Sejarah Wig, Tren Rambut Palsu Kebanggaan Bangsa Eropa Kuno –

Tuntutan gaya dalam berpakaian, secara langsung juga berpengaruh pada gaya rambut. Banyak orang menginginkan potongan rambut yang sesuai dengan pakaian atau tema acara tertentu.

Wig atau rambut palsu menjadi pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan penampilan. Menggunakan wig jauh lebih mudah daripada harus mengubah rambut asli berkali-kali yang berisiko merusak kesehatan rambut.

Sejarah wig sendiri telah digunakan sejak ribuan tahun lalu di berbagai peradaban di berbagai belahan dunia. Bukan hanya untuk bergaya, tapi juga menunjukkan status sosial.

Baca juga: Jarang Diketahui, Begini Cara Konversi Ukuran Sepatu Antarnegara

Wig di Mesir kuno dipakai untuk melindungi kepala yang botak

(foto: ancient-origins)

Di era Mesir Kuno banyak penduduk yang membotakkan kepala mereka dengan berbagai macam alasan. Pertama untuk menghindari serangan kutu rambut dan kedua untuk bertahan di tengah cuaca yang panas.

Pada zaman dahulu wig digunakan untuk melindungi kepala penduduk yang botak dari sinar matahari. Selain itu, wig juga biasa dimanfaatkan untuk menunjang penampilan diri.

Lebih dari itu, bahan baku untuk membuat wig juga bisa menunjukan status sosial seseorang di lingkungannya. Semakin rumit dan tebal maka status sosialnya semakin tinggi.

Berbeda dengan laki-laki berkepala botak, perempuan di masa itu memakai wig dengan bentuk kepang yang dilengkapi dengan ornamen gading, emas, atau cincin rambut.

Dengan begitu, wig bagi perempuan terlihat lebih gaya daripada laki-laki.

Wig yang tebal juga dipakai untuk pertunjukan di Asia timur

Sejarah Wig, Tren Rambut Palsu Kebanggaan Bangsa Eropa Kuno

(foto: pinterest)

Peradaban lainnya yang diketahui memakai wig adalah Asia, Yunani Kuno, dan Romawi.

Di negara-negara Asia timur seperti Korea, China, dan Jepang wig dimanfaatkan untuk menunjang pertunjukan seperti kabuki Jepang, Geisha, Kisaeng Korea, atau teater tradisional China.

Di zaman Romawi, perempuan dari kalangan atas sering menggunakan wig yang terbuat dari potongan rambut anak buah mereka.

Potongan rambut tersebut dirangkai dan digabungkan satu per satu sampai tebal. Ketebalan wig ini sangat mempengaruhi gaya rambut yang sedang tren saat itu.

Sementara itu, di Eropa sekitar Abad Pertengahan saat berbagai macam hal yang berhubungan dengan kecantikan dilarang, wig digunakan oleh perempuan untuk menutup kepala.

Baca juga: Hutan Dayeuhluhur, Lokasi Misterius dan Terlarang Untuk Pejabat

Menjadi fashion item yang penting di kalangan bangsawan Eropa

Sejarah Wig, Tren Rambut Palsu Kebanggaan Bangsa Eropa Kuno

(foto: lewigs)

Tren di Eropa berakhir saat mulai masuk Abad Renaissance. Di abad ke-14 sampai 17 Masehi, gaya rambut kembali menjadi tren hingga perempuan kembali menunjukan rambut mereka.

Tidak hanya itu, perempuan kala itu juga menghiasi rambut mereka menggunakan perhiasan dan kerudung yang berkilau.

Abad Renaissance merupakan masa di mana kecantikan kembali menjadi hal yang dipertimbangkan dalam masyarakat dan wig mulai digunakan sebagai fashion.

Raja Perancis Lous XIII memiliki peran penting dalam kembalinya tren sejarah wig di daratan Eropa. Dia memiliki penyakit kebotakan yang menggerogoti rambut di kepalanya. Ia menggunakan wig untuk menutupi kebotakannya.

Di mulai dari situ, wig hadir dalam gaya berpakaian bangasawan Perancis dan menjadi item fashion yang penting.

Saat Revolusi Perancis, sekitar awal abad ke-19, di Perancis dan Amerika Serikat, wig tidak lagi dianggap sebagai simbol yang menunjukan status sosial penggunanya.

Di Inggris, sejarah wig menjadi ciri khas untuk pakaian penegak hukum

Sejarah Wig, Tren Rambut Palsu Kebanggaan Bangsa Eropa Kuno

(foto: pinterest)

Selain Perancis, negara lain yang juga menambahkan wig dalam kebudayaannya adalah Inggris. Negara Ratu Elizabeth tersebut menjadikan wig sebagai ciri khas pakaian penegak hukum di pengadilan.

Tujuannya agar lebih mudah membedakan posisi masing-masing pihak dalam pengadilan. Inggris kemudian membawa tradisi penggunaan wig ke negara-negara jajahan mereka seperti Kanada, Afrika, dan Australia.

Waktu terus berlalu, zaman serta model pun berubah. Sekarang wig tidak lagi menjadi tradisi, menunjukan kedudukan atau pun status sosial seseorang.

Wig, adalah bagian dari fashion yang bisa digunakan oleh siapa saja di seluruh dunia. Model dan warna dari wig pun terus berkembang hingga semakin banyak variasi baru yang muncul dari tahun ke tahun.