Sejarah Boyolali, Berawal dari Perjalanan Seorang Wali

Boyolali adalah salah satu kabupaten di Jawa Tengah. Lokasinya berjarak sekitar 25 km dari kota Solo. Wilayahnya juga terletak di kaki Gunung Merapi dan Merbabu.

Wilayahnya dilalui oleh jalan yang menghubungkan Solo dan Semarang. Dengan jalur berbukit-bukit, perjalanan di daerah Boyolali akan memberi kesan tersendiri.

Satu yang terkenal dari Boyolali adalah peternakan sapi perah yang menghasilkan susu sapi yang terkenal di Jawa Tengah dan sekitarnya.

Satu hal yang menarik tentang Boyolali adalah sejarahnya. Kali ini kita akan membahas sejarah Boyolali yang tidak lepas dari legenda turun temurun.

Baca juga: Asal Usul Hanacaraka, Penulisan Aksara Jawa dan Legenda Ajisaka

Berawal dari kisah perjalanan Ki Ageng Pandan Arang untuk menyiarkan agama

(foto: rebanas)

Saat mendengar nama kotanya, mungkin orang Jawa akan langsung terlintas pikiran tentang buaya lupa (boyo lali). Tidak sedikit yang menduga-duga bahwa sejarah Boyolali berasal dari kisah seekor buaya yang sedang lupa.

Ternyata dugaan itu tidak tepat karena nama kabupaten Boyolali tidak ada hubungannya dengan hewan buaya.

Salah satu kisah legenda terkenal telah menyebutkan bahwa nama Boyolali terkaitan dengan kisah Ki Ageng Pandan Arang, seorang bupati Semarang abad ke-16.

Ceritanya berawal saat Ki Ageng Pandan Arang diramal oleh Sunan Kalijaga sebagai seorang wali penutup yang menggantikan Syeh Siti Jenar.

Sunan Kalijaga mengutus Ki Ageng Pandan Arang untuk pergi ke Gunung Jabalakat di Tembayat, Klaten dengan tujuan menyiarkan agama.

Banyak rintangan di perjalanan, bahkan sempat bertemu perampok

Sejarah Boyolali, Berawal dari Perjalanan Seorang Wali

(foto: wikiwand)

Ki Ageng menemui banyak halangan dan rintangan yang berat dalam perjalanan dari Semarang menuju ke Tembayat. Cukup jauh Ki Ageng berjalan dan meninggalkan anak istrinya di belakang.

Saat tiba di hutan belantara, ada tiga rampok menyerangnya karena disangka membawa banyak harta benda. Ternyata tiga orang rampok salah, karena tidak ada banyak harta yang dibawa Ki Ageng.

Di kemudian hari, lokasi perampokan dikenal sebagai kota Salatiga yang berasal dari ‘salah tiga’. Perjalanan Ki Ageng dilanjutkan sampai ke suatu daerah yang ada banyak bambu kuning atau bambu Ampel.

Tempat tersebut menjadi daerah kecamatan Ampel, Boyolali. Tujuan utamanya masih dirasa jauh dan sesekali Ki Ageng menengok ke belakang, barangkali anak istrinya mengikuti.

Baca juga: Kisah Lutung Kasarung, Pangeran Tampan yang Menyamar di Hutan

Ki Ageng sempat beristirahat di tempat yang kini termasuk dalam wilayah Boyolali

Sejarah Boyolali, Berawal dari Perjalanan Seorang Wali

(foto: wartaboyolali)

Selama melakukan perjalanan jauh, Ki Ageng istirahat di salah satu batu besar di tengah sungai dan mengucapkan sebuah kalimat.

Baya wis lali wong iki?”

Dalam bahasa Indonesia, kalimatnya berartin ‘Sudah lupakah orang ini?’. Orang yang dimaksud adalah anak istrinya yang masih belum ikhlas untuk pergi melakukan perjalanan sufi karena alasan-alasan duniawi.

Dari kalimat ‘baya wis lali’ itulah sejarah Boyolali yang dikisahkan turun temurun.

Tempat istirahat Ki Ageng saat menunggu anak istrinya kini dipercaya terdapat pada batu besar di Sungai Pepe yang mengalir di kabupaten Boyolali.

Demikian juga dengan sebuah batu besar di depan Pasar Sunggingan, Boyolali yang menurut penduduk setempat batunya dahulu pernah disinggahi anak dan istri Ki Ageng untuk beristirahat.

Sejarah Boyolali menjadi pengingat bagi penduduknya agar tidak lalai

Sejarah Boyolali, Berawal dari Perjalanan Seorang Wali

(foto: wisataboyolali)

Konon dahulu batu di depan Pasar Sunggingan diketuk-ketuk sedemikian rupa sehingga berbekas seperti lubang pada permainan dhakon. Masyarakat pun menganggapnya keramat tidak ada yang coba-coba mengusiknya.

Terlepas dari kisah legenda tentang sejarah Boyolali yang sudah mengakar di masyarakat, Kabupaten Boyolali resmi didirikan pada tahun 1847.

Tepatnya, 5 Juni 1847 yang ditandai dengan surya sengkalaKas Wareng Woh Mojo Tunggal’.

Masih ada lagi narasi lainnya terkait namanya, Boyolali dipercaya berasal dari kata-kata ‘boya’ dan ‘lali’ yang dimaknai sebagai ‘jangan lupa’.

Kalimat tersebut menjadi semacam semboyan sekaligus pengingat bagi penduduknya, khususnya para pemimpin untuk tidak lupa atau lalai saat melaksanakan tugas, selalu patuh, dan penuh tanggung jawab dan kewaspadaan.