Cerita di Balik Ki Ageng Selo, Si Penangkap Petir Inspirasi Cerita Gundala

Ki Ageng Selo adalah salah satu sosok penting dan bersejarah, khususnya bagi masyarakat Jawa. Ia termasuk tokoh yang ikut andil menyebarkan agama Islam di tanah Jawa.

Setiap tahun makamnya sering didatangi oleh warga yang ingin berziarah. Berdasarkan naskah Babad Tanah Jawi, ia adalah keturunan kerajaan Majapahit.

Di tengah masyarakat sekitar, ia sempat menjadi petani yang dermawan, memiliki banyak ilmu dan kesaktian sampai bisa menangkap petir.

Kisahnya sebagai penangkap petir di zaman modern menginspirasi cerita Gundala Putra Petir.

Mendengar namanya yang masih termasyhur sampai sekarang, ada baiknya kita mengenal lebih jauh tentang sosok Ki Ageng Selo.

Baca juga: Asal Usul sunat, Sudah Dipraktikkan di Beberapa Bangsa Kuno

Merupakan keturunan Majapahit yang bercita-cita menjadi prajurit kerajaan Demak

(foto: pinterest)

Sosok Ki Ageng Solo adalah salah satu cucu Raja Majapahit yang terakhir. Kelahirannya tidak diketahui tanggal tepatnya. Tapi diperkirakan ia terlahir di abad ke-15 atau awal abad ke-16.

Menurut Pepali Ki Ageng Selo (1957) yang pernah diterjemahkan oleh R.M Soetardi Soeryohoedoyo, ia juga merupakan leluhur Panembahan Senopati yang mendirikan Kerajaan Mataram Islam. Kehidupannya bersamaan dengan periode Kerajaan Demak.

Saat masih remaja, ia ingin jadi seorang prajurit Korps Prajurit Tamtama di Kerajaan Demak. Tapi cita-citanya tidak terwujud karena ia tidak lulus saat diuji mengalahkan banteng.

Diduga ia takut untuk melihat cucuran darah, sampai ia palingkan muka ketika masih berlangsung pertarungan.

Merasa malu, ia berusaha ciptakan kesibukannya sendiri. Ia memilih mengasingkan diri dan angkat kaki dari desanya kemudian pergi ke Tawangharjo, Purwodadi, Jawa Tengah.

Setelah pergi dari tanah kelahiran, meninggalkan jejak yang baik di desa Selo

Kisah Ki Ageng Selo, Si Penangkap Petir Inspirasi Cerita Gundala

(foto: medcom)

Di tempat baru ia membaur bersama warga pedesaan dengan menjadi petani. Setiap masa panen, ia selalu menyisihkan hasil panen untuk tetangga yang membutuhkan.

Tapi, sebenarnya ia mengemban misi khusus untuk mendalami agama, ilmu filsafat, dan berbagai ilmu kehidupan.

Ia juga tanamkan pengaruh pada masyarakat melalui syair yang ditulisnya sebagai Pepali. Pepali kemudian diwariskan ke keturunannya dalam bentuk kitab yang berisi tentang didikan tata krama, kebatinan, dan spiritual.

Khusus tentang filsafat yang dipelajari dan diajarkannya, ternyata merupakan gabungan unsur-unsur agama Islam dan agama Hindu.

Pengaruhnya besar sampai mengubah desa yang ditempatinya menjadi desa Selo. Ternyata keputusannya untuk mengembara menjadi sejarah yang penting.

Ia berhasil meninggalkan jejak yang baik dengan mulai membangun Kerajaan Mataram Islam. Meskipun tidak diwujudkan oleh dirinya sendiri, melainkan lewat cicitnya yang bernama Sutawijaya.

Baca juga: Kisah Si Pitung, Jagoan dari Betawi Pembela Rakyat di Zaman Belanda

Dianggap memiliki kesaktian untuk menangkap petir berbentuk naga

Kisah Ki Ageng Selo, Si Penangkap Petir Inspirasi Cerita Gundala

(foto: pixabay)

Bagaimana tentang kisah Ki Ageng Selo sebagai penangkap petir? Melalui tradisi lisan Jawa Tengah, dikisahkan bahwa suatu hari ia tengah mencangkul di sawah. Langit tampak mendung, hujan turun, dan petir menyambar tiba-tiba.

Tapi, karena kesaktiannya, ia bisa menangkap petir yang punya wujud naga. Konon, petir bisa ditangkap dan diikat ke pohon gandrik.

Melalui kisah inilah berkembang sebuah mitos tentang kalimat yang dipercaya menghindarkan dari petir oleh sebagian warga sekitar Gunung Merapi dan Gunung Merbabu.

“Gandrik, aku iki putune Ki Ageng Selo!”

Kalimat tersebut berarti ‘Gandrik, aku ini cucunya Ki Ageng Selo’. Saat dibawa ke Sultan Demak, petir berwujud naga tiba-tiba berubah jadi seorang kakek tua yang dikurung Sultan untuk jadi tontonan rakyat di alun-alun.

Masyarakat masih menghormatinya dan sering berziarah ke makamnya

Kisah Ki Ageng Selo, Si Penangkap Petir Inspirasi Cerita Gundala

(foto: pariwisatagrobogan)

Masyarakat pun percaya pada cerita legenda penangkapan petir, selaras dengan sebuah ukiran di pintu Masjid Agung Demak, yaitu pintu bernama bledeg. Bledeg dalam bahasa Indonesia adalah petir.

Angka 1388 S atau 1466 M yang tertera pada pintu diyakini menjadi asal usul pembangunan Masjid Agung Demak.

Kisahnya memang dikategorikan menjadi legenda dan kemampuannya menangkap petir dianggap sebagai metafora.

Tapi namanya masih dikenal sampai sekarang dan kemampuan ajaibnya dianggap sebagai keistimewaan atau karomah.

Itulah mengapa makamnya di belakang Masjid Ageng Selo, Grobongan, Jawa Tengah masih sering dikunjungi para peziarah.

Karena nilai-nilai luhur yang bersejarah, komikus Harya Suraminata menciptakan cerita Gundala Putra Petir.

Gundala atau gundolo berarti petir. Sutradara Joko Anwar juga menggarapnya menjadi film layar lebar dengan judul yang sama, Gundala (2019). Keduanya mendapat inspirasi dari kisah legenda Ki Ageng Selo.