Kisah Nabi Ayyub, Penuh Kesabaran Diuji dengan Penyakit Kulit

Setiap ujian yang dititipkan Allah pada para nabi, di sana ada hikmah dan pelajaran hidup yang berharga untuk umat manusia yang beriman.

Sudah banyak kisah para nabi yang kehidupannya penuh dengan ujian, salah satunya kisah Nabi Ayyub.

Kekayaan dan kekuatannya diambil,  kemudian diuji dengan penyakit yang menjadikan kerabatnya pun tidak ingin dekat.

Meskipun sedang dalam kondisi sakit, lemah, dan tersingkir, kisah Nabi Ayyub berikut ini bisa dicontoh untuk mempertebal keimanan.

Baca juga: Kisah Nabi Sulaiman, Kaya Raya dan Bisa Bicara dengan Hewan

Diberi ujian penyakit sampai seluruh tubuhnya tidak berfungsi, kecuali hati dan lisannya

(foto: trumpetcall)

Nabi Ayyub merupakan utusan Allah di daerah Hauran yang kini termasuk ke daerah Yordania dan Suriah.

Waktu pengutusannya berkisar antara tahun 1420-1540 SM. Pada saat mengemban amanah, Allah mengujinya dengan sakit kulit selama kurang lebih 18 tahun.

Seluruh tubuhnya terkena penyakit sampai tidak berfungsi dengan baik, kecuali hati dan lisannya yang selalu berzikir mengingat Allah.

Tidak hanya itu saja, semua kekayaannya dan lahan yang dimiliki lenyap. Anak-anak meninggal dunia, kemudian semua orang menjauhi.

Bahkan kerabatnya pernah membuangnya ke tempat pembuangan sampah di luar tempat tinggalnya.

Hanya Siti Rahmah, istrinya yang mau dekat dan mengurusnya saat sakit. Selain setia menemani dengan sabar, Siti Rahmah juga berusaha untuk mendapat pekerjaan.

Usaha Siti Rahmah untuk mendapat pekerjaan juga tidak mudah karena penduduk mengetahui kondisi Nabi Ayyub.

Penduduk tidak mudah menerima Siti Rahmah karena khawatir tertular penyakit.

Istrinya berusaha bekerja sampai menggadaikan rambutnya untuk ditukar makanan

Kisah Nabi Ayyub, Penuh Kesabaran Diuji dengan Penyakit Kulit

(foto: tebuireng)

Bagaimanapun, Siti Rahmah tidak berputus asa dan mencoba datang ke orang-orang kaya untuk menjadi pelayan.

Rambut panjangnya pun digadaikan dan kemudian ditukar dengan bahan makanan.

“Dari manakah engkau mendapatkan makanan ini?” tanya Nabi Ayyub.

“Aku telah bekerja pada orang banyak dan mendapat upah karenanya,” demikian jawab istrinya.

Nabi Ayyub sempat curiga, padahal sebelumnya tidak mudah untuk mendapatkan pekerjaan.

Makanan masih dibiarkan kalau belum tahu sebenarnya dari mana asalnya, Akhirnya Siti Rahmah mengakui sambil menyingkap hijabnya dan ternyata rambutnya sudah tidak ada.

Menyaksikan pengorbanan istrinya, Nabi Ayyub sempat mencela pilihan istrinya yang sampai menjual bagian dari dirinya, kamudian segera berdoa pada Allah.

Baca juga: Kisah Nabi Zulkifli, Teladan untuk Jadi Pemimpin yang Sabar

Diberi kesembuhan dengan perantara mata air dingin yang keluar secara ajaib dari tanah

Kisah Penuh Kesabaran yang Diuji dengan Penyakit Kulit

(foto: viva)

Doanya menunjukkan sikapnya yang ikhlas pada kondisi yang Allah berikan sebagai ujian. Allah kemudian memberikan pertolongan untuk memberi kesembuhan.

Hantamkanlah kakimu. Inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum” (QS Shad: 42)

Begitu datang perintah Allah untuk menghantamkan kaki diikuti, maka muncullah sebuah sumber air yang dingin.

Air dingin bisa dipakai untuk mandi dan meminumnya. Atas seizin Allah, diangkatlah penyakit Nabi Ayyub melalui perantara mata air dingin yang keluar secara ajaib.

Allah juga menggantikan kekayaan yang pernah hilang, dengan yang lebih baik.

Meskipun kondisi sebelumnya sedemikian memprihatinkan, tapi kesabaran dan ketakwaannya luar biasa sehingga semua cobaan berhasil terlewati.

Setelah bersabar melewati ujian 18 tahun, kemudian sembuh dan bisa berdakwah lagi

Kisah Penuh Kesabaran yang Diuji dengan Penyakit Kulit

(foto: republika)

Selang beberapa waktu, berita tentang kesembuhannya segera terdengar masyarakat. Untuk membuktikannya, Nabi Ayyub sempat berjalan keluar rumah.

Penduduk sekitar dan kerabatnya pun tidak lagi menjauhi, seperti sebelumnya saat 18 tahun diuji dengan sakit dan kemiskinan. A

tas izin Allah, kekayaannya kembali, begitu juga kekuatannya untuk berdakwah.

Dari kisahnya bisa diambil hikmah bahwa seberat apa pun ujian dari Allah, sebaiknya dijalani saja dengan kesabaran dan keikhlasan dan selalu berharap pertolongan hanya kepada Allah.

Istri Nabi Ayyub juga memberi contoh bagaima seharusnya peran seorang istri untuk mendukung suaminya di saat kesusahan.

Ujian juga bukan hanya tentang kesempitan atau kemiskinan, tapi  kekayaan juga bisa menjadi ujian.

Asalkan seseorang tidak berputus asa pada pertolongan Allah, maka akan diberi ganti lebih baik.