Legenda Lahilote, Cerita Tujuh Bidadari dari Gorontalo

Indonesia memiliki banyak tempat wisata indah yang berhubungan dengan legenda cerita rakyat masyarakat di sekitarnya.

Salah satunya adalah pantai Lahilote yang berada di Kelurahan Pohe, Kecamatan Kota Selatan, Gorontalo.

Di pantai ini ada sebuah batu berbentuk telapak kaki bernama Botu Liyodu Lei Lahilote. Konon, batu ini merupakan telapak kaki seorang laki-laki pengelana bernama Lahilote.

Cerita mengenai asal usul batu ini sangat terkenal di masyarakat di sekitar Pantai Pohe. Legenda Lahilote juga menjadi salah satu daya tarik tersendiri dalam hal wisata.

Baca juga: Makna Ikhtiar, Tawakal, Ikhlas, dan Sabar bagi Umat Manusia

Lahilote hidup di hutan dan ingin mempersunting bidadari yang dilihatnya

(foto: okezone)

Alkisah, di Tanah U Duluo lo’u Limo lo Pohite, Gorontalo, hiduplah seorang pemuda bernama Piilu Le Lahilote.

Ia tinggal seorang diri di rumah kecil yang terletak di pinggir hutan. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, ia berburu binatang di dalam hutan.

Suatu hari, ia mendengar seperti ada suara gadis-gadis yang bercanda di telaga di tengah hutan.

Karena rasa penasarannya, ia mengintip dari balik pohon besar dan melihat tujuh gadis cantik sedang mandi dan bersenda gurau.

Karena sangat terpesona dengan kecantikan tujuh gadis yang dilihatnya, ia kemudian menyadari bahwa gadis-gadis tersebut merupakan bidadari kayangan.

Hal itu bisa dilihat dari tumpukan baju dan sayap. Sejak saat itu ia tidak bisa menahan keinginannya untuk memperistri satu dari tujuh gadis cantik itu.

Mencuri sayap bidadari yang sedang mandi, dan disembunyikan di lumbung padi

Legenda Lahilote dan Cerita Tujuh Bidadari dari Gorontalo

(foto: okezone)

Didorong oleh keinginan kuat, ia berhasil mengambil salah satu dari tujuh sayap para gadis cantik itu kemudian membawanya pulang dan menyembunyikannya di lumbung padi di kolong rumah.

Setelah itu ia kembali ke telaga dan mendapai seorang bidadari sedang kebingungan mencari sayapnya yang hilang.

Kesempatan seperti itu tidak dilewatkannya. Ia pun membujuk salah satu yang bernama Boilode Hulawa untuk tinggal dam menetap di rumahnya.

Tidak lama kemudian, ia sampaikan keinginan untuk menikah dengan Boilode Hulawa. Sang bidadari menyetujui keinginan itu dan mereka pun hidup bersama dengan rukun dan damai.

Boilode Hulawa merasa lelah menjalankan tugas rumah tangga dan menggunakan kesaktian

Legenda Lahilote dan Cerita Tujuh Bidadari dari Gorontalo

(foto: detik)

Satu tahun berselang putri Boilode Hulawa mulai merasa kelelahan dengan pekeraan-pekerjaan yang dilakukan.

Karena itu Boilode mulai menggunakan kesaktiannya untuk meringankan beban pekerjaannya. Namun hal tersebut tidak boleh sampai diketahui oleh orang lain agar kesaktiannya tidak menghilang.

Suatu hari, sang suami curiga melihat padi di lumbung yang tidak pernah berkurang meski setiap hari terus memasak nasi. Keesokan harinya, ia berpamitan pergi ke kebun pada istrinya di rumah.

Saat istrinya pergi keluar rumah, ia membuka tutup periuk dan melihat hanya ada sebutir beras di dalamnya. Sejak saat itu Boilode harus kembali bekerja keras melakukan pekerjaan-pekeraannya yang dulu.

Baca juga: Mengenal Slow Fashion, Inovasi dalam Industri Mode Dunia

Sayap yang disembunyikan akhirnya bisa ditemukan, istrinya pun kembali ke kayangan

Cerita Tujuh Bidadari dari Gorontalo

(foto: kompasiana)

Setelah pulang dari melaut, ia tidak dapat menemukan sayap istrinya di lumbung padi.

Ternyata istrinya telah menemukan sayap di bawah lumbung padi dan memperbaiki sayapnya hingga berfungsi kembali dan terbang ke kayangan.

Dengan kesaktian dan bantuan dari sebuah pohon bernama Hutia Mala, ia pergi ke kayangan dan bertemu dengan istrinya.

Di kayangan semua makhluk sempat hidup bersama sebelum akhirnya rambutnya mulai beruban. Menurut peraturan di kayangan, manusia yang mengalami penuaan tidak diperbolehkan untuk menetap.

Maka, mau tidak mau ia harus turun ke bumi. Namun, saat hendak pergi ia tidak dapat menemukan Hutia Mala karena pohon ajaib itu telah hancur.

Lahilote mengalami nasib buruk karena tiupan angin sampai tubuhnya terbelah dua

Legenda Tujuh Bidadari dari Gorontalo

(foto: blogmasadi)

Setelah memikirkan berbagai cara, akhirnya ia memutuskan untuk menggunakan rambut istrinya sebagai pegangan.

Di tengah perjalanan, seluruh rambut Boilode telah tercabut dari kepalanya, namun Lohilote belum sampai ke bumi. Ia pun melayang-layang di antara langit dan bumi.

Ia kemudian terhempas jauh ke seluruh penjuru arah karena tiupan angin yang menimpanya. Tidak cukup sampai di situ saja, tapi tubuhnya tersambar petir dan terbelah dua.

Konon tubuh bagian kirinya jatuh di Pulau Boalemo, Sulawesi Tengah dan bagian kanannya di Pantai Pohe yang meninggalkan bekas telapak kaki kanannya di sebuah batu.

Kemudian batu itu dinamakan Botu Liodu Lei Lahilote oleh masyarakat sekitar pantai Pohe.