Pahlawan Indonesia, Pilot Amerika Bob Freeberg Hilang Misterius

Begitu banyak pejuang yang berjasa untuk Indonesia dalam meraih kemerdekaan. Bukan hanya kaum pribumi, tapi juga mancanegara.

Pernah tercatat adanya pejuang dari negara lain yang rela berkorban untuk Indonesia karena panggilan hati nurani. Beberapa di antaranya adalah tentara musuh yang membelot dari barisannya untuk berbalik membela Indonesia.

Tapi ada juga orang yang seolah-olah datang begitu saja secara tiba-tiba dan meninggalkan jejaknya sendiri yang bersejarah.

Salah satu sosok dari negara lain yang berjasa di masa awal Indonesia baru merdeka adalah Bob Freeberg, seorang pilot Amerika Serikat.

Meskipun namanya tidak banyak disebut dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, tapi pengorbanannya yang tulus bisa meninggalkan kesan tersendiri.

Baca juga: Uniknya Fly Geyser, Air Mancur Fenomenal yang Memancar dari Batu Warna-warni

Menerobos blokade Belanda dan menjalankan misi penerbangan gelap (black flight)

(foto: observerid)

Presiden Soekarno dalam buku biografi Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia dari Cindy Adams
pernah mengatakan bahwa Bob Freeberg yang saat itu berusia 26 tahun bersimpati pada perjuangan bangsa Indonesia.

Pada suatu hari, seorang pemuda muncul dan memperkenalkan dirinya.  “Namaku Bob Freeberg. Aku orang Amerika. Aku seorang pilot dan menaruh simpati pada perjuangan Anda. Bantuan apa yang dapat kuberikan?”

Bob Freeberg atau Robert Earl Freeberg adalah seorang pilot bayaran dari Kansas, Amerika Serikat yang penuh
keberanian untuk terbang menerobos blokade Belanda dari udara.

Beberapa kali ia menjalankan operasi yang disebut penerbangan gelap (black flight). Mengapa disebut penerbangan gelap?

Karena selain mengangkut hasil alam seperti bubuk kina, ia dikabarkan menjalankan misi penyelundupan opium Indonesia ke luar negeri.

Kemudian ia menukarnya dengan senjata atau harta benda lainnya yang dibutuhkan Indonesia. Hasil dari penyelundupan diberikan ke pemerintah untuk mendanai negara yang baru merdeka.

Sempat menjadi pilot pesawat tempur pada Perang Dunia II

Pernah Berjuang demi Indonesia, Pilot Amerika Bob Freeberg Hilang Misterius

(foto: nationalww2museum)

Tidak pernah punya kepentingan apa pun, seolah-olah ia memang ditakdirkan untuk datang dan membantu perjuangan Indonesia.

Dikenal dengan sifatnya yang idealis, ia sebenarnya merupakan mantan pilot pesawat tempur Angkatan Laut Amerika Serikat ketika Perang Dunia II.

Begitu perang sudah selesai, ia menjadi seorang pilot carter di Filipina, yakni di Commercial Air Lines Incorporated.

Suatu hari dalam perjalanan ke Singapura, ia bertemu dengan Mayor Petit Muharto dari AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia). Ia menyampaikan keinginan untuk membantu Indonesia melalui penerbangan.

Dengan tabungannya, ia membeli pesawat DC-3 Dakota yang kemudian diberi nama menjadi RI-002. RI-002 adalah sebuah pesawat angkut yang dapat disewa. Saat itu Indonesia belum memiliki pesawat angkut.

Baca juga: Mengenal Anunnaki, Sosok Alien dari Bangsa Sumeria yang Kontroversial

Pernah mengantarkan presiden Soekarno saat bertemu rakyat di Sumatera

Pernah Berjuang demi Indonesia, Pilot Amerika Bob Freeberg Hilang Misterius

(foto: observerid)

Selain membantu mendatangkan senjata, ia juga membantu operasi penerjunan yang pertama dilakukan oleh AURI.
Pada tanggal 17 Oktober 1947, ia membawa RI-002 dari Bandara Yogyakarta ke Kotawaringin, Kalimantan Tengah.

Saat itu sebanyak 12 prajurit AURI diterjunkan TNI untuk melakukan perlawanan dengan menerobos blokade Belanda.

Ia pun pernah mengantarkan presiden Soekarno saat keliling Sumatera untuk bertemu rakyat yang ingin menyumbang untuk negara.

Dari rakyat Aceh yang menyumbang sebesar 20 kg emas pemerintah pun bisa membeli pesawat yang kemudian didaftarkan dengan nomor RI-001.

Mengalami nasib tragis di usianya yang masih muda karena kecelakaan pesawat

Pernah Berjuang demi Indonesia, Pilot Amerika Bob Freeberg Hilang Misterius

(foto: udinus)

Meskipun Bob seorang pilot bayaran, tapi keterlibatannya dalam proses perjuangan Indonesia tidak tanggung-tanggung. Ia tidak ingin perlakuan Belanda yang sewenang-wenang pada rakyat Indonesia terus berlanjut.

Dikutip dari smithsonianmagz, ia sering mengabari keluarganya di Amerika Serikat tentang rasa hormatnya untuk Indonesia.

“Sangat menakjubkan melihat rakyat Indonesia memperjuangkan kemerdekaan mereka,” tulisnya pada keluarganya dalam sebuah surat.

Sayang sekali nasibnya harus berakhir dengan tragis di saat usianya masih muda. Pesawat yang dibawanya mengalami kecelakaan ketika mengirim 20 kg emas serta bantuan untuk gerilya ke Palembang.

Peristiwa naas yang menimpanya terjadi pada tanggal 29 September 1948, Pesawat Dakota miliknya jatuh dan jasadnya hilang secara misterius di hutan Lampung utara.