Sejarah Malioboro, Ikon Yogyakarta dan Surga Belanja Wisatawan –

Saat berkunjung ke Yogyakarta, kurang lengkap rasanya kalau belum mampir belanja ke Malioboro. Jika tidak belanja pun tidak apa-apa, setidaknya bisa berfoto di beberapa spot menarik.

Seperti yang banyak orang tahu, Yogyakarta adalah salah satu kawasan yang ikonik dan menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan.

Posisinya yang sangat dekat dengan stasiun Yogyakarta, membuat para wisatawan luar kota mudah mengunjunginya.

Selain menjadi surga belanja oleh-oleh khas Yogyakarta, di sana juga sering ada penampilan musisi jalanan yang memberi kesan tersendiri pada suasana Yogyakarta.

Baca juga: Kisah Lutung Kasarung, Pangeran Tampan yang Menyamar di Hutan

Ada anggapan bahwa namanya terinspirasi dari tentara Inggris bernama Marlborough

(foto: pinterest)

Sejauh ini tidak sedikit yang menganggap nama Malioboro ada kaitannya dengan nama tokoh militer asal Inggris bernama Marlborough.

Nama Marlborough dirasa cukup sulit diucapkan oleh orang Jawa, sehingga muncullah nama Malioboro yang lebih mudah diucapkan.

Penggalan kisah tersebut muncul berdasarkan sebuah catatan yang menyebutkan bahwa Kraton Yogyakarta pada era Sultan Hamengku Buwono II sempat dirampok pasukan Inggris.

Insiden perampokan yang terjadi pada tahun 1812 dikenal dengan Geger Sepehi.

Terkait asal-usul sejarah versi pertama ini, para sejarawan masih mempertanyakan kebenarannya dan tentunya butuh beberapa bukti lebih lengkap.

Memang pernah ada tentara Inggris bernama Marlborough, tapi sudah meninggal sebelum peristiwa Geger Sepehi. Menurut Raffles dalam The History of Java (1817), tidak ada bahasan tentang Marlborough di Yogyakarta.

Berasal dari kata Malyabhara yang dimuat dalam kitab Ramayana

Sejarah Malioboro, Ikon Yogyakarta dan Surga Belanja Wisatawan

(foto: liputan6)

Sejarah Malioboro versi selanjutnya adalah berasal dari kata Malyabhara yang dimuat di kitab Ramayana. Malyabhara terdiri dari dua kata bahasa Sansekerta yaitu malya dan bhara.

Malya artinya karangan bunga dan bhara artinya menyajikan. Pada abad 9-10 M, kata Malyabhara juga muncul di dalam kitab Ramayana versi Jawa.

Bukan hanya di Ramayana, tapi juga terdapat dalam naskah Parthawijaya yang tertanda abad ke-14, kemudian kembali disebut dalam naskah Dharmasunya yang pernah ditulis di Kartasura tahun 1714.

Banyak sejarawan yang meyakini bahwa kata Malyabhara memberi inspirasi pada Sultan Hamengku Buwono I, sebagai perancang tata kota, untuk memberi nama tempat-tempat di kotanya.

Pernyataan tersebut semakin diperkuat dengan gagasan Malyabhara yang terjadi sebelum perjanjian Giyanti 1755.

Baca juga: Sejarah Boyolali, Berawal dari Perjalanan Seorang Wali

Jalannya yang bersejarah dibangun seiring dengan pendirian Kraton Yogyakarta

Sejarah Malioboro, Ikon Yogyakarta dan Surga Belanja Wisatawan

(foto: raiyani)

Fungsi Malyabhara di Yogyakarta abad 19-20 M adalah untuk upacara menyambut kedatangan tamu-tamu petinggi Belanda dari Batavia.

Di sepanjang Malyabhara juga dipasang beberapa lengkung papah daun kelapa dengan janur kuning dan karangan bunga, sebagaimana pengertian Malyabhara di dalam bahasa Sansekerta.

Sampai sekarang, pendapat kedua itulah yang lebih diyakini oleh para sejarawan. Di kemudian hari, Malyabhara dituliskan seperti bagaimana cara mengucapkannya dalam bahasa Jawa yaitu Malioboro.

Sepanjang jalannya, akan memberi kesan istimewa. Apalagi kalau melihat posisinya di Yogyakarta. Jalan Malioboro dibangun seiring dengan pendirian Kraton Yogyakarta.

Keberadaannya tidak lepas dari sebuah konsep tata kota Yogyakarta yang membujur lurus dengan arah utara-selatan.

Jalan-jalannya berpotongan secara tegak lurus dari arah Kraton Yogyakarta, Malioboro, sampai ke Tugu Pal Putih.

Posisinya strategis dan berperan penting untuk perekonomian masyarakatnya

Sejarah Malioboro, Ikon Yogyakarta dan Surga Belanja Wisatawan

(foto: sweetrip)

Polanya yang lebih besar diperkuat lagi dengan sebuah ‘poros imajiner’ yang terbentang dari utara ke selatan, dengan kraton sebagai titik tengah.

Porosnya terwujud di dalam bentuk Tugu Pal Putih di sebelah utara, ke arah selatan berupa jalan Margatama, Margamulya, Kraton Yogyakarta, jalan DI. Panjaitan, dan berakhir di Krapyak.

Jika Tugu Pal Putih sebagai titik awal diteruskan lagi ke utara, maka akan sampai ke wilayah Gunung Merapi. Sementara itu, jika titik akhir Krapyak ke selatan diteruskan, maka akan sampai ke Samudera Hindia.

Bukan hanya sejarah dan posisinya yang cenderung strategis, keberadaannya juga sangat penting untuk perekonomian masyarakatnya. Sampai hari ini, aktivitas perdagangan di Malioboro masih sangat terasa.

Saat musim liburan, banyak wisatawan yang memenuhi pedestrian entah untuk belanja, berfoto, atau sekadar nongkrong.