Napoleon Bonaparte, Kaisar Prancis yang Berambisi Menguasi Eropa

Dunia sudah mengenal sosok Napoleon Bonaparte yang merupakan ahli strategi perang. Sangat lihai di banyak pertempuran, ia menjadi salah satu orang berpengaruh di sepanjang sejarah dunia.

Tidak diragukan lagi kalau ia sering jadi semacam panutan bagi para panglima perang, bahkan sampai ratusan tahun lamanya.

Sebagai kaisar Prancis, ia sangat berambisi untuk menguasai seluruh Eropa, baik dengan cara diplomasi, maupun dengan jalan mengobarkan perang.

Pernah dua kali kalah dalam perang. Kekalahan pertamanya di Moskow saat invasi ke Rusia (1812). Kekalahan kedua dan kemudian menjadi yang terakhir adalah di Waterloo (1815).

Baca juga: Sejarah Badut, Penghibur di Kerajaan yang Berubah Jadi Sosok Menakutkan

Sejak awal, ia merasa populer dan ingin menguasai seluruh Eropa

(foto: planettucker)

Sebelum mengalami kekalahan di pertempuran Waterloo, ia sudah terlebih dahulu membuat kebijakan yang melemahkan pertahanannya. Ini juga tidak lepas dari ambisinya untuk menguasai seluruh Eropa.

David Thompson dalam bukunya Europe Since Napoleon (1957) menggambarkan tentang betapa besar ego dan gengsi Napoleon Bonaparte.

“Ia memerintah Perancis karena ia merasa populer dan sukses sebagai jenderal, karena pasukannya loyal kepadanya, karena ia merasa telah mencurahkan segenap hidup, bakat, dan energinya untuk menang serta menjaganya.”

Sejak diangkat menjadi kaisar. Ia kemudian menjadi seorang diktator. Sampai pada saatnya Prancis tidak mampu untuk membiayai, memberi pelatihan, dan mempersenjatai prajurit-prajuritnya.

Masih terus berambisi, ia tetap melancarkan serangan invasi ke Waterloo meskipun situasi tidak lagi memungkinkan.

Kebijakan yang dibuat justru melemahkan pertahanannya sendiri

Pertempuran Waterloo, Perang Berdarah yang Menjadi Penutup Sejarah Napoleon Bonaparte

(foto: pinterest)

Periode tahun 1808 hingga 1815 merupakan fase jatuhnya Napoleon Bonaparte yang puncaknya di pertempuran Waterloo.

Seperti yang disampaikan Zakia Sultana dalam Napoleon Bonaparte: His Successes and Failures (2017) yang diterbitkan European Journal of Multidisciplinary Studies, ada banyak penyebab kekalahannya di Waterloo.

Mulai dari kebijakan yang direncanakan untuk mengalahkan Inggris, malah justru berbalik menjadi bumerang yang melemahkan pihaknya sendiri. Kebijakannya saat itu dibuat agar Inggris menjadi lemah.

Inggris sendiri waktu itu berseteru dengan Prancis bukan hanya di medan perang, tapi juga dalam bidang ekonomi. Prancis memblokade dan memboikot produk komersial buatan Inggris.

Kebijakan tersebut kemudian ditentang oleh berbagai pihak karena menyebabkan inflasi, menurunkan perdagangan internasional, meningkatkan angka pengangguran, dan merebaknya kasus kelaparan.

Di tengah kondisi yang tidak tepat, ia tetap melakukan invasi ke daerah lain di Eropa pada tahun 1815. Tanpa merasa jera karena fakta kekalahan tiga tahun sebelumnya di Rusia.

Baca juga: Asal Usul Kompas, Penunjuk Arah Mata Angin yang Sudah Berumur 2000 Tahun

Pasukannya sempat menguasai medan melawan Duke of Wellington

Pertempuran Waterloo, Perang Berdarah yang Menjadi Penutup Sejarah Napoleon Bonaparte

(foto: regencyhistory)

Pertempuran berdarah yang berlangsung di Waterloo, 15 km dari Brussel, Belgia itu menjadi akhir tragis sang Kaisar Prancis.

Saat itu tanggal 18 Juni 1815, sekutu Anglo (sekarang Inggris) di bawah pimpinan Duke of Wellington dan juga tentara Prusia membuat pasukan Napoleon Bonaparte kocar kacir di medan tempur.

Sebelum kalah, pasukannya sempat bisa menguasai medan perang. Apalagi didukung oleh jumlah pasukannya yang lebih banyak dibandingkan dengan pasukan Duke of Wellington.

Pasukan Napoleon ada 72.000, sedangkan Duke of Wellington ‘hanya’ 68.000.

Napoleon Bonaparte terkena jebakan dan ini menjadi pertempuran terakhirnya

Pertempuran Waterloo, Perang Berdarah yang Menjadi Penutup Sejarah Napoleon Bonaparte

(foto: historyextra)

Untuk dapat meredam serangan pasukan Napoleon yang sudah membabi buta di awal, Duke of Wellington memilih memasang strategi bertahan. Walaupun sebenarnya ini sebuah jebakan saja.

Saat pasukan milik Napoleon mulai memasuki garis depan pertahanan, Duke of Wellington dengan segera memerintah armadanya untuk meluncurkan serangkaian tembakan.

Duke of Wellington dan juga sekutunya berhasil membuat Napoleon terkecoh. Ini sekaligus menghentikan ambisinya untuk menguasai seluruh Eropa.

Setelah ini tidak ada lagi pertempuran yang dimenangkan Napoleon, karena ia diasingkan di Pulau Elba hingga kemudian meninggal dalam keadaan kesepian di St. Helena pada tanggal 5 Mei 1821.