Perampok Cerdik Johny Indo, Pernah Dijuluki Robin Hood Indonesia

Nama Johny Indo pernah menggemparkan Indonesia tahun 1970-an. Namanya menjadi terkenal lantaran aksi kriminal yang dilakukannya.

Pernah dipenjara 14 tahun lamanya, nama Johny Indo kemudian keluar sebagai seorang pendakwah. Pengalaman hidupnya begitu berliku.

Sebagai blasteran Belanda, ia sempat minder, pernah patah hati, bekerja jadi montir, sopir, perampok, sampai bintang film.

Ternyata ada dorongan tersendiri mengapa sampai melakukan tindak kriminal. Beginilah kisah hidup seorang Johny Indo.

Baca juga: Kisah Nabi Adam, Manusia yang Pertama Menjadi Khalifah di Dunia

Lahir dan dibesarkan di Garut sebagai blasteran Belanda-Indonesia

(foto: viva)

Johny Indo adalah keturunan Belanda yang lahir di Garut, 6 November 1948. Namanya saat lahir adalah Johanes Hubertus Eijkenboom.

Ayahnya, Mathias Eijkenboom pada awalnya adalah serdadu asal Belanda yang ikut Indonesia saat Agresi Militer pertama, pada bulan Juli 1947.

Ibunya merupakan wanita asal Garut bernama Sophia. Ayahnya yang pada awalnya datang sebagai bagian dari tentara Belanda malah berpihak ke Indonesia.

Saat Belanda mengakui kedaulatan Indonesia 27 Desember 1949, ayahnya memilih tetap tinggal di Indonesia dan bergabung ke Kesatuan Siliwangi.

Pangkat ayahnya Letnan Satu Tituler dan bertugas di daerah Garut dan Bandung sampai tahun 1960.

Keluarganya kemudian pindah ke Jakarta, tepatnya di Mangga Dua dengan usaha bengkel.

Di sanalah nama panggilannya mulai terkenal dengan Johny Indo karena teman-teman sebayanya memanggilnya demikian.

Sempat minder karena kondisi fisiknya berbeda dari teman-temannya

Perampok Cerdik Johny Indo, Pernah Dijuluki Robin Hood Indonesia

(foto: cnn)

Saat itu temannya juga ada yang bernama Johny, jadi nama panggilan Johny Indo itulah yang menjadikannya terkenal seumur hidupnya.

Ternyata ia tidak begitu senang dengan nama panggilan yang diberikan padanya karena ada maksud teman-temannya untuk mengolok-ngolok soal fisiknya yang berbeda dari anak pada umumnya.

Hidung mancung dan mata birunya justru membuatnya minder di dalam pergaulan.

Tapi, memasuki usia remaja ia mulai mendapatkan kepercayaan diri setelah mengenal cinta pertamanya bernama Stella.

Pada awalnya harus patah hati karena ditolak Stella, tapi pada akhirnya menerima. Keduanya menikah di usia muda, yakni 16 tahun.

Setelah menikah, ia bekerja keras dari pagi hingga malam menjadi montir di bengkel milik ayahnya, kemudian di malam hari menjadi sopir truk.

Kadang ia menyesal menikah muda dan cepat punya anak karena merasa iri dengan temannya yang masih bebas bermain dan melanjutkan pendidikan.

Sempat berganti-ganti pekerjaan sampai akhirnya dunia entertainment mengubah hidupnya

Perampok Cerdik Johny Indo, Pernah Dijuluki Robin Hood Indonesia

(foto: cnn)

Kegalauan pun makin bertambah besar saat ia mendapat kabar ayahnya wafat pada tahun 1973.

Ia sangat terpukul, tapi tidak ingin menunjukkan kesedihan dengan siapa pun. Ucapan ayahnya semasa hidup selalu diingatnya.

“Anak laki-laki tak boleh cengeng!”

Sepeninggal ayahnya, tanggungannya bertambah yaitu ibu dan adik-adiknya. Untuk bisa mencukupi kebutuhan keluarga, ia berganti-ganti profesi.

Mulai dari jadi sopir, karyawan katering, foto model, sampai akhirnya menjadi seorang bintang iklan dan aktor.

Wajahnya yang keturunan Belanda ternyata membawa keberuntungan. Dunia entertainment pada tahun 1970-an ternyata suka tipe-tipe wajah blasteran.

Walau pada masa kecil sering diolok-olok, tapi ternyata di kemudian hari hal tersebut membuat hidupnya menemukan titik balik.

Perekonomian keluarganya membaik secara drastis. Penghasilannya diberikan untuk keluarganya.

Tapi sisanya ia gunakan untuk mengoleksi pistol, bermain ke klub-klub malam, dan selingkuh dengan wanita lain.

Baca juga: Kisah Nabi ibrahim, Melawan Raja Namrud hingga Hancurkan Berhala

Terpaksa menjadi perampok kelas kakap bersama teman-temannya

Perampok Cerdik, Pernah Dijuluki Robin Hood Indonesia

(foto: historia)

Menabung atau hidup hemat tidak pernah terbayang di benaknya. Gaya hidupnya di dunia entertainment sudah membuatnya lalai.

Pada akhirnya ia sadar kondisi keuangannya kembali memprihatinkan.

Teman-temannya yang sedang menganggur menemuinya di rumah untuk dibantu pekerjaan. Padahal ia sendiri juga sedang sulit karena tidak ada tawaran film dan iklan.

Dalam kondisi menganggur dan bokek, ia enggan untuk kembali memakai keahliannya dulu menjadi montir dan sopir. Temannya pun menawarkan suatu hal yang mengejutkan.

“Bagaimana kalau merampok saja?”

Awalnya ia anggap itu adalah ide yang gila. Tapi ia diam-diam setuju.

Sudah lama ia baca buku bertema detektif, spionase, perang, cowboy, dan persilatan yang dari sana ia peroleh ilmu menjadi perampok kelas kakap.

Ia rencanakan strategi, persenjataan, dan juga waktu-waktu untuk beraksi.

Pernah membagikan hasil rampokan untuk orang miskin, tapi akhirnya merasa bersalah

Perampok Cerdik , Pernah Dijuluki Robin Hood Indonesia

(foto: liputan6)

Ada kode etik untuk dirinya sendiri dan kelompoknya, yaitu tidak boleh melukai, tidak boleh membunuh, dan tidak boleh memperkosa.

Antara tahun 1978-1979, penduduk Jakarta dihebohkan oleh perampokan di toko emas.

Jumlah yang dirampok tidak receh dan terjadi secara berturut-turut. Tapi korban jiwa tidak ada, sampai polisi merasa kewalahan untuk menemukannya.

Setelah berkali-kali lolos, ia merasa bangga dengan aksinya.

Ia pernah dijuluki Robin Hood dari Indonesia karena juga membagikan hasil rampokan untuk masyarakat miskin.

Ternyata hati kecilnya tidak bisa berbohong. Kepada keluarga, ia merasa bersalah.

Istrinya baru tahu tentang apa yang dilakukannya setelah polisi datang ke rumahnya pagi hari 18 April 1979.

Satu demi satu komplotannya juga tertangkap. Selama dipenjara, ia merasakan penyesalan tak terkira karena keluarganya harus ikut menanggung beban.

Februari 1988, ia keluar penjara dan jadi lebih religius. Pengalamannya juga menginspirasi sebuah film berjudul Johny Indo, Kisah Nyata Seorang Narapidana.