Kisah Raja Hammurabi, Penguasa Babilonia Pembuat Hukum Tertua di Dunia

Namanya Raja Hammurabi, ia memegang pemerintahan pada Dinasti Babilonia di kawasan Mesopotamia. Tepatnya di tepi sungai Eufrat, jaraknya sekitar 97 km dari pusat kota Baghdad, Irak saat ini.

Raja Hammurabi bertahta di kerajaan Babilonia pada rentang waktu 1792-1750 SM. Riwayatnya terekam cukup baik dalam sejarah panjang umat manusia.

Beberapa catatan sejarah berikut ini membuktikan kecakapannya dalam memimpin. Selain dikenal dengan strategi perangnya, ia juga administrator ulung.

Baca juga: Daftar Angka Keramat dan Kisah Singkat di Baliknya

Seorang administrator ulung dan ahli strategi perang

(foto: thoughtco)

Hammurabi adalah raja yang berani menghadapi musuh, menghancurkan kota yang warganya tidak patuh.

Ia juga lebih dikenal dengan kecakapannya dalam membangun stabilitas dan persatuan wilayah yang menjadi kekuasaannya.

Salah satu bukti kecakapannya adalah penerbitan kompilasi hukum yang kemudian mengatur seluruh warga. Inilah yang kemudian menjadi catatan sejarah yang masih relevan hingga ratusan tahun kemudian.

Kompilasi Hukum Hammurabi mulai disusun

Kisah Raja Hammurabi, Penguasa Babilonia Pembuat Hukum Tertua di Dunia

(foto: thehutchreport)

Hammurabi mengeluarkan kode etik (code of conducts) untuk memastikan berlakunya tertib sosial pada warga.

Perangkat hukum ini berisi 282 pasal dan berlaku untuk pejabat, profesional, dan masyarakat. Ketiganya adalah sesama warga yang memiliki tanggung jawab.

Meski dianggap cukup kejam dalam beberapa pasalnya, tapi substansinya dinilai masih cukup relevan sampai sekarang.

Ada tiga konsep besar yang ada dalam kompilasi Hukum Hammurabi, yakni; resiprositas atau timbal-balik, akuntabilitas, dan insentif.

Kemudian ada sebuah frasa terkenal yang mewakili konsepsi tersebut. “an eye for an eye and a tooth for a tooth”. Mata dibalas mata dan gigi dibalas gigi.

Substansinya memuat sejumlah ketentuan, seperti undang-undang perdagangan, perbudakan, ganti rugi kerusakan, pencurian, dan hubungan keluarga.

Hukum Hammurabi bermula dari kekesalan raja kepada gubernur

Kisah Raja Hammurabi, Penguasa Babilonia Pembuat Hukum Tertua di Dunia

(foto: britannica)

Pada suatu hari dalam masa pemerintahannya, Raja Hammurabi kesal karena para gubernur yang ada di daerah kekuasaannya tidak mengirimkan tentara perang.

Raja pun melayangkan perintah kepada seluruh gubernur supaya datang dan menghadap. Kemudian para pemimpin wilayah pun berdatangan.

Mereka yang berasal dari berbagai suku Asia Barat dan Afrika datang dengan memakai pakaian kebesaran sendiri-sendiri.

Dandanan yang warna warni dan terlihat tidak beraturan itu membuat Sang Raja kesal. Raja ingin rakyatnya tertib dan teratur dalam seluruh aspek hidupnya. Itulah yang menandai masa awal disusunnya hukum Hammurabi.

Baca juga: Misteri Point Nemo, Wilayah Bumi yang Paling Sulit Dikunjungi

Pasal hukum Hammurabi diletakkan di pusat kota Babilon

Kisah Raja Hammurabi, Penguasa Babilonia Pembuat Hukum Tertua di Dunia

(foto: unesco)

Butir-butir pasal Hukum Hammurabi dipahat dalam sebuah lempeng batu besar yang tingginya kurang lebih 3 meter.

Kemudian batu besar tersebut dibawa ke pusat Kota Babilon, yang merupakan ibu kota kerajaan untuk diletakkan di suatu tempat strategis.

Selain menjadi pusat pemerintahan, Babilon juga dikenal sebagai pusat aktivitas perdagangan dan keagamaan. Dengan diletakkannya batu besar itu di pusat kota membuat mudah dibaca oleh seluruh rakyat Babilonia.

Prasastinya masih bertahan sampai hari ini

Penguasa Babilonia Pembuat Hukum Tertua di Dunia

(foto: pinterest)

Sepanjang sejarah, Babilonia sudah mengalami pergantian penguasa. Penguasa kerajaan itu memiliki banyak catatan prestasi. Akan tetapi, Hammurabi menjadi raja yang paling terkenal dalam sejarah kerajaan Babilonia.

Setelah diberlakukannya undang-undang Hammurabi yang kemudian dikenal sebagai Codex Hammurabi, masyarakat Babilonia jadi semakin teratur dan tertib saat menjalani kehidupan mereka.

Bahkan bisa dikatakan bahwa pada masa pemerintahan Raja Hammurabi lah kerajaan Babilonia tercatat sebagai kerajaan paling tertib dan aman.

Lempeng berisi butir-butir pasal hukum itu kemudian menjadi prasasti yang menjadi cikal bakal undang-undang tertua di dunia.

Saat ini, prasasti bersejarah tersebut disimpan dan juga dipamerkan untuk umum di Museum Louvre di Paris, Prancis.