Mengenal Lubna, Budak Wanita yang Jadi Tokoh Penting di Istana Cordoba

Pada masa kejayaan peradaban Islam di Andalusia, banyak tokoh yang terkenal dengan ilmunya. Perkembangan ilmu pengetahuan di Andalusia juga berkat dukungan para pemimpinnya.

Mereka yang aktif di bidang sains tidak hanya laki-laki tetapi juga perempuan. Salah satu sosok perempuan asal Andalusia yang dikenal cerdas adalah Lubna, seorang pejuang literasi dari Cordoba.

Ia menjadi salah satu tokoh penting istana Cordoba di era Bani Umayyah.

Baca juga: Mengenal Guan Yu, Jendral Perang Tiongkok yang Disegani Kesetiaannya

Terlahir sebagai gadis budak, tetapi kecerdasannya diakui oleh banyak orang

(foto: pinterest)

Mengenai nama lengkapnya, belum ditemukan informasi lebih lanjut. Berbagai literatur hanya menyebutnya Lubna dari Cordoba yang lahir sebagai gadis budak.

Selama abad ke-10 di Andalusia masih ada tradisi jual beli budak. Beberapa kali namanya juga disebut dengan versi lain, yaitu Labana Al Qurthuba.

Kontribusinya selama hidupnya membuatnya dikenang sebagai wanita Muslim hebat dari Andalusia.

Kecerdasannya diakui oleh banyak orang, mulai dari khalifah yang memimpin istana Cordoba hingga sejarawan.

Sejarawan Ibnu Bisykafal menyebutkan bahwa ia sangat ahli dalam menulis, menjadi penyalin naskah kuno, mahir berbahasa Arab, menulis puisi yang indah, perhitungan matematis, dan masih banyak lagi.

Semasa hidupnya, khilafah di Andalusia sangat mementingkan ilmu pengetahuan

Kenali Lubna, Gadis Yang Menjadi Tokoh Penting di Istana Cordoba

(foto: pixabay)

Pada masa hidupnya, Andalusia masih diperintah oleh seorang khalifah yang menaruh perhatian besar pada ilmu pengetahuan.

Berdasarkan informasi dari catatan Angel Gonzales Palencia Sejarah Sastra Arab SpanyolKhalifah Khalifah Abdurrahman III adalah seorang pemimpin yang benar-benar peduli dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

Meski pemimpin sebelumnya juga mengutamakan ilmu pengetahuan, khususnya untuk kegiatan menyalin berbagai naskah kuno ke dalam arsip penting di perpustakaan baru, namun aktif di era Khalifah Abdurrahman III.

Nama Lubna bukan satu-satunya orang yang berpotensi dipilih oleh khalifah, karena banyak tokoh lain yang juga berkompeten.

Namun sosoknya menunjukkan semangat, semangat tinggi, dan ketulusan, sehingga istana Cordoba mempercayainya.

Baca juga: Aksara Hieroglif, Sistem Penulisan Tertua yang Digunakan Orang Mesir

Telah mengajar aritmatika dan memimpin pengelolaan perpustakaan istana

Kenali Lubna, Gadis Yang Menjadi Tokoh Penting di Istana Cordoba

(foto: pinterest)

Tak hanya terkenal sebagai penyair dan penggiat literasi, ia juga berkesempatan besar di lingkungan keraton dan mengajarkan ilmu hitung kepada anak-anak di sekitar keraton.

Kecerdasan dan ketekunannya membawanya ke peran baru, yaitu menjadi sekretaris khalifah. Dalam hal literasi, ia memiliki minat dan kemampuan khusus untuk merawat naskah kuno.

Bahkan, kegigihannya membuat khalifah Abdurrahman III dari Kordoba mempercayakannya untuk mengurus perpustakaan istana Kordoba. Pada masanya, perpustakaan istana Cordoba memiliki lebih dari lima ribu manuskrip.

Tidak hanya bertanggung jawab mengelola koleksi manuskrip di perpustakaan, dia juga banyak mencari manuskrip lain di daerah untuk dikumpulkan sebagai koleksi di perpustakaan keraton.

Masih dipercaya mengelola perpustakaan Cordoba setelah khalifah meninggal

Kenali Lubna, Gadis Yang Menjadi Tokoh Penting di Istana Cordoba

(foto: elmundoentrenosotras)

Bakatnya dalam literasi juga terlihat dalam seni menulis huruf Arab yang indah. Hingga setelah wafatnya khalifah Abdurrahman III, beliau masih dipercaya untuk mengelola perpustakaan istana Cordoba.

Perpustakaan Cordoba sendiri merupakan salah satu perpustakaan terpenting karena banyaknya koleksi yang disimpan.

Berbagai sumber pengetahuan yang kemudian diilhami hingga Abad Pertengahan, semuanya tersimpan di perpustakaan Cordoba.

Sangat disayangkan mengapa namanya tidak begitu terkenal, meskipun kontribusinya besar. Pada tahun 984 M, ia meninggal tetapi tidak diketahui secara pasti apa penyebab kematiannya.

Selama hidupnya sebagai perempuan pejuang literasi, ia banyak berperan dalam peradaban di Andalusia.