Perairan Masalembo, Segitiga Bermuda Indonesia yang Banyak Menelan Korban

Kawasan perairan Segitiga Bermuda yang memiliki arus kencang memang terkenal sebagai salah satu tempat misterius di bumi.

Segitiga Bermuda adalah sebuah garis imajiner di Samudra Atlantik yang meliputi Bermuda, Miami, dan Puerto Rico.

Memang batas-batas akurat dari Segitiga Bermuda belum disepakati secara universal, tapi banyaknya insiden naas di wilayah itu membuat orang penasaran.

Selain di Samudra Atlantik, ada juga sejumlah titik perairan di muka bumi yang memiliki ciri-ciri misterius dan sering terjadi kecelakaan kapal. Salah satunya adalah perairan Masalembo yang berada di Indonesia.

Baca juga: Sejarah Penemuan Lampu Lalu Lintas, Dahulu Dipandang Mengerikan

Berada di antara Pulau Jawa, Sulawesi, dan Kalimantan

(foto: yachtchartermuller)

Masalembo terletak di antara Laut Jawa, Selat Makassar, Laut Flores, dan Selat Lombok. Meski sebenarnya lebih dekat ke Kalimantan, tapi secara administratif, Masalembo adalah bagian dari Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.

Kebanyakan masyarakat di kepulauan ini adalah suku Madura dan sebagian suku Mandar dari Sulawesi Barat.

Masalembo yang berada di antara Pulau Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi, posisinya seperti segitiga dengan tiga pulau tersebut sebagai titik sudutnya.

Lokasinya tersebut diperkirakan dapat membangkitkan kekuatan arus dan gelombang laut yang turut memicu kecelakaan di wilayah ini.

Pernah terjadi beberapa kecelakaan di perairan Masalembo

Banyak Menelan Korban, Perairan Masalembo Disebut Segitiga Bermuda Indonesia

(foto: 1001crash)

Tercatat sudah banyak peristiwa kecelakaan yang pernah terjadi pada kapal yang melintas di perairan Segitiga Masalembo.

Salah satu yang paling tragis adalah kecelakaan KM Tampomas II pada tanggal 21 Januari 1981 yang menelan ratusan korban jiwa. Kecelakaan lainnya adalah KM Teratai Prima pada tanggal 11 Januari 2007 juga periode angin monsun barat.

Tentu kita juga tidak lupa dengan sebuah maskapai warna orange, yaitu pesawat Adam Air yang juga bernasib naas karena jatuh dan tenggelam di perairan ini pada tanggal 1 Januari 2007.

Kecelakaan berikutnya yang terjadi di wilayah ini adalah KM Mutiara Indah pada 19 Juli 2007, KM Fajar Mas 27 Juli 2007, dan KM Sumber Awal pada 16 Agustus 2007. Ini adalah periode musim angin monsun timur.

Saat ada kapal kecelakaan dan tenggelam di perairan Segitiga Masalembo pada periode Desember hingga Januari, maka akan dengan cepat terseret jauh menuju ke Laut Flores atau hingga ke Laut Banda.

Baca juga: Unit 731, Penelitian Senjata Biologis Jepang yang Dirahasiakan

Ada mitos yang berkembang luas di masyarakat yang menyatakan perairan ini merupakan pusat kerajaan makhluk halus

Perairan Masalembo, Segitiga Bermuda Indonesia yang Banyak Menelan Korban

(foto: 30a)

Rentetan peristiwa di atas terjadi bukan tanpa sebab. Sebelum kita mengetahui penjelasan ilmiahnya, ada baiknya kita telusuri bagaimana pandangan masyarakat setempat.

Memang ada mitos yang berkembang di masyarakat Masalembo sendiri. Konon, perairan ini adalah pusat kerajaan makhluk halus.

Sekali waktu akan muncul gelombang bergaris putih yang dipercaya sebagai perlintasan gaib milik penguasa perairan tersebut. Dianggap bahaya, sehingga tidak ada nelayan yang berani melaut saat itu.

Meski sebenarnya ada penjelasan ilmiah yang masuk akal dan bisa membantu masyarakat mengantisipasi.

Fenomena ini muncul dipengaruhi oleh angin monsun timur dan monsun barat

Segitiga Bermuda Indonesia yang Banyak Menelan Korban

(foto: pinterest)

Menurut pemaparan dari Dr. Ing Widodo Pranowo, Peneliti Bidang Oseanografi di Kementerian Kelautan dan Perikanan, wilayah segitiga Masalembo ini dipengaruhi oleh angin monsun timur dan monsun barat.

Angin monsun barat bergerak dari arah barat menuju ke timur pada bulan Mei hingga November. Sementara itu, angin monsun timur bergerak dari arah timur menuju ke barat pada bulan Desember hingga April.

Puncak angin monsun timur bisa bergeser ke bulan Juli sampai September. Sedangkan puncak angin monsun barat pun tidak tetap, bisa geser antara bulan Desember sampai Februari.

Berdasarkan waktunya, terlihat bahwa intensitas angin timur lebih cenderung kuat daripada intensitas angin barat. Kedua angin monsun itulah yang akan membangkitkan arus dan gelombang laut.

Widodo Pranowo lebih lanjut menjelaskan bahwa gelombang dan arus yang terjadi bertepatan pada periode-periode puncak intensitas angin terkuat bisa menimbulkan arus cepat dan gelombang tinggi secara signifikan.

Kecepatan arus dan tinggi gelombang merupakan sebuah fenomena alami yang memengaruhi laju kecepatan kapal saat mengarungi wilayah perairan segitiga bermuda-nya Indonesia ini.