Kisah Nabi Ishaq, Putra Ibrahim Sebagai Cikal Bakal Bani Israil

Di dalam Alquran telah diceritakan tentang Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail yang bersejarah dan penuh keteladanan. Allah juga memberkahi Nabi Ibrahim dengan putra lainnya, yaitu Nabi Ishaq.

Kelahirannya sudah dinantikan sangat lama, bahkan sampai hampir putus harapan. Tapi Nabi Ibrahim tidak terputus doanya untuk mendapatkan keturunan yang baik sekaligus generasi penerusnya yang saleh.

Sebagai leluhur Bani Israil, Nabi Ishaq juga memberi keteladanan tentang akhlak mulia. Inilah kisahnya yang dirangkum dari berbagai sumber.

Baca juga: Sejarah Vending Machine, Mesin Jual Otomatis yang Populer di Jepang

Kelahirannya pernah dikabarkan oleh para malaikat yang mendatangi Nabi Ibrahim

(foto: titikdua)

Membahas kisah Nabi Ishaq tentunya juga harus mengingat sejarah Nabi Ibrahim yang menikahi Siti Sarah dan tidak dikaruniai anak dalam waktu lama.

Setelah menikah lagi dengan Siti Hajar, ternyata Nabi Ismail lebih dahulu hadir di tengah-tengah keluarga Nabi Ibrahim.

Tidak berselang lama Ismail lahir, Nabi Ibrahim pun mendapat kunjungan tiga tamu laki-laki yang tampak istimewa. Wujud ketiganya tidak seperti manusia biasa, karena memang bukan manusia.

Ternyata tamu yang mengunjungi Nabi Ibrahim adalah malaikat yang menyampaikan sebuah kabar bahagia pada Nabi Ibrahim tentang kelahiran anak dan cucunya di masa mendatang.

Mendengar kabar tersebut, Siti Sarah menghampiri dengan keheranan karena sudah tua, mandul, merasa tidak mungkin lagi punya anak.

Namanya disebutkan di dalam Alquran dan dipuji tentang akhlak dan ilmunya

Kisah Nabi Ishaq, Putra Ibrahim sebagai Cikal Bakal Bani Israil

(foto: pixabay)

Tidak disangka-sangka, Allah berkehendak lain. Malaikat yang sebelumnya datang ternyata memang membawa kabar tentang kehadiran Nabi Ishaq dan Nabi Yaqub.

Siti Sarah di usianya yang ke-90 tahun, masih bisa melahirkan putra yang kemudian dikenal dengan Nabi Ishaq. Selisih Nabi Ishaq dan Nabi Ismail adalah 14 tahun.

Alquran memang tidak banyak menerangkan kisah Nabi Ishaq dengan panjang lebar sebagaimana kisah Nabi Ibrahim, begitu juga dengan kondisi kaum yang menerima ajaran dakwahnya.

Nama Nabi Ishaq telah disebut di dalam Alquran sebanyak 17 kali. Di dalam penyebutannya, Allah memberi pujian tentang akhlak dan ilmunya di beberapa ayat dalam Alquran.

Baca juga: Kisah Nabi Sya’ya, Penasihat Raja Bijaksana yang Dizalimi Umatnya

Memiliki akhlak yang tinggi dan selalu mengingatkan manusia pada negeri akhirat

Kisah Nabi Ishaq, Putra Ibrahim sebagai Cikal Bakal Bani Israil

(foto: pixabay)

Sebagai salah satu orang pilihan, Nabi Ishaq selalu mengingatkan manusia kepada akhirat, seperti disebut di Surat Shaad berikut ini.

Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Yaqub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. Sesungguhnya Kami telah menyucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.” (QS. Shaad: 45-47)

Nabi Muhammad pun memuji kemuliaannya sebuah riwayat.

Yang mulia putra yang mulia, putra yang mulia dan putra yang mulia adalah Yusuf putra Ya’qub, putra Ishaq, putra Ibrahim.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Mengapa istilah ‘putra yang mulia’ sampai disebut tiga kali? Ini adalah karena garis keturunannya adalah orang-orang yang dimuliakan.

Mulai dari Nabi Ibrahim, Nabi Ishaq, dan Nabi Yaqub, ketiganya adalah satu nasab yang menjadi utusan Allah.

Mendapatkan keturunan yang di kemudian hari menjadi leluhur dari Bani Israil

Kisah Nabi Ishaq, Putra Ibrahim sebagai Cikal Bakal Bani Israil

(foto: darunnajah)

Keturunan Nabi Ishaq, yakni Nabi Yaqub juga menjadi ayah dari Nabi Yusuf beserta saudara-saudaranya. Dari sinilah akan terbentuk cikal bakal kaum Bani Israil atau keluarga Israil.

Tapi sebenarnya prosesnya untuk mendapatkan keturunan juga butuh perjuangan dan kesabaran. Diriwayatkan bahwa Nabi Ishaq menikahi Rafqah binti Batuil ketika Nabi Ibrahim masih hidup.

Saat menikah, usianya sudah 40 tahun. Sama seperti sang ibu, ternyata istrinya juga dianggap mandul. Walau tampak mustahil untuk punya keturunan, doa dan munajatnya kepada Allah tidak berhenti.

Atas kekuasaan Allah, istrinya bisa hamil di usia tua. Anak kembar pun lahir dan diberi nama Ishu atau Esau dan Yaqub. Esau merupakan leluhur bangsa Romawi sedangkan Yaqub adalah nenek moyang Bani Israil.