Mengenal Kelomang, Kepiting Unik yang Hobi Pindah Rumah

Umumnya orang-orang suka memelihara hewan piaraan di rumah seperti kucing, kelinci, anjing, dan ikan. Bagaimana dengan yang lebih unik seperti hermit crabs alias kelomang?

Hewan ini sering dianggap sama seperti keong, walau sebenarnya keduanya binatang yang berbeda. Di seluruh penjuru dunia, spesies mereka tidak kurang dari 1000 spesies.

Habitat mereka kebanyakan adalah air laut sampai ke sekitar pantai. Meskipun kebanyakan tumbuh di wilayah lautan, kelomang (Paguroidea) ternyata juga bisa bertahan hidup cukup lama di daratan.

Baca juga: Rahasia Kekuatan Pedang Damaskus Hingga Jadi yang Paling Tajam di Dunia

Memiliki bagian tubuh yang unik seperti abdomen, cangkang, dan sepuluh kaki 

(foto: shutterstock)

Hewan kelomang di Indonesia juga sering disebut kepiting pertapa. Cara hidupnya lebih banyak melindungi diri di balik cangkangnya. Di Jawa Tengah, sebagian masyarakat menyebutnya yuyu rumpong. 

Mereka punya bagian perut atau abdomen panjang, bentuknya cenderung spiral dan tidak terlalu keras layaknya abdomen hewan crustacea lainnya.

Mereka juga punya sepuluh kaki atau lima pasang yang fungsinya berbeda-beda.

  • Sepasang kaki ke-1: adalah kaki yang terbesar dan dipakai untuk mencapit atau mengambil makan.
  • Sepasang kaki ke-2 dan ke-3: dipakai untuk jalan.
  • Sepasang kaki ke-4: dipakai untuk masuk dan keluar cangkang.
  • Sepasang kaki ke-5: dipakai untuk membersihkan cangkang.

Semua kaki yang ada pada tubuh mereka yang kecil saling koordinasi untuk bisa berfungsi.

Termasuk hewan yang panjang umur jika berada di habitat yang tepat

Mengenal Kelomang, Kepiting Unik yang Hobi Pindah Rumah

(foto: newscience)

Untuk bisa terus hidup dan tumbuh, mereka juga butuh makan dengan nutrisi terbaik.

Makanan mereka kebanyakan adalah buah-buahan dan sayuran, seperti pepaya, mangga, apel, nanas, pisang selada, wortel, bayam, dan mentimun.

Saat tumbuh di habitat yang cocok, sampai seberapa lama kira-kira masa hidupnya? Ternyata di habitat liar mereka sanggup bertahan selama 30 tahun. Umurnya akan lebih singkat jika dipelihara manusia.

Tapi, ada satu yang menjadi rekor sebagai kelomang paling panjang umur, yaitu 70 tahun. Pemiliknya bernama Steve Sugianto, dari Surabaya dan sering tampil di pameran-pameran.

Ukurannya juga hampir sama besar seperti buah kelapa. Panjangnya mencapai 15 cm yang tentu jauh melebihi ukuran normal yang hanya 4-5 cm.

Baca juga: Sejarah Bataviasche Nouvelles, Koran Pertama yang Terbit di Indonesia

Bisa hidup di daratan, tapi juga tetap butuh air untuk bertahan hidup

Mengenal Kelomang, Kepiting Unik yang Hobi Pindah Rumah

(foto: pinterest)

Hewan unik ini juga sering menjadi mainan anak-anak dengan ditambahkan cat warna warni pada cangkangnya. Tapi tidak semua spesiesnya bisa dibawa ke darat dan dipelihara sebagai teman bermain.

Mereka masih tetap identik dengan laut atau pantai. Tapi, ada juga yang menjalani hidupnya di daerah tropis, seperti family Coenobitidae. Meskipun demikian, mereka masih butuh air agar insangnya tetap berair

Untuk bereproduksi dan bertahan hidup, mereka juga masih membutuhkan air. Selain Coenobitidae lebih banyak menghabiskan waktunya tidak jauh dari air asin dan di perairan yang dangkal.

Yang membuat kelomang unik adalah karena mereka sering ‘pindah rumah’ atau berganti cangkang. Mereka akan segera mengganti cangkangnya jika ukurannya tidak cocok lagi karena tubuh mereka terus bertumbuh.

Saat proses molting atau berganti cangkang, terlihat seperti sudah mati

Mengenal Kelomang, Kepiting Unik yang Hobi Pindah Rumah

(foto: pinterest)

Cangkang mereka jelas punya peran vital, yaitu menjaga abdomen dan juga menjaga kelembapan tubuh.

Cangkang yang terbaik bagi mereka yaitu yang bisa membuatnya aman dari serangan predator, terdapat ruang yang pas untuk melindungi dan tentu membuat gerakannya nyaman.

Pergantian cangkang ini disebut molting, yaitu saat kerangka luarnya lepas dan tumbuh kerangka yang baru. Proses molting bisa membuat mereka stres dan rentan.

Proses molting terjadi 18 bulan satu kali, tapi juga ada yang lebih banyak. Sekali molting, mereka butuh waktu selama 4 sampai 8 pekan.

Untuk molting, mereka harus melepaskan bagian tertentu dari tubuhnya. Untuk sementara, mereka tidak dapat bergerak dan tampak seperti sudah mati. Tapi proses tersebut adalah sesuatu yang normal.