6 Tari Tradisional Jawa Tengah, Unik dan Bersejarah

Jawa Tengah memiliki beragam budaya seperti pakaian adat, senjata tradisional, bahasa daerah, tarian tradisional, dan masih banyak lagi keragaman budaya lainnya.

Namun, saat ini yang paling menarik perhatian dari keragaman budaya daerah adalah tarian tradisionalnya.

Jawa Tengah memiliki beberapa tarian tradisional yang cukup unik dan menarik. Tarian tradisional ini masih dilestarikan dengan menampilkannya pada pertunjukan seni atau acara resmi lainnya.

Walaupun berbagai kesenian daerah saat ini seolah-olah diadopsi dan dilupakan oleh generasi penerus bangsa, namun daya tarik dan keunikan seni tari tradisional masih banyak diminati oleh masyarakat tertentu di Indonesia.

Berikut beberapa jenis tarian tradisional dari Jawa Tengah yang wajib Anda ketahui.

Baca juga: 8 Alat Musik Tradisional Betawi, Dari Tanjidor Sampai Marawis

1. Tari Gambir anom

{foto: instagram)

Tari Gambir anom adalah tarian tradisional yang berasal dari Surakarta, Jawa Tengah dan sudah ada sejak zaman Kerajaan Mataram Islam. Dulu, tarian ini dibawakan saat penyambutan para pejabat istana.

Konon Tari Gambir Anom menggambarkan tokoh Irawan yang merupakan anak dari tokoh pewayangan yang sedang jatuh cinta pada seorang wanita. Oleh karena itu, setiap gerakan tarian ini menunjukkan ekspresi seperti sedang jatuh cinta.

Pada awal kemunculannya, tarian ini hanya dimainkan oleh pria, namun seiring berjalannya waktu, tarian ini juga bisa dilakukan oleh wanita.

Keunikan dari tari gambir anom ini adalah terdapat gerakan-gerakan pantomim yang biasa dibawakan dalam tarian ini seperti mirroring, bingung, dan lain-lain sebagai gambaran keadaan seorang remaja yang sedang jatuh cinta. Selain itu juga menampilkan gerakan tari yang anggun.

Tarian tradisional ini umumnya dimainkan oleh 7 orang penari. Ada beberapa gerakan di dalamnya seperti jengkeng, pemujaan, hoyog, entrag, menthang, panggel, nyekithing, trap jamang, ulap-ulap, ukel, tawing-taweng, seblak sampur, kebyok, kebyak, debeg, gejug, napak, dan masih banyak lagi. gerakan lainnya. lainnya.

Berbagai properti yang digunakan para penari sangat unik, yaitu kostum para tokoh pewayangan dan juga kain sampur sebagai pelengkapnya.

2. Tari Gambyong

6 Tarian Tradisional Jawa Tengah.  unik dan bersejarah!

(foto: instagram)

Tari Gambyong adalah tarian tradisional yang berasal dari Surakarta, Jawa Tengah. Tarian ini biasanya dibawakan untuk pertunjukan atau penyambutan tamu.

KRMT Wreksadiningrat merupakan salah satu pelatih tari kerajaan pada masa pemerintahan Pakubuwana IX (1861-1893), menjadikan tarian rakyat ini sebagai tarian yang unik dan menarik sehingga patut dibawakan di kalangan bangsawan atau priyayi.

Setelah tarian ini diperbarui, barulah tarian ini dibawakan saat penyambutan tamu di keraton Mangkunegaran.

Kemudian tari gambyong dibuat ulang dengan versi lain yang dipatenkan dan dikenal dengan nama gambyong pareanom oleh seorang pelatih tari bernama Nyi Bei Mintoraras pada masa Mangkunegara VIII tahun 1950.

Tari gambyong terbagi menjadi 3 bagian yaitu bagian awal, isi, dan bagian akhir. Atau dalam istilah Jawa, Surakarta dikenal dengan sebutan Beksan Maju, Beksan, dan Beksan Mundur.

Gerakan yang menjadi pusat dari tarian ini adalah gerakan kaki, tangan, badan, dan kepala. Namun yang menjadi ciri dari gerakan tarian ini adalah gerakan tangan dan gerakan kepala.

Pakaian yang digunakan bernuansa kuning dan hijau sebagai simbol kemakmuran dan kesuburan. Sebaik,

Teknik gerak, irama pengiring tari dan pola kendhangan mampu menampilkan karakter tari yang luwes, kenes, kewes, dan tregel.

3. Tari Serimpi

6 Tarian Tradisional Jawa Tengah.  unik dan bersejarah!

(foto: instagram)

Tari Serimpi adalah tarian tradisional yang berasal dari Surakarta dan Yogyakarta. Tarian ini berasal dari kerajaan Mataram, ketika Sultan Agung memerintah pada tahun 1613-1646.

Konon tarian ini menjadi tarian sakral karena hanya dibawakan pada peringatan kenaikan takhta sultan dan acara kerajaan.

Pada tahun 1775 kerajaan Mataram pecah menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kesultanan Surakarta. Hal inilah yang menyebabkan tari Serimpi terbagi menjadi dua daerah yaitu Surakarta dan Yogyakarta.

Dalam tari serimpi terbagi menjadi 3 bagian, yaitu tujuan maju, tarian utama, dan tujuan mundur. Tarian ini dibawakan oleh 4 orang wanita yang menggambarkan unsur keberanian prajurit.

Pakaian yang dikenakan penari pada awalnya adalah pakaian pengantin wanita. Namun seiring berjalannya waktu dan perkembangan zaman, para penari serimpi memakai pakaian sedan dan tanpa lengan.

Baca juga: 7 Nama Rumah Adat Sumut yang Masih Lestari

4. Tari Bedhaya

6 Tarian Tradisional Jawa Tengah.  unik dan bersejarah!

(foto: instagram)

Tari Bedhaya adalah salah satu bentuk tarian tradisional Jawa Tengah yang berkembang di kalangan keraton para pewaris tahta Mataram.

Tarian ini hanya dipentaskan pada saat penobatan dan peringatan kenaikan tahta raja di Kasunanan Surakarta. Tak heran jika tarian bedhaya dianggap sebagai tarian yang sakral dan sakral.

Awal mula tarian ini tercipta ketika Sultan Agung memerintah kesultanan Mataram pada tahun 1613-1645 saat bersemedi. Kemudian, dia mendengar dengungan dari langit dan langsung takjub.

Kemudian, dia memanggil pengawalnya dan menceritakan semua yang telah terjadi. Kemudian, ia menciptakan sebuah tarian yang disebut tari bedhaya ketawayang.

Pada tahun 1755 terjadi pembagian wilayah. Hal ini berdampak pada tari Bedhaya yang akhirnya diturunkan ke Kasunanan Surakarta.

Perkembangan tarian ini masih dilakukan pada saat penobatan dan peringatan kenaikan tahta Sunan Surakarta.

Uniknya, dalam memainkan tarian ini harus gadis yang suci dan tidak dalam keadaan sedang haid, karena tarian ini dianggap sebagai tarian yang sakral dan sakral.

Pakaian yang digunakan penari dalam Tari Bedhaya Ketawang adalah pakaian yang digunakan oleh pengantin wanita Jawa yaitu Dodot Ageng atau biasa disebut Basahan.

Sedangkan untuk bagian rambut, gunakan lilitan Bokor Mengkurep yaitu lilitan besar.

Untuk mempercantik penampilan, penari memakai aksesoris perhiasan antara lain centhung, garudha mungkur, sisir jeram saajar, cundhuk mentul, dan Tiba dhadha (rangkaian bunga yang dikenakan pada lilitan, yang memanjang ke dada kanan).

Tari Bedhaya Ketawang diiringi musik gending ketawang agung dengan nada pelog. Alat musik yang digunakan antara lain kemanak, gong, kendhang, dan kethuk.

5. Tari golek

golek

(foto: instagram)

Tari Golek adalah tarian tradisional Jawa Tengah yang konon diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX setelah menonton pertunjukan wayang kulit menak.

Tarian ini pertama kali dimainkan di istana pada hari ulang tahun sultan pada tahun 1943.

Busana yang dikenakan penari terinspirasi dari Wayang Golek Menak Kayu, semua tokohnya memakai baju lengan panjang, sedangkan cara berpakaiannya menggunakan metode rampekan, kampuhan, ringgan, dan seredan sesuai dengan tokoh yang dihadirkan.

6. Tari Dolalak

dolalak

(foto: instagram)

Tarian tradisional Jawa Tengah yang terakhir adalah tari dolalak. Tarian ini merupakan peninggalan dari belanda, tidak heran ketika menampilkan tarian ini para penarinya memakai kostum seperti yang dikenakan oleh tentara belanda.

Konon tari dolalak tercipta karena terinspirasi dari pesta tentara Belanda. Kemudian sekitar tahun 1940, tarian ini dikembangkan sebagai tujuan keagamaan dan politik untuk melawan pasukan Belanda.

Tarian ini dulunya hanya dipentaskan pada malam hari saat diadakan acara seperti syukuran, khitanan, dan acara lainnya.

Namun seiring perkembangan zaman, tarian ini dimodifikasi sedemikian rupa agar lepas dari bayang-bayang Belanda.

Kostum dan alat peraga yang digunakan penari saat melakukan tari Dolakak adalah berlengan panjang dan bercelana pendek berwarna hitam. Ciri khas dari kostum ini adalah warna emas pada bagian dada dan punggung.

Saat ini tarian ini semakin dikenal oleh masyarakat luas, hal ini dibuktikan dengan kemunculan tarian ini di beberapa acara resmi maupun tidak resmi seperti peringatan hari raya kemerdekaan Republik Indonesia, Jambore Pramuka, hingga pertunjukan budaya antar daerah.

Itulah beberapa jenis tarian tradisional Jawa Tengah yang unik dan bersejarah. Sebagai generasi penerus bangsa, kita harus selalu melestarikan keanekaragaman budaya Indonesia, salah satunya dengan belajar tari tradisional.