Sejarah Lampion, Simbol Budaya Tionghoa di Seluruh Dunia

Lampion sepertinya tidak lepas dari tradisi masyarakat Tionghoa, khususnya saat hari raya Imlek. Keberadaannya jadi sebuah simbol budaya yang menjadi tanda pergantian tahun pada kalender Tionghoa.

Hari raya Imlek memang terasa lebih meriah dengan kehadiran lampion di sudut-sudut jalanan kota dan rumah-rumah penduduk keturunan Tionghoa.

Ternyata bukan hanya untuk dekorasi saat tahun baru, sejarahnya dulu diciptakan untuk mencegah datangnya roh jahat. Inilah cerita selengkapnya.

Baca juga: Kisah Nabi Yahya, Pribadi Penyayang dan Pembela Kebenaran

Asal usulnya adalah lilin yang ditutupi untuk mencegah datangnya roh jahat

(foto: pinterest)

Berdasarkan sejarahnya, diperkirakan bahwa tradisi di daratan China untuk memasangnya adalah warisan dari era Dinasti Han pada abad ke-3 Masehi. Sejarahnya juga nyaris bertepatan dengan sejarah pembuatan kertas.

Pada awalnya lampion dibuat dengan bahan kulit hewan, kain, dan sebagian lagi dari kertas.

Berabad-abad kemudian, lampion yang berwarna merah mulai identik sebagai sebuah simbol tahun baru pada kalender Tionghoa di era Dinasti Ming.

Sebelum lilin ini terkenal, memang masyarakat Tionghoa banyak memakai lilin untuk penerangan di dalam atau di luar rumah. Penerangan sangat dibutuhkan masyarakat untuk memudahkan aktivitas.

Agar lilinnya tetap menyala, masyarakat butuh pelindung atau penutup melingkar. Bahan pelindung yang dipakai waktu itu bisa berupa kertas atau kain sutra. Lilin yang dilindungi kertas itulah cikal bakal lampion.

Kebiasaan memasangnya sudah berlangsung secara turun temurun

Sejarah Lampion, Simbol Budaya Tionghoa di Seluruh Dunia

(foto: kalderanews)

Sejak zaman dahulu memang masyarakat Tionghoa percaya tentang adanya monster atau roh jahat yang dapat menganggu kehidupan manusia.

Menurut legenda klasik, sejarahnya juga dikaitkan dengan pengusir roh jahat raksasa yang berwujud Nian.

Itulah mengapa, lampion banyak dipasang di beberapa sudut rumah. Kebiasaan memasangnya juga sudah berlangsung secara turun temurun. Bentuknya secara konvensional adalah bulat dan dilengkapi rangka bambu.

Seiring dengan perkembangan zaman, ada juga bentuk-bentuknya yang kian bervariasi. Contoh variasinya yaitu lampion dengan rangka logam dan bisa berfungsi menjadi lampu meja yang bentuknya bunga teratai kuncup.

Bukan hanya bentuk teratai, tapi sebenarnya juga masih banyak lagi kreasinya yang memeriahkan jalanan saat tahun baru atau dipasang di depan rumah.

Baca juga: Mengenal Terapi Shinrin-yoku, Tradisi Jepang Berjemur di Hutan

Diadaptasi dari ritual para biksu dan menjadi kebanggaan masyarakat Tionghoa

Sejarah Lampion, Simbol Budaya Tionghoa di Seluruh Dunia

(foto: jatengdaily)

Melansir dari sebuah situs China Higlight, keberadaan lampion, menurut laman China Highlight juga diadaptasi dari ritual ibadah para biksu.

Walau di kemudian hari, lebih banyak yang menggunakannya untuk festival memeriahkan perayaan Imlek.

Bukan hanya di negeri asalnya, bahkan sampai ke kota-kota di Indonesia seperti di Solo dan Semarang. Asal mula festival lampion sendiri mulai dikenal sejak era Dinasti Tang tahun 618-907 Masehi.

Pada era Dinasti Tang itulah lampion dipasang sebagai dekorasi untuk memeriahkan acara budaya. Sampai akhirnya dekorasi yang unik tersebut menjadi kebanggaan masyarakat Tionghoa.

Cahayanya yang berwarna merah punya makna sendiri yang filosofis. Warna merah menyala adalah simbol untuk harapan bahwa pada tahun baru dipenuhi dengan banyak rezeki,  keberuntungan, dan kebahagiaan.

Seiring waktu, lampion dianggap simbolis semata dengan berbagai hiasan dan ornamen

Sejarah Lampion, Simbol Budaya Tionghoa di Seluruh Dunia

(foto: pinterest)

Pada zaman dahulu, lampion yang dipasang berjumlah genap. Jumlah genap yang dipilih kecuali 4 karena bermakna kematian.

Sekarang memang lampion tidak lagi berfungsi untuk mengusir roh jahat, justru membuat suasana jadi lebih menarik.

Tapi, bukan berarti bahwa kepercayaan pada benda tersebut sudah luntur begitu saja. Pada praktiknya di zaman sekarang, beberapa rumah orang Tionghoa tidak memasang lampion dengan jumlah yang harus genap.

Keberadaan lampion saja sudah dirasa cukup karena seiring berjalannya waktu keyakinan seperti itu dianggap simbolis semata. Ada masyarakat yang berpandangan bahwa yang penting sudah memasangnya.

Warnanya masih identik dengan warna merah, dan ukurannya beragam. Penutupnya juga sering dihias dengan macam-macam karakter atau ornamen.

Sampai hari ini lampion tetap menjadi simbol budaya Tionghoa di seluruh dunia.