Mengenal 9 Rumah Adat Bali, Asri & Banyak Ornamen

Rumah Adat Bali – Apa yang pertama kali terlintas di benakmu ketika mendengar kata Bali? Tempat wisatanya yang indah? Atau adat dan budayanya yang unik?

Bali merupakan salah satu pulau di Indonesia yang terkenal akan keindahan wisatanya, baik wisata darat maupun laut. Banyak turis lokal maupun mancanegara yang datang hanya untuk menikmati keindahannya.

Selain wisata menakjubkan, pulau ini juga masih sarat akan keragaman adat dan budaya. Salah satunya adalah rumah adat yang hingga kini masih digunakan oleh hampir semua masyarakatnya.

Rumah adat Bali memiliki bagaian-bagian yang berciri khas unik dan berbeda dari rumah adat lainnya. Terdapat beberapa bagian-bagian yang terpisah dan tentu masing-masing dari mereka memiliki fungsi yang berbeda.

Nah, penasaran bukan? Yuk, simak penjelasannya berikut ini.

Baca juga: 5 Rumah Adat Sulawesi Selatan, Unik dan Filosofis

1. Angkul-angkul

(foto: istockphoto)

Ketika kamu akan masuk ke dalam rumah tradisional, maka kamu akan disambut dengan sebuah bangunan yang menjadi pintu gerbang, yang disebut dengan angkul-angkul.

Angkul-angkul merupakan bagian dari rumah Bali yang terletak di paling depan, yakni pintu gerbang.

Sama seperti gapura candi bantar yang digunakan sebagai pintu masuk, namun bedanya adalah pada angkul-angkul terdapat atap yang menggabungkan keduanya.

Pada jaman dahulu, atap yang digunakan berasal dari daun yang dikeringkan. Akan tetapi, saat ini banyak yang mengubahnya menjadi genteng.

2. Aling-aling

Mengenal 8 Nama Rumah Adat Bali, Unik dan Filosofis

(foto: instagram)

Aling-aling merupakan tembok pembatas antara angkul-angkul dan pekarang belakang rumah serta tempat suci.

Fungsinya adalah untuk menangkal gangguan dan kekuatan negatif yang akan masuk ke dalam rumah baik secara sekala maupun niskala.

Aling-aling sebagai pembatas antara angkul-angkul dengan pekarangan rumah menggunakan patung Ganesha, sebab patung tersebut diyakini sebagai simbol kebijaksanaan.

Sementara untuk pembatas antara angkul-angkul dengan tempat suci yang berada di dalam pekarangan rumah, menggunakan patung nawa sura dan nawa sari yang diletakkan pada pintu masuk sanggah atau tempat sembahyang.

3. Sanggah pamerajan

Mengenal 8 Nama Rumah Adat Bali, Unik dan Filosofis

(foto: rumah)

Kata sanggah pamerajan berasal dari bahasa Bali. Kata sanggah berarti “tempat suci”, sementara pamerajan berarti “keluarga”.

Bisa disimpulkan bahwa sanggah pamerajan memiliki arti yakni tempat suci bagi keluarga yang letaknya berada di rumah.

Ada tiga bentuk sanggah pamerajan yang bisa digunakan menurut kepercayaan masing-masing. Pertama adalah sanggah pemerajan trimurti yang dibangun mengikuti konsep MPU Kuturan.

Selanjutnya, sanggah pamerajan tripurusha yang dibangun mengikuti konsep Danghyang Nirarta. Terakhir adalah sanggah pamerajan gabungan antara trimurti dengan tripurusha.

4. Bale meten atau bale daja

Mengenal 8 Nama Rumah Adat Bali, Unik dan Filosofis

(foto: rumah)

Bale meten atau bale daja merupakan bangunan yang diletakkan sesuai dengan arah mata angin. Berdasarkan namanya, yakni daja yang berarti “utara”, maka bangunan ini diletakkan di sebelah Utara dekat dengan tempat suci sanggah.

Adapun dua bale yang terletak di dalamnya, masing-masing memiliki fungsi berbeda. Bale sebelah kiri berfungsi sebagai tempat tidur kepala keluarga atau orang yang dituakan, sementara bale sebelah kanan berfungsi untuk tempat sembahyang, meletakkan benda pusaka atau peralatan sembahyang.

Saat ini, tidak hanya rumah tradisional saja yang menggunakan bele meten atau bele daja. Banyak hotel atau rumah penginapan menggunakan desain bangunan ini karena dianggap mampu menarik wisatawan karena keunikannya.

5. Bale Dauh / Loji (Bale Tiang)

Mengenal 8 Nama Rumah Adat Bali, Unik dan Filosofis

(foto: rumah)

Bale deuh adalah bangunan yang terletak di halaman sebelah barat. Bentuknya persegi panjang dilengkapi dengan tiang-tiang yang terbuat dari kayu.

Penyebutan tiang-tiang pada bale deuh berbeda berdasarkan jumlahnya. Jika berjumlah enam disebut sekanem, berjumlah delapan disebut sakura atau astasari, berjumlah sembilan disebut tiang sanga atau sangasari.

Bale dauh memiliki fungsi yakni sebagai tempat untuk menerima tamu. Selain itu, juga digunakan sebagai tempat tidur atau peristirahatan bagi anak yang sudah remaja maupun dewasa.

Baca juga: Rentan Bencana Alam, Vanuatu Termasuk Negara Paling Bahagia di Dunia

6. Bale dangin atau bale gede

Mengenal 8 Nama Rumah Adat Bali, Unik dan Filosofis

(foto: rumah)

Bale dangin atau bale gede merupakan sebuah bangunan yang terletak di sebelah timur dalam pekarangan dengan menggunakan bebaturanyang lantainya lebih tinggi dari halaman tetapi lebih rendah dari bale meten. Bangunan ini memiliki 12 tiang di dalamnya.

Bentuk bangunan bale dangin adalah segi empat atau persegi panjang dengan dilengkapi tiang yang berjumlah enam, delapan, dan sembilan. Jika tiang berjumlah 12 maka disebut dengan bale gede.

Fungsi bale dangin adalah sebagai tempat untuk upacara. Di dalamnya terdapat satu bale-bale, sementara pada bale gede terdapat dua bale-bale yang diletakkan di sebelah kiri dan kanan.

7. Bale delod

Bale delod

(foto: rumah)

Bale delod merupakan bangunan yang terletak di sebelah selatan. Bangunan ini disebut juga sebagai bale kematian karena berfungsi sebagai tempat untuk meletakkan jenazah sebelum dilakukan upacara ngaben.

Selain disebut dengan bale kematian, bale ini juga kerap disebut sebagai bale payadnyan, sebab seringkali digunakan sebagai tempat untuk meletakkan sesajen atau banten sebelum melaksanakan yadnya, upacara pernikahan dan tempat pelaksanaan manusa yadnya.

Fungsi lain dari bale ini adalah sebagai tempat untuk menerima tamu, serta untuk kegiatan adat lainnya.

Fondasi bale delod harus lebih rendah dibanding bale dangin, bale meten, dan bale deuh.

8. Jineng atau lumbung

Jineng atau lumbung

(foto: rumah)

Jineng atau lumbung merupakan bangunan yang diletakkan di sebelah tenggara bale delod. Pada bangunan ini, terdapat dua bagian yakni bagian atas dan bagian bawah yang keduanya memiliki fungsi masing-masing.

Pada jineng bagian atas, fungsinya adalah sebagai tempat untuk menyimpan hasil panen berupa padi maupun hasil panen dari kebun seperti buah-buahan, palawija, dan lain sebagainya.

Sementara pada jineng bagian bawah, berfungsi sebagai tempat peristirahatan atau tempat bersantai.

Sebenarnya, jineng tidak hanya digunakan sebagai tempat penyimpanan padi atau hasil panen kebun lainnya, akan tetapi juga memilki makna yang sakral, diantaranya sebagai tempat untuk membangun sikap produktif dan juga hemat.

Selain itu, juga sebagai sarana untuk menumbuhkan nilai-nilai siritual kepada generasi penerus agar bisa hidup hemat sehingga dapat membangun hidup yang makmur.

9. Paon atau dapur

Paon atau dapur

(foto: pinterest)

Kata paon sebenarnya berasal dari Bahasa Jawa Pawon yang berarti “dapur”. Bangunan ini terletak di sebelah selatan paling depan, sebab masyarakat Hindu Bali menganggap bahwa dapur adalah yang utama.

Terdapat filosofi menarik di dalamnya, mengapa dapur dijadikan sebagai tempat utama. Sebab, mereka percaya bahwa setiap setelah pulang dari bepergian, tempat persinggahan pertama sebelum masuk ke dalam rumah adalah dapur.

hal ini dikarenakan api yang ada di dalamnya mampu mengusir dan menetralisir aura negatif yang dibawa dari luar rumah saat bepergian. Oleh sebab itu, dapur harus dibangun lebih dahulu sebelum membangun bagian-bagian rumah lainnya.

Akhir kata

Nah, itulah nama-nama rumah adat Bali beserta fungsi dan maknanya. Bisa kita simpulkan bahwa rumah adat Bali memilili ciri unik tersendiri dan berbeda dengan rumah adat dari provinsi lainnya.

Hal itulah yang menjadikan rumah Bali banyak menarik perhatian wisatawan yang mampir, sehingga banyak hotel dan penginapan mengambil desain rumah adat tersebut.

Walaupun saat ini merupakan era modern dan banyak desain rumah yang bisa dipilih, namun sebagai masyarakat Bali jangan lupa untuk tetap meneruskan tradisi yang terdapat pada bagian-bagian di dalamnya.