadramaut, di antara Oman dan Yaman.

Berdasarkan catatan dalam sejarah, kaum Ad adalah salah satu golongan suku yang paling tua setelah kaum Nabi Nuh AS. Kehidupan mereka sangat makmur dengan ciri khas bangunan besar dan patung-patung yang dipuja-puja.

Baca juga: 5 Dewi Mitologi Yunani, Berparas Menawan dan Terkenal Tangguh

Kaum Ad hidup makmur dengan kekayaan dari perkebunan dan hewan ternak

(foto: pinterest)

Kehidupan kaum Ad memang begitu makmur. Mereka membangun peradaban yang unggul dan tinggi dalam hal pertanian.

Sumber air yang mereka dapatkan juga melimpah. Bahkan hewan ternak dan hasil perkebunannya juga sangat banyak.

Kekayaan dari ladang hijau yang subur, indah pemandangannya, penuh mata air, serta hasil ternak ternyata tidak lantas menjadikan kehidupannya lebih baik. Sampai akhir hayatnya mereka dibinasakan karena kesombongannya.

Bahkan Nabi Hud AS sudah berusaha sedemikian keras untuk mengajak mereka untuk bisa kembali menempuh jalan yang lurus, tidak membanggakan harta benda, dan taat kepada Allah SWT.

Alquran sudah mengabadikan kisahnya dalam QS Hud ayat 50 yang artinya sebagai berikut.

Kepada kaum ‘Ad (Kami utus) saudara mereka, Hud. Dia berkata, ‘Wahai kaum-ku! Sembahlah Allah, tidak ada tuhan bagimu selain Dia. (Selama ini) Kamu hanyalah mengada-ada’.”

Peringatan Nabi Hud tidak mengubah mereka jadi lebih baik

Kisah Kaum Ad, Umat Nabi Hud yang Binasa karena Azab

(foto: rctiplus)

Ibnu Katsir dalam Tafsirul Quranil Adzim menyebut bahwa kaum Ad memang tidak bersedia untuk beriman.

Bahkan mereka pun tidak ingin berhenti untuk berbuat jahat dan durhaka atau perbuatan apa pun yang dikehendaki.

Dalam kehidupan spiritual, mereka memuja patung-patung atau berhala bernama Alhattar dan Shamud.

Mereka juga menyembah Shada dan Al Haba. Sesembahan patung yang mereka agungkan tidak menjadikan tabiatnya lebih baik.

Sikap takaburnya sudah sedemikian parah dan sulit untuk diubah siapa pun. Meskipun kenyataannya berhala dan bangunan yang didirikan juga tidak semua bermanfaat.

Baca juga: Keunikan Ukiran Jepara, Seni Pahat Kayu yang Berkelas Dunia

Pernah membangun istana dan kota yang diklaim sebagai replika surga

Kisah Kaum Ad, Umat Nabi Hud yang Binasa karena Azab

(foto: republika)

Bukan hanya satu dua bangunan dan berhala, mereka pun membangun sebuah Kota Dzat al Imad, Iram atau Dzatul ‘Imad yang berarti pemilik dari tiang-tiang yang diklaim sebagai replika surga yang dibangun sekitar tiga abad lamanya. Meskipun pada akhirnya tidak ditempati anak cucu mereka.

Meskipun kehidupan kaum Ad terkenal dengan kesombongan dan akhir hidup yang mengenaskan karena azab, ternyata ada sebagian arkeolog dan sejarawan tidak langsung mempercayai keberadaannya.

Lalu pada akhir abad 20-an sempat dilakukan penelitian di Iram, tepatnya di gurun pasir ar Rub’u al Khali di Zhaafar dengan jarak 150 km dari Shalabah, kerajaan Oman selatan.

Ternyata memang ada jejak hidup yang menunjukkan ciri yang sama seperti disebut Alquran.

Para ulama menyebut bahwa kaum Ad termasuk bangsa Arab yang sudah musnah dari muka bumi atau disebut dengan al Arab al Ba’idah.

Mereka disebut mencakup beberapa bangsa yang sudah musnah sejak berabad-abad sebelum datangnya era Nabi Muhammad SAW.

Merasa senang hujan turun, tapi akhirnya mendapat azab yang membinasakan

Kisah Kaum Ad, Umat Nabi Hud yang Binasa karena Azab

(foto: pinterest)

Apa yang mereka katakan atau lakukan kepada Nabi Hud AS sangat melampaui batas. Mereka menuduh bahwa Nabi Hud tidak datang dengan bukti nyata.

“..dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan memercayai kamu.

Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila…” (QS Hud: 53-54).

Demikianlah sikap yang mereka tunjukkan berulang-ulang, sampai pada akhirnya tanda-tanda datangnya azab pun muncul.

Datanglah hari-hari yang berat untuk mereka, yaitu kekeringan di bumi ketika langit tidak turun hujan. Matahari pun lebih menyengat daripada sebelumnya sampai terasa seperti api yang memercik di atas kepala.

Suatu hari mereka senang karena kekeringan berganti jadi awan mendung. Mereka mengira akan turun hujan. Mendadak udara pun jadi bertambah dingin.

Tiupan angin semakin kencang. Seluruh benda tidak kuat menahan tiupan angin kencang yang mencapai tujuh hari tujuh malam yang membinasakan mereka.