Sejarah Sunan Kalijaga, Wali Songo yang Pernah Jadi Begal

Sunan Kalijaga adalah salah satu tokoh Wali Songo yang berperan penting dalam perkembangan agama Islam di Indonesia, khususnya di Jawa.

Dengan pendekatan yang santun dan sesuai adat istiadat setempat, Sunan Kalijaga sangat dihormati  masyarakat. Tapi ternyata kehidupannya tidak lurus-lurus saja.

Sebelum jadi wali, ternyata ia sering berbuat onar, sampai pernah diusir keluarganya.

Pertemuan dengan Sunan Bonang kemudian mengubah hidupnya selamanya. Sepenggal kisahnya berikut ini bisa menjadi inspirasi bagi kita semua.

Baca juga: Mengenal Quokka, Hewan Paling Bahagia di Dunia yang Suka Difoto

Nama Sunan Kalijaga didapat saat dewasa, setelah menjalani ujian dari gurunya

(foto: jejakpiknik)

Sebelum dikenal sebagai salah satu tokoh Wali Songo dan mendapat gelar Sunan, nama asli Sunan Kalijaga waktu kecil adalah Raden Said atau Raden Syahid. Ia terlahir sebagai keturunan bangsawan tahun 1455 M.

Ayahnya punya jabatan sebagai Adipati Tuban keturunan Ranggalawe. Ada beberapa versi tentang asal usul nama Sunan Kalijaga.

Masyarakat di Cirebon punya pendapat bahwa namanya berasal dari nama dusun Kalijaga di Cirebon yang pernah ditempatinya.

Ada lagi sebagian golongan yang menghubungkan dengan tugasnya untuk menjaga amanah yang telah diberikan oleh Sunan Bonang yang merupakan gurunya.

Gurunya memberi ujian sebagai tanda kesetiaan dan kesungguhan dalam mempelajari agama Islam. Ini juga terkait dengan ujiannya untuk berkhalwat di tepi sungai di Cirebon.

Diusir keluarganya setelah ketahuan melakukan aksi perampokan, walau bukan untuk diri sendiri

Sejarah Sunan Kalijaga, Wali Songo yang Pernah Jadi Begal

(foto: beritapas)

Sejak muda ia bisa membaur ke siapa saja. Bukan hanya dikenal dekat dengan para pejabat, tapi juga dengan masyarakat pada umumnya.

Aktivitasnya dengan kalangan bangsawan istana tidak mengurangi kepeduliannya kepada rakyat.

Banyak bantuan ia berikan ke rakyat seperti memberi solusi berbagai masalah kemudian mengajar di daerah-daerah. Kepeduliannya untuk membantu masyarakat justru hampir menyesatkannya.

Dikisahkah bahwa masa mudanya sempat menjadi sosok brandal yang merampok para pejabat atau orang kaya yang senang berfoya-foya.

Bukan untuk diri sendiri, tapi tujuannya adalah membagi-bagikan hasilnya untuk rakyat miskin. Aksinya diketahui oleh sang ayah.

Jelas bahwa keluarganya marah dan malu karena nama baiknya ikut tercoreng. Diusirlah ia dari kediaman keluarga besar.

Sebelumnya ia juga sempat membongkar isi gudang milik kadipaten dan membagi-bagikan ke orang-orang yang membutuhkan.

Baca juga: Kisah Nabi Zulkifli, Teladan untuk Jadi Pemimpin yang Sabar

Mendapat pencerahan setelah bertemu Sunan Bonang dan berjuang di jalan dakwah

Sejarah TOkoh Wali Songo yang Pernah Jadi Begal

(foto: pinterest)

Kehidupan masyarakat Tuban cukup memprihatinkan akibat kemarau panjang dan adanya sistem upeti.

Ketika diusir dari rumah, aksi pembegalan ke orang-orang kaya di Tuban tidak berhenti. Alhasil ia dipaksa angkat kaki dari kampung halaman sendiri.

Setelah itu, ia tidak hanya mengambil harta orang kaya yang gemar foya-foya, tapi juga tega untuk membegal orang yang sudah tua. Suatu hari ia bertemu seseorang di daerah hutan Jati Wangi sebelah barat Tuban.

Seseorang tua yang pernah dibegalnya ternyata Sunan Bonang. Pertemuannya dengan Sunan Bonang justru membawanya kepada pencerahan hidup.

Ia segera sadar bahwa perbuatannya meskipun terlihat mulia, tapi tetap saja merupakan suatu jalan yang sesat.

Sunan Bonang mengangkatnya jadi murid, tapi ada satu syarat, yakni ia harus semedi di tepi sungai sampai pada saatnya Sunan Bonang kembali lagi.

Setelah melewati proses panjang untuk berguru dan menjadi santri, ia pun bisa menjadi pendakwah.

Lebih banyak berdakwah di Jawa dengan media kesenian seperti wayang dan gamelan

Sejarah TOkoh Wali Songo yang Pernah Jadi Begal

(foto: ganaislamika)

Cara dakwahnya unik, karena yang digunakan untuk memperkenalkan ajaran Islam ke masyarakat adalah wayang dan gamelan.

Melalui kidung berbahasa Jawa, masyarakat diajaknya untuk lebih mengenal Islam dan lebih dekat dengan Allah.

Kidung yang populer sampai sekarang adalah Ilir-ilir dan Kidung rumekso ing nguni. Kepedulian pada tradisi dan kesenian juga sangat tinggi.

Berbagai macam kesenian yang disukai masyarakat kemudian ditambahkan atau disesuaikan dengan unsur keislaman di dalamnya.

Contohnya adalah wayang yang pada awalnya menunjukkan gambar manusia utuh, kemudian diubah jadi sebuah gambar mati atau visualisasi dari samping.

Wayang kemudian menjadi media untuk menanamkan tauhid, syariat, dan nilai-nilai akhlak yang Islami. Inilah yang kemudian menjadi momen tumbuhnya masyarakat Islam moderat di Jawa.