Tradisi Subak, Sistem Irigasi Sawah di Bali yang Terlihat Indah

Apa yang paling mudah kamu ingat tentang Bali? Bali memang terkenal dengan banyak hal, khususnya wisata dan budayanya.

Salah satu warisan budaya di Bali adalah sistem irigasi Subak yang terlihat indah dengan hamparan sawah hijau.

Masyarakat Bali sudah mengenal dan melestarikannya sejak ratusan tahun lalu sampai sekarang. Bukan hanya indah, tapi tradisi ini juga menjunjung tinggi nilai budaya dan lingkungan.

Pakar pertanian di dunia juga sudah mengakui keunggulannya. Tidak banyak yang tahu bagaimana filosofi di dalamnya, karena kebanyakan hanya menikmati dari kejauhan yang terlihat sangat indah. Inilah penjelasan tentang tradisi Subak.

Baca juga: Asal usul Kata OK, Bahasa Gaul yang Tercipta Sejak Tahun 1839

Berperan penting dalam mengelola persawahan yang sejalan dengan agama

(foto: wartaekonomi)

Diperkirakan bahwa masyarakat Bali sudah mengenal tradisi Subak sejak abad ke-11 M.

Untuk keterangan tertulisnya pertama kali ditemukan di dalam Prasasti Sukawarna tertanda tahun 882 Çaka. Era Çaka dihitung mulai tahun 78 M.

Di sana tertulis ‘huma’ untuk menyebutkan ladang yang berpindah. Ada juga prasasti Trunyan 891 Çaka yang tertulis kata ‘serdanu’ yang artinya ketua yang mengelola urusan air danau.

Dalam prasasti juga tertulis istilah ‘kasuwakan’, yang dalam khazanah bahasa Bali menjadi ‘kasubakan’.

Kasubakan berarti organisasi subak atau suatu wilayah irigasi. Di dalam prasasti juga dijelaskan bahwa ada kelompok khusus pekerja persawahan di Bali yang punya keahlian membuat terowongan air.

Bukan hanya sebuah organisasi pengelola irigasi, tapi Subak juga berperan penting mengendalikan produksi pangan dan ekosistem sawah yang sejalan dengan nilai-nilai keagamaan.

Dijalankan dengan hukum adat yang diwariskan oleh leluhur di masa lalu

Tradisi Subak, Sistem Irigasi Sawah di Bali yang Terlihat Indah

(foto: posbali)

Kontur pegunungan Bali memang tidak memudahkan urusan irigasi, apalagi populasi penduduknya padat.

Jadi, sumber air harus dikelola sedemikian rupa dengan prinsip harmoni, keadilan, kebersamaan, dan keterbukaan sesuai kepentingan masyarakat.

Dengan gabungan semua unsur-unsur tersebut, maka tradisi Subak di Bali dinilai paling efisien dalam hal mengelola pertanian padi.

Sistem irigasinya mencakup lahan di teras pegunungan agar dapat mengatur pengairan di lahan sawah.

Dalam melaksanakan sistem Subak, pengurusnya menganut hukum adat yang telah diwariskan leluhur. Hukum adat disusun menurut ajaran Tri Hita Karana, yang berarti ‘tiga hal yang sebabkan kesejahteraan’.

Ketiga faktor kesejahteraan yang disebutkan tersebut yakni hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, hubungan harmonis antara manusia dengan sesama manusia, dan hubungan harmonis manusia dengan lingkungannya

Baca juga: Pawang Hujan, Ritual Masyarakat untuk Mengendalikan Cuaca

Dilaksanakan dengan cara bergilir dan kontinyu yang adil untuk petani

Tradisi Subak, Sistem Irigasi Sawah di Bali yang Terlihat Indah

(foto: travelwriter)

Menurut BPS, Pada tahun 2009 jumlah sawah di Bali yang menerapkan tradisi Subak ada 1546, kemudian  meningkat 1599 pada tahun 2013.

Untuk menjalankannya ada beberapa perangkat yang punya fungsi masing-masing, mulai dari pekaseh (ketua), petajuh (wakil ketua), penyarikan (sekretaris), petengen (juru raksa), kasinoman (kurir), dan beberapa perangkat tambahan yang lain.

Lalu bagaimana sistem ini bekerja? Cara kerjanya adalah dengan metode irigasi bergilir dan kontinyu. Petani dibagi ke dalam 2-3 kelompok persawahan. Masing-masing kelompok persawahan akan menerima distribusi air secara adil.

Menurut bahasa setempat, metode bergilir disebut dengan nugel bumbung.

Tentang cara menanamnya, para petani masih melakukan sistem tanam padi secara tradisional tanpa tambahan pupuk kimia atau pestisida, karena lanskap keseluruhannya dianggap suci.

Karena pertumbuhan penduduk, pelaksanaan sistem Subak tidak mudah

Sistem Irigasi Sawah di Bali yang Terlihat Indah

(foto: adobe)

Pada zaman sekarang tidak mudah untuk melaksanakan sistem Subak dengan ideal. Salah satu tantangannya adalah karena pertumbuhan penduduknya yang pesat, seperti masalah konservasi pada umumnya.

Diketahui bahwa luas lahan persawahan di Bali pada tahun 2003 adalah 81.870 ha, kemudian pada tahun 2017 menurun menjadi 78.626 ha.

Begitu juga denga hasil panen yang menurut BPS mengalami penurunan 13,15 persen pada tahun 2018.

Bukan hanya masalah lahan, tapi juga karena ada hal-hal baru yang dianggap lebih menjanjikan dibanding mengelola lahan pertanian.

Proyek alih fungsi lahan juga sudah biasa dilakukan, dari sawah menjadi bangunan industri, pemukiman, atau tempat wisata. Walau bagaimanapun, UNESCO sudah mengakui Subak menjadi salah satu warisan budaya dunia.