Keunikan Suku Baduy, Menjunjung Tinggi Adat & Ingin Wilayahnya Dihapus dari Tujuan Wisata

Suku Baduy atau orang Kanekes adalah suku asli yang mendiami Kabupaten Lebak, Banten. Terletak di kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes.

Suku ini terbagi menjadi dua, yaitu Suku Baduy Luar dan Suku Baduy Dalam. Perbedaannya terletak pada cara kedua suku ini menjalankan aturan adat. Suku Baduy Dalam masih memegang teguh adat istiadat, sedangkan Baduy Luar sudah terkontaminasi budaya asing.

Terlihat dari warga Suku Baduy Luar sudah ada barang elektronik dan sabun, menerima tamu baik dari dalam maupun luar negeri dan memperbolehkan tamu untuk menginap.

Dalam hal berpakaian juga berbeda. Penduduk suku Baduy Dalam mengenakan pakaian berwarna putih yang melambangkan kesucian dan tidak terpengaruh oleh dunia luar. Sedangkan Baduy Luar memakai pakaian berwarna hitam.

Sebagai salah satu suku asli dalam satu daerah, masyarakat Baduy juga memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri. Bahkan, banyak wisatawan yang tertarik mengunjungi kawasan Baduy.

Namun ternyata hal ini membuat masyarakat Baduy merasa tidak nyaman. Berikut fakta-fakta tentang Suku Baduy.

Baca juga: Mengenal Kamar 39, Organisasi Misterius Korea Utara yang Ditugaskan Bela Harta Milik Kim Jong Un

Mata pencaharian masyarakat Baduy yang bergantung pada alam

(foto: viva)

Suku Baduy Dalam mendiami tiga desa, yaitu Cikeusik, Cikertawana dan Cibeo. Warga juga dipimpin oleh seorang tokoh adat bernama Pu’un.

Pu’un ini bertugas menentukan waktu tanam dan panen, menerapkan hukum adat dan mengobati orang sakit.

Dalam tugasnya, Pu’un dibantu oleh Jaro sebagai wakilnya. Sedangkan Baduy Luar tinggal di 50 desa berbeda di Kawasan Pegunungan Kendeng.

Berbicara tentang profesi utama orang Baduy, mereka hidup dengan bertani. Kondisi alam sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup mereka.

Hidup berdampingan dengan alam membuat masyarakat Baduy sangat peduli terhadap kelestarian alam. Berbagai aturan diterapkan dan harus dipatuhi.

Beberapa di antaranya adalah larangan ketat penggunaan bahan kimia. Sabun dan pasta gigi yang mengandung bahan kimia juga dilarang. Tak hanya itu, ada larangan tegas membuang sampah, terutama plastik di sungai.

Dalam praktik bertani, warga di sana juga tidak menggunakan sapi atau kerbau untuk mengolah lahan. Mereka juga melarang keras anjing memasuki kawasan pemukiman demi menjaga kelestarian alam.

Suku Baduy juga memelihara ayam dan akan menyembelihnya pada hari-hari tertentu seperti upacara adat atau hari pernikahan.

Rumah sederhana namun tahan bencana

Ingin Wilayahnya Dicabut dari Destinasi Wisata, Inilah Keunikan Suku Baduy Yang Menjunjung Adat

(foto: indonesiakaya)

Orang Baduy tinggal di rumah yang sangat sederhana. Atapnya dari ilalang dan dindingnya dari rotan. Rumah ini juga disebut Sulah Nyanda.

Sepintas, orang akan melihat rumah ini rapuh namun nyatanya tahan gempa. Dilaporkan dari boomastis, ketika Banten diguncang gempa yang merobohkan sebuah bangunan beton, tempat tinggal orang Baduy itu masih berdiri kokoh.

Selain bahan baku yang didapat dari alam, rumah-rumah ini juga memiliki ciri khas lainnya. Itu tidak menghadap ke utara atau selatan.

Catatan bagi pengunjung, jika tidak ada minat khusus, sebaiknya jangan berjalan masuk ke dalam rumah karena dianggap tidak sopan.

Baca juga: Ibnu Sina, Dokter Muslim Penghasut Metode Karantina

Menjunjung tinggi adat dan menjauhkan diri dari dunia modern

Ingin Wilayahnya Dicabut dari Destinasi Wisata, Inilah Keunikan Suku Baduy Yang Menjunjung Adat

(foto: kompas)

Orang Baduy sangat menghormati adat. Dalam menjalankan perintah nenek moyang, mereka juga melawan pengaruh luar.

Mereka juga menolak usulan pemerintah untuk membangun sekolah, akibatnya banyak yang tidak bisa membaca dan menulis, terutama Baduy Dalam.

Dalam kesehariannya, warga disana juga menjunjung tinggi gotong royong dan hidup sederhana. Di Baduy Dalam, rumah dibuat menyerupai. Perbedaan status sosial tetap ada, terlihat dari jumlah mebel gerabah yang dimiliki.

Setiap perempuan Baduy harus bisa menenun. Kain tenun lembut digunakan untuk pakaian sedangkan yang kasar untuk ikat kepala atau ikat pinggang.

Selain digunakan sendiri, warga juga memperdagangkan hasil tenun kepada wisatawan yang berkunjung. Selain menenun, para warha suku Baduy juga membuat tas dari kulit pohon terep yang disebut koja atau jarog.

Mengenai perjodohan, seorang gadis berusia 14 tahun akan dipasangkan dengan seorang pria yang juga dari suku. Dalam hal perjodohan, orang tua laki-laki memiliki kebebasan untuk memilih menantunya.

Belum terjamah oleh dunia modern, transportasi seperti sepeda motor atau bahkan sepeda tidak akan ada. Ketika mereka bepergian, mereka akan berjalan. Baik untuk pergi ke sawah, rumah kerabat atau bepergian ke ibukota provinsi.

Saat berkunjung ke daerah lain, mereka biasanya berjalan secara berkelompok yang terdiri dari 3 sampai 5 orang. Biasanya bepergian ke daerah lain untuk bersilaturahmi atau menjual hasil bumi.

Minta Presiden untuk menghapus wilayah mereka sebagai tujuan wisata

Ingin Wilayahnya Dicabut dari Destinasi Wisata, Inilah Keunikan Suku Baduy Yang Menjunjung Adat

(foto: kompas)

Senin (6/7/2020) lalu, Lembaga Adat Baduy Banten melalui perwakilannya mengirimkan surat kepada Presiden Joko Widodo. Dalam surat itu, mereka meminta agar kawasan itu dihapus dari peta destinasi wisata.

Tidak hanya ke Presiden, surat itu juga dikirimkan ke Gubernur Banten, Bupati Lebak, dan kementerian terkait. Mereka bahkan meminta pemerintah untuk membantu menghapus pencarian untuk wilayah mereka dari Google.

Dilaporkan dari Kompas, aplikasi ini ditujukan karena kunjungan wisatawan di Baduy ternyata menimbulkan masalah baru. Salah satunya adalah sampah yang dihasilkan pengunjung hingga tersebarnya foto-foto kawasan Baduy Dalam di internet.

Seperti diketahui, kawasan Baduy Dalam merupakan kawasan keramat. Pengunjung juga dilarang mengambil foto di sana.

Dilaporkan dari Tempo, Tahun 2019, Suku Baduy dengan tegas menolak dana desa sebesar Rp 2,5 miliar yang dikucurkan pemerintah.

Dana tersebut sebenarnya ditujukan untuk pembangunan infrastruktur guna mendukung pertumbuhan ekonomi. Namun, warga menolak dengan alasan pembangunan justru akan merusak kelestarian adat.