Kisah Nabi Syamu’il, Memberi Teladan dalam Memilih Pemimpin

Kisah Nabi Shamu’il merupakan kisah yang penuh hikmah. Meski namanya tidak termasuk dalam 25 nabi, namun ada contoh yang masih berlaku bagi umat hingga saat ini.

Dia diutus di antara Bani Israil setelah kematian Musa. Seperti yang tertulis di buku Qashasul Anbiya dari Ibnu Katsir, nama aslinya Asymuil bin ‘Alqamah. Itu juga termasuk dalam garis keturunan Nabi Harun.

Salah satu hal yang patut diteladani adalah sikapnya dalam memilih pemimpin bagi rakyatnya.

Baca juga: Tinju: Sejarah, Ukuran Cincin, Aturan Main dan Syarat Penting

Sejak kecil Nabi Syamu’il dititipkan ke masjid agar banyak belajar dan beribadah

(foto: pixabay)

Kisahnya di antara Bani Israel dimulai pada usia muda. Ibunya mengirimnya ke masjid dan menitipkannya pada orang yang saleh. Di sana ia diharapkan banyak belajar dan beribadah.

Suatu hari Nabi Shamu’il tertidur di malam hari. Tiba-tiba terasa gemetar seperti ada suara guru yang memanggil.

“Apakah Syekh memanggil saya?” tanyanya pada gurunya di masjid. Tidak ada panggilan. Gurunya memintanya untuk tidur lagi. Beberapa saat kemudian suara yang sama terdengar lagi untuk ketiga kalinya.

Ternyata yang memanggilnya adalah Malaikat Jibril. Saat itu Malaikat Jibril menyampaikan pesan.

“Sesungguhnya Tuhanmu telah mengutus kamu kepada kaummu.”

Al-Qur’an menyebutkan kisah Nabi Syamu’il secara implisit dalam surat Al Baqarah

Kisah Nabi Syamu'il, Memberi Teladan dalam Memilih Pemimpin

(foto: pixabay)

Kisah tersebut disebutkan secara tersirat dalam sebuah ayat yang cukup panjang dalam Al-Qur’an, yaitu Surat Al Baqarah ayat 246-251.

Pada intinya dikatakan bahwa setelah Bani Israil kalah dari musuh dalam perang, mereka juga meminta agar dipilih seorang raja untuk menjadi pemimpin pasukan perang yang berani menghadapi musuh.

Beberapa waktu kemudian, Tuhan mengirimkan wahyu untuk memilih Thalut menjadi pemimpin di antara mereka.

Thalut berasal dari sebuah desa di kelompok Bani Israil yang dianggap miskin dan memiliki pekerjaan sehari-hari sebagai penggembala kambing.

Tidak banyak yang tahu Thalut. Masyarakat dihebohkan ketika ada pengumuman bahwa yang menjadi pemimpin adalah sosok yang tidak dikenal bahkan keberadaannya dikatakan asing.

Menyampaikan amanah kepada Thalut untuk menjadi pemimpin Bani Israil

Kisah Nabi Syamu'il, Memberi Teladan dalam Memilih Pemimpin

(foto: okezone)

Thalut dan Nabi Syamu’il bertemu di puncak bukit sambil mencari ternaknya yang hampir hilang. Awalnya keduanya saling berpandangan.

Nabi Syamu’il dalam hati menggumamkan bahwa sosok yang dilihatnya itulah yang disebutkan dalam firman Allah. Thalut diperintahkan untuk tidak lagi bersusah payah mencari ternak yang hilang.

Saat itu, Nabi Shamu’il menyampaikan pesan bahwa Allah telah memberinya amanah untuk menjadi pemimpin Bani Israil untuk mengorganisir kekuatan dalam menghadapi musuh.

“Allah telah menjanjikan pertolongan-Nya untukmu. Kamu akan mendapatkan kemenangan dalam pertempuran melawan penjajah,” kata Nabi Syamu’il.

Mendengar pernyataan seperti itu, Thalut tampaknya tidak percaya bahwa orang miskin seperti dirinya akan memimpin orang-orang yang pernah memiliki kekayaan dan kekuasaan.

Baca juga: Kisah Nabi Uzair, Dibangkitkan Setelah Tidur 100 Tahun

Bangsa Israel sulit menerima orang yang dipilih menjadi pemimpin baru

Kisah Nabi Syamu'il, Memberi Teladan dalam Memilih Pemimpin

(foto: hidayatullah)

Cerita berlanjut ketika diputuskan untuk memilih Thalut sebagai pemimpin baru.

“Ini adalah kehendak Allah SWT. Kamu harus mensyukuri nikmat-Nya dan kuatkan pikiranmu untuk memimpin,” kata Nabi Syamu’il selanjutnya.

Begitu mengetahui siapa raja selanjutnya, Bani Israil tidak mudah menerima karena latar belakang Thalut yang merupakan rakyat biasa.

“Mengapa seseorang yang tidak kita kenal menjadi raja?” kata orang Israel.

Kepada umatnya, Nabi Syamuil mengatakan bahwa untuk menjadi raja atau panglima perang sebenarnya tidak memerlukan syarat keturunan bangsawan yang terhormat. Namun yang terpenting memiliki kemampuan dan kebijaksanaan.

Kisah Nabi Shamu’il bisa diikuti dalam hal memilih pemimpin

Kisah Nabi Syamu'il, Memberi Teladan dalam Memilih Pemimpin

(foto: pixabay)

Allah juga telah memberikan kelebihan kepada Thalut atas orang lain yang diusulkan oleh Bani Israil.

“Tunjukkan pada kami buktinya,” kata Bani Israil.

Dewa kemudian menunjukkan bukti bahwa sebuah benda suci bernama Tabut yang telah lama hilang telah diserahkan oleh bidadari kepada Thalut.

Melalui bukti ini, Bani Israil rela dengan pilihan Nabi Syamuil untuk menjadikan Thalut sebagai raja di antara mereka.

Perlahan, Raja Thalut mampu menata kondisi masyarakat ke arah yang benar dan mencapai kesejahteraan.

Kondisi yang sebelumnya berserakan, bisa dipertemukan seiring berjalannya waktu. Begitulah kisah Nabi Shamu’il yang bijak dalam memilih pemimpin bagi umatnya.