Mengenal Sandelwood Pony, Kuda Pacu Asal Sumba yang Melegenda –

Hamparan alam Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu tempat yang paling terkenal di Indonesia. Tidak hanya cantik, tetapi juga menyimpan banyak kekayaan.

Jika menyebut hewan khas Nusa Tenggara Timur, mungkin yang langsung terlintas di benak banyak orang adalah komodo.

Padahal NTT juga terkenal dengan kuda-kudanya yang berkualitas. Salah satu kuda yang terkenal adalah Sandelwood Pony. Kuda yang juga dikenal dengan nama kuda sandel atau kuda Sumba ini memang memiliki beberapa keistimewaan.

Ada yang unik dari namanya. Dilaporkan Nasional geografis, Namanya berasal dari nama pohon cendana, yaitu Pohon cendana yang pernah tumbuh subur di tanah Sumba.

Baca juga: Asal Usul Kata Preman Dulu Punya Makna Positif

Meskipun ukurannya relatif kecil, ia memiliki kekuatan dan daya tahan yang luar biasa

(foto: shutterstock)

Cendana Pony dari Sumba telah lama dikenal di Indonesia sebagai jenis kuda terbaik. Secara genetik memang tidak sepenuhnya asli pulau Sumba.

Secara historis, kuda ini termasuk dalam jenis kuda pacuan yang disilangkan dari kuda poni lokal dengan kuda arab.

Jika dilihat dari dekat, bentuk kepalanya gagah, telinganya kecil dan matanya tajam. Tampilan warna cukup variatif, misalnya hitam, putih, maid black (hitam kecoklatan), krem, abu-abu, dan juga bergaris (plongko).

Jika dibandingkan dengan kuda ras Amerika dan Australia, posturnya relatif lebih kecil. Ukuran punggung kurang lebih 122-132 cm.

Meskipun lebih kecil, kecepatan dan daya tahannya luar biasa. Karena itulah Sandelwood Pony terkenal di dunia pacuan kuda.

Peternakan kuda masih menjadi prioritas masyarakat Sumba

Kenali Sandelwood Pony, Kuda Pacu Legendaris dari Sumba

(foto: pinterest)

Ada sebuah berita yang sedang viral saat itu. Warga Sumba Barat Daya pernah memberikan hadiah berupa kuda Sandelwood Pony kepada Presiden Joko Widodo saat berkunjung ke pawai.

Harga kuda dalam Rupiah ini cukup mahal, yaitu sekitar Rp. 70 juta.

Hal ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga masyarakat. Karena kepemilikan ternak sudah lama menjadi penanda status sosial di kalangan masyarakat adat Sumba.

Warga tidak hanya memelihara kuda, tetapi juga babi dan kerbau. Namun kuda tetap menjadi hewan yang dianggap istimewa, khususnya kuda sandel.

Untuk meningkatkan kecepatan dan stamina kuda, ada beberapa program persilangan dengan kuda jenis lain, misalnya Berdarah murni.

Baca juga: Keunikan Suku Huaulu, Rumah Adatnya Menyatu dengan Alam

Di masa lalu, itu digunakan sebagai alat transportasi untuk persembahan dalam tradisi lokal

Kenali Sandelwood Pony, Kuda Pacu Legendaris dari Sumba

(foto: shutterstock)

Keberadaan Sandelwood Pony juga menjadi salah satu daya tarik masyarakat untuk berkunjung ke Sumba. Habitatnya kini banyak ditemukan di daerah perbukitan dan sabana yang tersebar luas di Sumba.

Ternyata pada zaman dahulu Sandalwood Pony digunakan sebagai alat transportasi. Namun seiring berjalannya waktu, orang juga menggunakannya untuk mas kawin (beli) dan cinderamata yang berkaitan dengan tradisi.

Bahkan digunakan sebagai media perdamaian antar suku dan juga dibawa ketika datang ke pemakaman atau pemakaman.

Kuda Sandelwood telah menjadi salah satu komoditas penting di kalangan bangsawan Sumba ke berbagai daerah nusantara sejak tahun 1840 melalui kota Waingapu.

Beberapa daerah di Sumba rutin mengadakan parade dan pacuan kuda

Kenali Kuda Pacu Legendaris Sumba

(foto: mongabay)

Seperti disebutkan di atas, pesona kuda yang satu ini memang tidak main-main hingga bisa menjadi magnet wisata bagi Sumba.

Pada Juli 2017, parade kuda 1001 Sandelwood diadakan. Selain kekuatan kudanya sendiri, joki yang handal dan lincah juga sangat berpengaruh.

Pada umumnya parade yang diadakan di Sumba bertepatan pada pertengahan tahun.

Waktu ditentukan oleh pemimpin adat ketika bulan purnama muncul (naalbukolo). Inilah yang membuat Sandelwood Pony begitu melegenda.

Agar masyarakat lebih mengenalnya sebagai kuda pacu, diadakan lomba pacuan kuda di beberapa daerah di Sumba dalam konsep upacara pasola.

Upacara Pasola sendiri merupakan upacara perang tradisional yang diadakan setiap tahun.