Reconquista, Upaya Pengahapusan Pengaruh Islam di Wilayah Eropa

Sejak runtuhnya Kesultanan Granada pada tahun 1492, sejarah peradaban Islam di Eropa pun berakhir. Padahal sebelumnya pernah mewariskan kejayaan di Andalusia pada abad 7-15 Masehi.

Upaya penghapusan pengaruh Islam di Eropa itu tak lepas dari bersatunya Raja Ferdinand dan Ratu Isabella untuk memperkuat kekuasaan.

Sejarah mencatat namanya sebagai penguasa kejam yang pernah membantai orang-orang Islam yang ada di Eropa, khususnya Andalusia, Spanyol.

Akhir dari sejarah peradaban Islam di wilayah Eropa itu dikenal dengan Reconquista.

Baca juga : Ziryab si Burung Hitam, Seniman Muslim Multitalenta yang Menginspirasi Eropa

Peristiwa Reconquista dimulai sejak penaklukan Cordoba

(foto: radioclaret)

Peristiwa ini berlangsung sangat lama. Dimulai sejak penaklukan Cordoba di tahun 1236 lalu Sevilla di tahun 1248.

Situasi politik memanas saat Kesultanan Granada bertempur dengan Kerajaan Kristen Spanyol pada tahun 1482.

Saat itu pasukan Granada masih punya keberanian dan semangat juang yang tinggi, meski kekuatan materialnya kalah jauh.

Menurut catatan para Sejarawan Spanyol, mereka mencurahkan jiwa raga dalam peperangan, layaknya seorang pahlawan dengan tekad kuat mempertahankan diri dan bangsa mereka.

Masyarakat sipil di Granada pun ikut serta di dalam perang mempertahankan peradaban mereka di Andalusia.

Kesultanan Granada melemah karena pergolakan politik internal

Reconquista, Upaya Pengahapusan Pengaruh Islam di Wilayah Eropa

(foto: eltiempo)

Meskipun terlihat kuat, saat itu pihak Kesultanan Granada justru mengalami pergolakan di dalam politik internal.

Para gubernur dan pemipinnya saling sikut karena ambisi berbeda-beda. Bahkan ada usaha untuk saling menjatuhkan satu dengan yang lain.

Ada pula diantara mereka yang menjadi mata-mata pasukan Kristen Eropa lantaran adanya imbalan, kekayaan, dan iming-iming kekuasaan.

Bahkan di tengah masa-masa gejolak itu, Sultan Muhammad yang merupakan anak Sultan Granada justru melancarkan pemberontakan kepada ayahnya di tahun 1483. Peristiwa itu mendorong terjadinya perang saudara.

Raja Ferdinand memanfaatkan situasi untuk melemahkan Granada

Reconquista, Upaya Pengahapusan Pengaruh Islam di Wilayah Eropa

(foto: britannica)

Menyadari situasi ini, Raja Ferdinand yang sudah menikah denga Ratu Isabella menyusun strategi untuk menjadikan Granada semakin melemah.

Ia seolah berpihak untuk mendukung Sultan Muhammad yang memberontak kepada Sultan Granada.

Raja Ferdinand mengerahkan pasukan untuk ikut berperang dengan Sultan Muhammad XII dan menyerang ayahnya.

Alhasil, Sultan Muhammad XII yang juga dikenal dengan Boabdil atas bantuan Raja Ferdinand memang berhasil menguasai Granada.

Tapi kekuasaannya hanyalah terbatas pada wilayah pusat Kota Granada yang relatif kecil. Wilayah pedesaan yang lebih besar menjadi milik Raja Ferdinand.

Baca juga : Al Khawarizmi, Ilmuwan Muslim Penemu Angka Nol yang Jadi Rujukan Ahli Matematika Dunia

Reconquista membuat Kesultanan Granada akhirnya runtuh pada tahun 1492

  Upaya Pengahapusan Pengaruh Islam di Wilayah Eropa

(foto: archaeologywiki)

Tak berlangsung lama sesudah Boabdil berhasil menguasai wilayah Granada, Raja Ferdinand mengirimkan sebuah surat yang berisi tentang perintah untuk menyerahkan Granada.

Sultan terkejut atas isi surat dari Raja Ferdinand. Ternyata Ferdinand hanya memanfaatkannya untuk merebut kekuasaan Granada.

Boabdil tidak menyerah begitu saja. Ia sempat bersekutu dengan prajurit Islam dari Timur Tengah dan Afrika Utara. Tapi, bantuan kekuatan yang diupayakannya itu tidak banyak membantu

Akhir tahun 1491, Kesultanan Granada semakin terkepung. Granada pun diserang oleh pasukan Raja Ferdinand.

Saat itulah Boabdil dipaksa menandatangani surat persetujuan untuk menyerahkan Granada.

Kesultanan Granada runtuh ketika Alhambra diserang

 Upaya Pengahapusan Pengaruh Islam di Wilayah Eropa

(foto: britannica)

Tahun berikutnya pasukan Raja Ferdinand kembali menyerang Kota Granada dengan memasuki bangunan istana Alhambra.

Bahkan mereka pun segera menancapkan bendera salib dan simbol-simbol kerajaan sebagai sebuah tanda kemenangan.

Saat itu 2 Januari 1492 benar-benar mencekam. Rakyat Granada tidak ada keberanian untuk keluar rumah.

Sultan Muhammad pun diasingkan. Bahkan setelah peristiwa itu orang-orang Islam terpaksa meninggalkan Andalusia.

Sejak runtuhnya Kesultananan Granada saat itu, peradaban Islam di Eropa yang telah berlangsung sepanjang beberapa abad lamanya itu berakhir.