Banyak Manfaatnya, Buah Kenitu Asli Indonesia Sekarang Jarang Ditemukan

Mungkin kamu sudah sering menemukan tumbuhan yang bermanfaat bagi kesehatan, mulai dari bagian akar, daun, batang, bunga, sampai buahnya.

Kenitu adalah salah satu buah yang memiliki banyak manfaat. Rasanya juga manis dan menyegarkan. Daging buahnya berwarna putih, bertekstur lembut, dan cocok untuk yang sedang diet.

Baca juga: Kisah Amul Huzni, Tahun Duka Cita yang Dialami oleh Nabi Muhammad SAW

Bisa tumbuh di beberapa wilayah Indonesia dan punya nama sebutan lain

(foto: bangisman)

Buah kenitu pada umumnya memiliki kulit cukup tebal berwarna hijau, tapi ada juga yang berwarna kecoklatan dan ungu. Buah ini termasuk kelompok Sapotaceae atau sawo-sawoan.

Beberapa daerah di Indonesia menyebutnya berbeda-beda misalnya apel ijo atau sawo ijo di Jawa, sawo hejo di tanah Sunda, atau sawo manila di Lampung.

Dalam bahasa Indonesia, buah ini juga sering disebut dengan sawo duren.

Meskipun namanya cukup beragam dan mengambil nama-nama buah lain seperti apel dan sawo, sebenarnya teksturnya lebih mirip seperti manggis tapi lebih encer.

Memang buahnya mengandung nutrisi yang baik untuk kesehatan, ternyata masih banyak masyarakat yang belum mengetahui. Padahal sebenarnya kenitu bisa tumbuh di banyak wilayah di Indonesia.

Bisa dinikmati secara langsung atau menjadi campuran bahan es krim

Banyak Manfaatnya, Buah Kenitu Asli Indonesia Sekarang Jarang Ditemukan

(foto: watyutink)

Pada umumnya, buah kenitu tumbuh di sejumlah negara yang beriklim tropis, bersuhu hangat atau cenderung panas. Selain di Indonesia, buah ini juga bisa berkembang di beberapa negara Asia Tenggara.

Kebanyakan yang menjualnya adalah pasar-pasar tradisional karena memang kenitu adalah termasuk buah-buahan lokal.

Saat sudah matang, kulitnya berwarna hijau dan kecoklatan, buahnya tidak keras dan bisa langsung dimakan dengan membelahnya.

Misalnya tidak ingin langsung memakannya, sebaiknya disimpan di lemari es dengan temperatur 0°C demi menjaganya agar tetap segar.

Tapi sebaiknya tidak menyimpannya selama lebih dari 15 hari, karena bisa mengurangi kadar nutrisinya.

Bukan hanya bisa dinikmati secara langsung, tapi buahnya yang manis dan kaya nutrisi juga banyak diambil untuk campuran saat membuat es krim.

Baca juga: Sejarah Air Zam-zam, Berawal dari Hentakan Kaki Nabi Ismail dan Tidak Pernah Surut

Kandungan nutrisinya beragam dan bermanfaat untuk mengobati diabetes mellitus

Banyak Manfaatnya, Buah Kenitu Asli Indonesia Sekarang Jarang Ditemukan

(foto: pinterest)

Meskipun tidak lebih terkenal dari buah-buahan impor, tapi buah kenitu memiliki kandungan nutrisi yang cukup lengkap dan dibutuhkan oleh tubuh.

Mulai dari vitaminnya yang beragam seperti vitamin A, vitamin B, dan vitamin C yang lengkap.

Zat karotennya akan memberi manfaat untuk kesehatan mata. Daging buahnya yang lembut memiliki kadar air yang lebih dari 70%. Begitu juga serat yang baik untuk pencernaan.

Apalagi kadar gulanya juga aman, bahkan bisa berfungsi untuk obat anti diabetes yang alami. Sebenarnya sudah pernah ada penelitian yang menemukan kandungan buah dan daunnya untuk mengobati diabetes mellitus.

Terlepas dari kandungannya, sampai sekarang di tanah air belum banyak dikembangkan obat diabetes mellitus berbahan buah kenitu.

Harganya dianggap mahal oleh pembeli dan tidak mudah untuk dibudidayakan

Banyak Manfaatnya, Buah Kenitu Asli Indonesia Sekarang Jarang Ditemukan

(foto: ngalam)

Mengapa buah kenitu menjadi kian langka walau sebenarnya dari segi rasa dan manfaat tidak kalah dari buah lain yang terkenal di masyarakat?

Sebagai buah lokal, orang yang menjualnya bisa dibilang terbatas. Lapak pedagang buah tidak selalu menyediakan buah ini karena buahnya juga bersifat musiman.

Beberapa pedagang buah di Jawa Timur menyebut bahwa jika ada permintaan buah kenitu, maka harus mengambil langsung dari Madura.

Harga ecerannya 15 ribu per kg. Sebagian pembeli menganggap harganya relatif mahal untuk ukuran buah ‘liar’, sehingga lebih memilih buah yang lain.

Masyarakat petani pun tidak banyak yang membudidayakannya, karena secara ekonomi kurang menguntungkan dan juga butuh perawatan ekstra.

Meski belum bisa dibudidayakan efektif, saat ini pohon-pohon kenitu masih tumbuh liar di beberapa wilayah pedesaan di Indonesia.